Bojonegoro (Antara Jatim) - PT Bangkit Bangun Sarana, salah satu BUMD milik Pemkab Bojonegoro, Jawa Timur, siap mengelola lapangan sumur minyak tua peninggalan Belanda di Kecamatan Kedewan dan Malo, sebagai usaha menertibkan pengelolaan lapangan sumur minyak.
"Kami siap mengelola lapangan sumur minyak tua di Bojonegoro tanpa harus merugikan penambang," kata Direktur PT BBS Bojonegoro Deddy Affidick, Kamis.
Namun, menurut dia, pengelolaan lapangan sumur minyak tua tetap harus memperoleh persetujuan pemilik wilayah kuasa pertambangan lapangan sumur minyak tua yaitu Pertamina Cepu, Jawa Tengah.
"Pemkab sudah menyetujui PT BBS ikut mengelola lapangan sumur minyak tua itu, bahkan PT BBS sudah diminta menyiapkan konsep pengelolaan lapangan sumur minyak," katanya.
Ia menilai kondisi lingkungan lapangan sumur minyak tua di Kecamatan Kedewan dan Malo sudah tidak terjaga, di antaranya disebabkan para penambang minyak membuang sisa buangan air yang masih bercampur minyak ke sungai setempat.
"Karena dibuang ke sungai akhirnya larinya tetap ke Bengawan Solo, sehingga menimbulkan pencemaran," tandasnya.
Di lain pihak, katanya, pemkab juga tidak bisa mengontrol masuknya investor yang ikut melakukan pengelolaan sumur minyak tua. "Banyak investor yang ikut mengelola sumur minyak tua tanpa seizin pemkab, sehingga sangat merugikan," tandasnya.
Yang jelas, menurut dia, konsep pengelolaan lapangan sumur minyak tua di daerah setempat akan dilakukan tanpa meninggalkan para penambang minyak yang pertama kali mengelola sumur minyak tua.
"Paling tidak imbalan jasa pengambilan minyak mentah harus disisihkan untuk biaya kesehatan penambang," ucapnya.
Data yang diperoleh, di Desa Wonocolo, Hargomulyo, dan Beji, di Kecamatan Kedewan, yang masuk kawasan hutan KPH Parengan, Tuban, terdapat 236 sumur minyak tua peninggalan Belanda.
Produksi sumur minyak tua tersebut, sebagian disetor ke Pertamina Cepu, tetapi sebagian produksi minyak mentah lainnya disuling secara tradisional oleh para penambang untuk dijadikan bahan bakar minyak (BBM). (*)
Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.