Kesehatan pun jadi Tantangan Calhaj Jatim

id calon haji, calhaj jatim, kesehatan, embarkasi haji, hamil, sakit

Kesehatan pun jadi Tantangan Calhaj Jatim

Anggota Komisi IX DPR Gatot Sudjito (ketiga kanan) beserta anggota lainnya menjenguk calon jemaah haji yang dirawat di klinik kesehatan Asrma Haji Sukolilo Surabaya, Jawa Timur, Kamis (27/8). Kunjungan tersebut guna melihat secara langsung kondisi da

Karena itu, pemerintah harus mengoptimalkan pemeriksaan kesehatan pada calhaj di daerah
"Saya pergi haji untuk menemani istri, Dalila (66), karena saya sudah pernah sekali beribadah haji," ucap Calon Haji (Calhaj) Banyuwangi KH Sanusi (92) yang merupakan calhaj tertua di Embarkasi Surabaya itu.

Pria kelahiran Desa Silir Agung, Banyuwangi pada 23 November 1923, yang telah berangkat dengan Kloter 8 pada 26 Agustus 2015 itu, mengaku dirinya pertama kali ke Tanah Suci pada tahun 1988.

"Saat itu, saya juga mendaftarkan istri untuk pergi haji, namun pada tahun 1988 itu hanya nama saya saja yang dipanggil oleh petugas, lalu ia mendaftar lagi haji pada tahun 2009 dengan istrinya dan tahun ini (2015) bisa berangkat bersama," tuturnya.

Awalnya, dirinya yang dipanggil untuk berangkat tahun 2010, karena dianggap lanjut usia (lansia), sedangkan istrinya belum  dipanggil, karena itu dirinya minta ditunda keberangkatannya sampai nama istrinya dipanggil.

"Akhirnya, tahun inilah istri dipanggil dan kami bisa berdua pergi melaksanakan ibadah haji. Senang bisa ke Tanah Suci bersama istri," ujar lelaki yang memiliki tujuh anak, 14 orang cucu dan empat cicit itu sembari tersenyum.

Ditanya rahasia kesehatannya, ia hanya berucap "Alhamdulillah". "Alhamdulillah, saya diparingi (diberi) kesehatan. Nggak ada rahasianya, cuma bawa nasi putih sama telur godhog (rebus) ke Mekkah," paparnya, tertawa.

Ya, Sanusi merupakan calhaj tertua di Embarkasi Surabaya yang kini telah berada di Tanah Suci bersama sang istri, namun calhaj yang tergolong tua di Embarkasi Surabaya cukup banyak pada tahun ini.

"Kami mencatat 60 persen dari 27.323 calhaj Jatim tergolong 'risti' (risiko tinggi) secara kesehatan, meski hanya 20 persen yang risti berat," kata Kabid Kesehatan PPIH Embarkasi Surabaya, dr Susanto MSH SpKP, kepada Antara di Surabaya, 24 Agustus 2015.

Dampaknya, Calhaj Jatim untuk pemberangkatan gelombang pertama sejak 21 Agustus hingga 3 September 2015 menyebabkan tiga calhaj yang batal berangkat akibat faktor kesehatan, bahkan lima Calhaj Jatim telah wafat di Tanah Suci hingga Rabu (2/9).

"Tiga calhaj itu ada yang hamil, ada calhaj yang gila, dan ada calhaj yang pasca-operasi otak," tukas dr Susanto MSH SpKP yang juga Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Perak, Surabaya itu.

Pada 28 Agustus 2015, Panitia Penyelenggara Kesehatan Haji (PPKH) Embarkasi Surabaya telah memulangkan seorang calon haji (calhaj) bernama Erna Latifah Usroh (43) asal Jombang, karena diketahui hamil 4-5 minggu.

"Calhaj hamil itu boleh berangkat ke Tanah Suci, tapi kalau usia kehamilannya 14-26 minggu, sedangkan kurang atau lebih dari itu cukup rawan, karena kalau terlalu muda akan rawan keguguran, sedangkan kalau terlalu tua justru bisa melahirkan di negara orang," kata dokter piket Poliklinik Embarkasi Surabaya, dr Suharnoto.

