Surabaya (Antara Jatim) - Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, kembali mempertahankan Piala Adipura 2014 sebagai daerah terbersih untuk kategori kota sedang, setelah tahun sebelumnya juga memperoleh penghargaan serupa.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menerima penghargaan Adipura tersebut dari Wakil Presiden Boediono di Jakarta, Kamis.
Prestasi Adipura selama dua kali beruntun ini terasa istimewa bagi Kabupaten Banyuwangi, karena pada 2010 sempat dinobatkan sebagai kota terkotor kedua se-Jawa Timur.
Kabupaten berjuluk "The Sunrise of Java" itu terakhir kali mendapatkan Piala Adipura dari pemerintah pada 1996. Sementara pada 2012 baru memperoleh sertifikat Adipura.
"Setelah sempat mendapat predikat sebagai kota terkotor pada 2010, kami terus berbenah hingga mendapat sertifikat Adipura pada 2012, kemudian meningkat menjadi penghargaan Adipura 2013 dan tahun ini," kata Abdullah Azwar Anas.
Anas yang mulai memimpin Kabupaten Banyuwangi pada 2010, mengaku kaget ketika mendapati daerahnya memperoleh predikat sebagai kota terkotor dan langsung mengonsolidasikan kekuatan untuk melakukan pembenahan.
"Gerakan yang kita lakukan waktu itu salah satunya adalah gerakan partisipasi rakyat, yang secara simbolik kita lakukan menyapu jalan secara bersama-sama. Semangatnya tersebar bahwa kita harus bareng-bareng berbenah," ujarnya.
Piala Adipura adalah sebuah penghargaan bagi kota/kabupaten di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan dan pengelolaan lingkungan. Penghargaan didasarkan pada empat kategori wilayah penilaian, yaitu kota metropolitan, kota besar, kota sedang, dan kota kecil.
Banyuwangi yang masuk kategori penerima Piala Adipura untuk kota sedang, merupakan satu dari 28 kabupaten/kota se-Indonesia yang mendapatkan Adipura untuk kedua kalinya beruntun.
Khusus di lingkup Jatim, dari 38 kabupaten/kota, Banyuwangi merupakan kabupaten yang mampu mempertahankan Piala Adipura. Sedangkan lima kabupaten/kota yang tahun lalu meraih Adipura, tapi sekarang gagal mempertahankannya adalah Kabupaten Bondowoso, Pasuruan, Jember, Kota Mojokerto, dan Kota Batu.
Bupati menjelaskan sejumlah inovasi yang telah dilakukan untuk menjaga pengelolaan lingkungan, antara lain program bank sampah, pengolahan sampah, membangun banyak ruang terbuka hijau (RTH), dan apreasiasi untuk para petugas kebersihan melalui insentif dan asuransi.
"Kebersihan daerah menjadi awal dari perwujudan wilayah yang bersih dan layak tinggal. Kami ingin Banyuwangi nyaman, sehat dan semuanya 'happy'," tambahnya.
Sejak tiga tahun terakhir, Pemkab Banyuwangi memfungsikan RTH yang dulu kondisinya kotor, menjadi ruang publik yang bersih dan beberapa RTH diberi fasilitas panggung rakyat untuk berkesenian, lapangan basket, tempat bermain anak, stan kuliner, dan fasilitas penunjang lainnya.
"Tidak hanya di pusat kota, RTH sebagai ruang publik juga dibangun di kecamatan-kecamatan lengkap dengan panggung untuk berkesenian. Sekarang ada 10 RTH sebagai ruang publik, seperti Taman Blambangan, Sayu Wiwit, dan Sri Tanjung," kata Anas. (*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.