Oleh Diah Ayu Restuti Wulandari ST MT *) Ketika kita mendengar kata "green architecture" atau arsitektur hijau, kebanyakan yang ada dibenak kita yaitu menanam banyak vegetasi di rumah semata. Padahal, apabila kita kaji lebih jauh, arsitektur hijau lebih dalam artinya. Konsep ini bahkan dapat dijadikan filosofi hidup yang bukan sekadar trend musiman belaka yang dapat digantikan oleh trend-trend lain seiring perkembangan dunia arsitektur. Jadi, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan konstruksi hijau tersebut ? Bagaimana cara mewujudkannya dalam sebuah hunian perkotaan yang identik dengan kondisi lingkungan serba padat, penuh polusi, penuh ruang-ruang dan bangunan yang tidak beraturan ? Faktanya, penghuni kota semakin tidak peduli dengan itu, dimana hal ini dibuktikan dengan semakin sempitnya area hijau karena menganggap hal tersebut tidak terlalu penting dibandingkan bangunan-bangunan yang lebih komersial ?. Baiklah, sekarang kita akan memulai dengan penjelasan mengenai "green architecture". Konsep ini biasanya disebut juga dengan arsitektur hijau, yakni merupakan desain yang mempertanggungjawabkan kelestarian dari lingkungan sekitar dan mempunyai konstruksi yang ramah lingkungan. Ya, konsep ini tidak hanya mengintegrasikan fasad bangunan yang hijau dan banyak tanaman, tetapi membangun sebuah bangunan yang berkelanjutan yakni bangunan yang hemat energi dan ramah lingkungan. Bagaimana cara mewujudkannya ?. Konsep arsitektur hijau dalam hunian dapat diwujudkan dengan menjalankan prinsip recycle, reuse dan reduce di seluruh area yang dipadukan dengan konsep fleksibilitas ruang, optimalisasi ruang dan pemanfaatan organisasi ruang sebagai konsep hunian, sehingga nantinya akan memberikan investasi hidup sehat dan meningkatkan kualitas ekologi baik dalam bangunan itu sendiri maupun lingkungan. Namun, sebelum memasukkan konsep "green architecture" tersebut ada baiknya kita menganalisa terlebih dahulu bahwa sebenarnya kebutuhan ruang manusia tidaklah terlalu banyak Jika benar-benar mencermati kebiasaan dan aktivitas yang terjadi di dalam rumah, sebuah keluarga tidak memerlukan banyak ruang, apalagi yang dibatasi oleh dinding. Recycle untuk investasi hidup sehat dilakukan dengan mendaur ulang air hujan menjadi air cadangan bagi rumah untuk digunakan kembali oleh penghuni untuk mandi maupun mencuci baju. sementara itu untuk toilet flushing, menyiram kebun dan mencuci mobil kita bisa memanfaatkan grey water (air buangan sisa cuci piring, baju maupun sabun) yang diolah dengan cara memodifikasi pekarangan rumah yang telah ada dengan membentuk galian berbentuk U untuk mengalirkan air sisa buangan tersebut. Kemudian untuk pengolahannya sendiri kita hanya menyerahkannya pada akar tanaman hias air saja sebelum akhirnya bisa digunakan kembali. Reuse untuk filosofi yang berkelanjutan dilakukan dengan menggunakan kembali material bambu dan papan sisa dari tahapan konstruksi seperti papan bekisting dan bambu perancah sebagai material fasade rumah. Selain itu kita bisa menggunakan sisa pipa pvc, botol air mineral bekas dan potongan-potongan kayu untuk membuat kebun sayur hidroponik sebagai aplikasi dari urban farming yakni pertanian di lahan sempit untuk memenuhi kebutuhan pangan, perbaikan kualitas udara dan sekaligus sebagai partisi pada eksterior rumah. Reduce untuk perbaikan kualitas ekologi diterapkan dengan mereduksi CO2 dan memproduksi O2 lebih banyak serta mengurangi penggunaan listrik untuk operasional bangunan melalui konsep "free flowing space" dan penerapan ventilasi silang di beberapa ruangan. Apakah free flowing space itu? Free flowing space merupakan konsep open plan yakni mengurangi area terbangun dengan cara merancang sesedikit mungkin dinding masif pembatas pada ruang-ruang dalam sehingga program ruangannya lebih efektif dan hemat pemakaian lahan supaya cahaya dapat masuk dengan optimal. Untuk pemisahan ruangnya sendiri kita bisa mengganti dinding masif tersebut dengan menggunakan partisi bambu dan sedikit permainan dalam penataan furniture sehingga ruang terasa lega dan luas. (*). ---------------------------------- *) Penulis adalah dosen teknik sipil Universitas Narotama (Unnar) Surabaya.


Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2026