Green Farm Banyuwangi jadi tempat riset-inovasi pertanian modern
- 11 September 2026 22:45
Petani muda memanen buah melon premium yang dibudidayakan dengan menerapkan inovasi pertanian berkelanjutan atau sustainable farming di rumah kaca Ladang Arunika, Jogorogo, Ngawi, Jawa Timur, Senin (7/9/2026). Budi daya melon tersebut menggunakan sistem hidroponik irigasi tetes dengan media tanam cocopeat atau serbuk sabut kelapa serta memanfaatkan limbah biomassa sisa panen sehingga lebih ramah lingkungan dan memungkinkan petani membudidayakan beberapa varietas unggul, yakni Fujisawa, Sweetnet, Hami dan Dalmation, yang dapat dipanen hingga empat kali dalam setahun dengan tingkat kemanisan 15-16 brix serta produksi mencapai 1,3 ton setiap panen, yang kemudian dipasarkan dengan harga Rp30.000-Rp45.000 per kilogram melalui wisata petik melon maupun jaringan supermarket di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Antara Jatim/Ari Bowo Sucipto
Pengunjung melakukan swafoto saat mengikuti wisata petik melon yang dibudidayakan dengan menerapkan inovasi pertanian berkelanjutan di rumah kaca Ladang Arunika, Jogorogo, Ngawi, Jawa Timur, Senin (7/9/2026). Budi daya melon tersebut menggunakan sistem hidroponik irigasi tetes dengan media tanam cocopeat atau serbuk sabut kelapa serta memanfaatkan limbah biomassa sisa panen sehingga lebih ramah lingkungan dan memungkinkan petani membudidayakan beberapa varietas unggul, yakni Fujisawa, Sweetnet, Hami dan Dalmation, yang dapat dipanen hingga empat kali dalam setahun dengan tingkat kemanisan 15-16 brix serta produksi mencapai 1,3 ton setiap panen, yang kemudian dipasarkan dengan harga Rp30.000-Rp45.000 per kilogram melalui wisata petik melon maupun jaringan supermarket di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Antara Jatim/Ari Bowo Sucipto
Petani muda memanen buah melon premium yang dibudidayakan dengan menerapkan inovasi pertanian berkelanjutan atau sustainable farming di rumah kaca Ladang Arunika, Jogorogo, Ngawi, Jawa Timur, Senin (7/9/2026). Budi daya melon tersebut menggunakan sistem hidroponik irigasi tetes dengan media tanam cocopeat atau serbuk sabut kelapa serta memanfaatkan limbah biomassa sisa panen sehingga lebih ramah lingkungan dan memungkinkan petani membudidayakan beberapa varietas unggul, yakni Fujisawa, Sweetnet, Hami dan Dalmation, yang dapat dipanen hingga empat kali dalam setahun dengan tingkat kemanisan 15-16 brix serta produksi mencapai 1,3 ton setiap panen, yang kemudian dipasarkan dengan harga Rp30.000-Rp45.000 per kilogram melalui wisata petik melon maupun jaringan supermarket di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Antara Jatim/Ari Bowo Sucipto