Bojonegoro (Antara Jatim) - Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, meminta jajaran pemkab menyesuaikan program kegiatan terkait mundurnya musim hujan di daerah setempat dari perkiraan awal November menjadi pertengahan November. "Kami meminta seluruh jajaran pemkab menyesuaikan program kegiatannya terkait mundurnya musim hujan," Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemkab Bojonegoro Tedjo Sukmono, di Bojonegoro, Rabu. Ia menjelaskan pihaknya menerima laporan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda, Surabaya, yang berisi mundurnya musim hujan di daerahnya, Selasa (4/11). Dalam surat itu, disebutkan daerah Bojonegoro dan sekitarnya akan masuk musim hujan pada November dasarian II. "Perkiraan awal masuknya musim hujan November dasarian I," ucapnya. Oleh karena itu, menurut dia, jajaran pemkab, mulai, Dinas Pengairan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), juga yang lainnya, menyesuaikan dengan kondisi mulainya awal musim hujan. "Penanganan bencana kekeringan juga akan mundur, termasuk jadwal musim tanam tanaman padi, sehingga perlu ada sosialisasi kepada para petani," paparnya. Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial dan Peningkatan Kesejahteraan Sosial Disnakertransos Bojonegoro, Dwi Harningsih, menjelaskan pihaknya sudah menghentikan bantuan air bersih kepada warga yang mengalami kekeringan, sejak pekan lalu. "Alokasi anggaran Rp50 juta untuk pengadaan air bersih sudah habis. Kami sudah mendistribusikan 250 tangki air bersih (5.000/tangki) kepada warga," jelasnya. Meski demikian, katanya, pendistribusian air bersih kepada warga yang terkena dampak kekeringan masih dilakukan BPBD. "Pemkab memberlakukan status siaga bencana kekeringan sampai pertengahan November. Kalau memang awal musim hujan mundur, kemungkinan status siaga bencana kekeringan akan diperpanjang," kata Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPB Bojonegoro Sukirno, menambahkan. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026