Calhaj yang mengalami gangguan mental itu berasal dari Pacitan/Kloter 4 yakni Sartimah (56), sedangkan calhaj yang masih sakit setelah menjalani bedah otak (stroke) di daerahnya adalah Sono Harjo (78) dari Madiun/Kloter 5.

    
Optimalkan Kesehatan Daerah

Ya, masalah kesehatan juga menjadi hal yang penting diperhatikan, kendati tahun ini juga ada persoalan visa yang membuat puluhan Calhaj Jatim tertunda keberangkatannya untuk menunggu penyelesaian masalah surat izin masuk negara lain (visa) itu.

Masalah kesehatan itu pula yang menjadi salah satu catatan Tim Komisi IX DPR yang membidangi masalah kesehatan dalam kunjungan kerja ke Asrama Haji Embarkasi Surabaya, 27 Agustus 2015.

Tim Komisi IX DPR menilai pemeriksaan kesehatan pada calon haji di tingkat daerah belum optimal, sehingga pemeriksaan kesehatan di tingkat embarkasi menjadi lama dan membuat calhaj bisa kelelahan.

"Karena itu, pemerintah harus mengoptimalkan pemeriksaan kesehatan pada calhaj di daerah," kata Ketua Rombongan Komisi IX DPR Ahmad Riski Sadiq di sela inspeksi mendadak bersama rekannya, yakni H Handayani SKM (PKB), Drs H Gatot Sujito MSi (Golkar), M Sarmudji SE MSi (Golkar), dan Hj Nihayatul Wafiroh MA (PKB).

Riski yang politisi PAN itu mencontohkan pemeriksaan kesehatan ulang bisa dilakukan calhaj sekitar sebulan sebelum berangkat, baik di puskesmas, poliklinik, maupun rumah sakit daerah.

"Masalahnya mungkin terkait otonomi daerah, karena itu Kemenag atau Kemenkes bisa melakukan koordinasi dengan Kemendagri agar optimalisasi pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan menjelang keberangkatan, karena kalau kecolongan ya negara kita juga yang malu," katanya.

Ia menyebut dua dampak yang fatal bila pemeriksaan kesehatan tidak bisa tuntas di tingkat daerah, yakni pemeriksaan kesehatan di tingkat embarkasi akan memakan waktu lama, sehingga calhaj dirugikan, karena calhaj bisa mudah kelelahan sebelum terbang ke Tanah Suci.

Selain itu, pemeriksaan kesehatan di tingkat daerah yang tidak tuntas akan berdampak pada kemungkinan pemeriksaan kesehatan bisa "kecolongan", meskipun tingkat kecolongan itu semakin tahun semakin menurun.

"Lebih dari itu, kecolongan akan memicu pemberitaan yang mencoreng nama baik pemerintah, karena itu koordinasi untuk optimalisasi pemeriksaan kesehatan di tingkat daerah itu sangat penting," katanya.

Namun, Panitia Penyelenggara Kesehatan Haji (PPKH) Embarkasi Surabaya yang dikomandani dr Susanto agaknya tidak hanya mau menunggu jalinan koordinasi lintas-kementerian itu, sebab banyaknya jumlah calhaj yang lansia merupakan fakta yang juga ada pada tahun ini.

"Apalagi, musim haji tahun 2015 ditandai dengan cuaca ekstrem di Tanah Suci, sedangkan banyak calon haji yang tua, karena itu perlu langkah-langkah yang tepat," kata dokter yang juga mendukung perlunya optimalisasi pemeriksaan kesehatan calhaj di tingkat daerah itu.

Oleh karena itu, dr Susanto yang sudah berpengalaman menangani masalah kesehatan calhaj sejak tiga tahunan itu pun meminta jajaran kesehatan memerhatikan cuaca di Tanah Suci pada musim haji tahun ini yang dilaporkan mencapai 43-45 derajat itu guna diantisipasi sedini mungkin.

"Kami sudah memberi imbauan sejak di daerah hingga ke asrama haji untuk memberikan perhatian khusus terhadap cuaca panas dan kering di Tanah Suci itu. Cara terbaik adalah jangan telat minum dan jangan terlalu capek. Itu harus disampaikan terus-menerus kepada calhaj," ucapnya. (*)
Pewarta :
Editor: FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar