Bojonegoro (Antara Jatim) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, mengusulkan pemisahan manejemen penyertaan modal atau "participating interest" (PI) antara minyak dan gas Blok Cepu, kepada Mobil Cepu Limited (MCL), agar daerah penghasil bisa segera memperoleh keuntungan. "Usulan pemisahan manajemen antara minyak dan gas kepada MCL itu, dengan mempertimbangkan pengelolaan gas Blok Cepu masih belum jelas," kata Direktur PT Asri Dharma Sejahtera (ADS), BUMD milik Pemkab Bojonegoro, Ganesha Asykari, di Bojonegoro, Kamis. Menurut dia, ketidakjelasan pengelolaan gas Blok Cepu, karena PT Pupuk Kujang dan Pertamina, yang memperoleh penawaran sebagai pembeli gas Cepu belum sepakat soal harga. "Kalau gas kita lepas sesuai harga pembelian PT Pupuk Kujang jelas kita rugi," ucapnya. Lebih lanjut ia menjelaskan kalau manajemen antara minyak dan gas dipisahkan, maka daerah penghasil segera memperoleh keuntungan, kalau uang penyertaan modal berikut bunga delapan persen sudah kembali. "Perolehan keuntungan daerah dalam PI minyak yang semula kita perhitungan awal 2015, juga akan mundur berkisar 2016, karena ada jadwal penyelesaian pembangunan proyek Blok Cepu mundur," paparnya. Lebih lanjut ia menjelaskan Bupati Bojonegoro Suyoto, sudah mengirimkan surat kepada PT Surya Energie Raya (SER) milik Surya Paloh mengenai usulan pemisahan manajemen antara PI minyak dan gas, untuk disampaikan kepada operator migas Mobil Cepu Limited (MCL). "Tapi sampai sampai saat ini PT SER, selaku penyandang dana PI migas Blok Cepu belum memberikan jawaban soal pemisahan manajemen antara minyak dan gas Blok Cepu," katanya, menegaskan. Ia menyebutkan PT ADS, yang bekerja sama dengan PT Surya Energie Raya (SER) Jakarta, selaku penyandang dana, sampai saat ini sudah menyetorkan penyertaan modal kepada operator Mobil Cepu Limited (MCL) sebesar Rp1 triliun lebih. "Tapi Bojonegoro sudah memperoleh keuntungan dari penyertaan modal migas Blok Cepu, karena lapangan minyak Blok Cepu sudah berproduksi 30 ribu barel/hari," tandasnya. Hanya saja, menurut dia, keuntungan yang diperoleh masih dimanfaatkan untuk membayar penyertaan modal dengan cara dipotong oleh operator Mobil Cepu Limited (MCL). Ia menambahkan sesuai "plant of development" (POD), pengelolaan gas di sejumlah lapangan di daerahnya membutuhkan dana sebesar 3 miliar dolar Amerika Serikat. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026