Surabaya (Antara Jatim) - Komisi C Bidang Pembangunan DPRD Kota Surabaya melakukan sidak ke sejumlah rumah pompa untuk mengetahui dan melihat langsung kesiapan mesin pompa dan petugas pompa air saat memasuki musim hujan. "Kami ingin membuktikan bagaimana kinerja mesin pompa yang ada di rumah-rumah pompa serta petugasnya. Jangan sampai saat hujan deras ternyata rumah pompa tidak berfungsi," kata Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Syaifuddin Zuhri, saat sidak di rumah pompa Dupak, Senin. Ia berpesan kepada petugas jaga rumah pompa agar waspada saat musim hujan. Selain itu juga terus memantau kinerja mesin saat tidak dioperasionalkan. "Jadi, ketika mesin pompa tidak dipakai, tetap dicek. Jangan sampai pas dibutuhkan atau pas hujan, ternyata mogok atau tidak berfungsi. Ini kan membahayakan," katanya. Sementara di rumah pompa Jambangan, para legislator mengharapkan mampu untuk mengurangi debit genangan yang terjadi ketika hujan di kawasan tersebut. Dengan begitu pemukiman yang biasanya selama ini tergenang akan bisa lepas dari gangguan genangan. "Pompa air Jambangan kan dekat dengan Kali Surabaya. Jadi, airnya bisa dilimpahkan ke sana bila ada banjir di kawasan tersebut," katanya. Wakil ketua Komisi C DPRD Surabaya Camelia Habiba mengatakan komisinya tidak hanya menyidak kesiapaan rumah pompa, namun juga melihat kondisi saluran serta drainase utama serta saluran-saluran sekunder lainnya. "Saluran juga tidak kalah penting. Kalau sampai saluran tertutup sampah atau tersumbat maka bisa berakibat banjir," katanya. Camelia mengatakan beberapa saluran tidak berfungsi secara maksimalseperti yang ada di kawasan Manyar Kertoarjo. Di kawasan tersebut banyak berdiri tempat kuliner dan hotel. "Saluran di Manyar Kertoarjo sudah berubah fungsi. Atasnya berubah menjadi tempat parkir, padahal fungsi saluran yakni menjamin kelancaran aliran air saat musim hujan lancar. Kita akan cek fungsi saluran-saluran tersebut. Apakah betul-betul berfungsi," katanya. Pada tahun 2014, anggaran yang dialokasikan untuk antisipasi banjir yakni untuk posko pengendalian dan penanggulangan banjir sebesar Rp3,2 miliar. Namun, hingga akhir tahun, anggaran itu hanya terpakai sebesar Rp684 juta atau sekitar 20 persen. (*)


Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026