Johor dengan Ibu Kota-nya Johor Bahru, Malaysia, dalam kaitan pelesiran hanya mengandalkan obyek wisata buatan dan itupun rata-rata baru dibangun dalam dua-tiga tahun terakhir ini. Obyek wisata buatan mengandalkan "brand" internasional, dikarenakan salah satu negara bagian di Negeri Jiran tersebut minim obyek wisata alam maupun buatan yang khas dan asli "made in" Malaysia, sehingga untuk menjual daerahnya, Johor membuat paket wisata tidak sendiri, tapi dipadukan atau mendompleng dengan negara tetangganya yaitu Singapura. "Ya kalau melancong hanya ke Johor saja ya rugi. Harus sekalian dengan Singapura, Menginap di sini (Johor) melancongnya ke Negeri Singa," ucap Syaefuddin, salah seorang pengelola biro perjalnan wisata di Surabaya, saat menikmati penerbangan perdana Citilink rute Surabaya-Johor Bahru, 15-17 Maret lalu. Menginap di Johor? pasalnya tarif segalanya lebih murah sekitar 40 hingga 50 persen dibanding Singapura. Toh untuk melancong ke Negeri Singa, cukup menyeberang jembatan yang menghubungkan Johor-Singapura sekitar 30 menit, di mana taksi (warna biru) khusus melayani pelancong dari Johor menyeberang Singapura 30-45 ringgit (satu ringgit sekitar Rp3.500), tergantung jenis taksinya, sedan atau MPV (mini bus). Berwisata di Johor bisa menikmati candi (kuil Hindu) terbuat dari kaca, serta "pusing-pusing bandar" atau keliling Kota Johor Bahru di kawasan kota lama. Kalau ingin menikmati sepanjang putar-putar kota coba baca beragam tulisan di pertokoan, tentunya kita akan tersenyum. Misalnya, "tempat perbaikan peti sejuk" (pusat revarasi kulkas), "udara sejuk" (AC), atau kalau di bandara kita menemukan tulisan "bilik orang kenamaan" yang artinya ruang VIP atau "VIP room". Tapi jangan berharap menemukan RS bersalin tertulis "rumah sakit korban lelaki", itu hanya candaan orang Indonesia, karena kosa kata Bahasa Melayu Malaysia yang "lucu" (diartikan). Pelesiran bisa dilanjutkan ke Kota Iskandar, kawasan seluas 12 ribu Ha dikembangkan Pemerintah Jiran dan dikelola semacam badan otorita Batam, sehingga segala telah ditata cukup apik, di mana pemerintah membangun infrastruktur cukup lengkap. Jaringan jalan bebas hambatan tapi tidak bayar (hight way), memudahkan menyusuri Johor Bahru ke Kota Iskandar. Di Kota Iskandar dibangun pusat kerajaan atau pemerintah Johor yang baru, bangunannya umumnya berasitektur Timur Tengah, seperti Masjid Sultan Abu Bakar maupun museumnya, bangunan Sultan Ibrahim. Sedangkan taman wisata internasional seperti Legoland dan gerai Hello Kitty Town, juga tersedia Johor Premium Outlet yang menawarkan beragam barang merk internasional (antarbangsa). Bagi anak-anak, tentunya menikmati wisata petualangan dengan beragam wahana di Legoland mempunyai kesan tersendiri. Beragam wahana permainan seperti yang ada di Water Boom, Dufan atau Jatim Park berada di Legoland Malaysia yang baru beroperasi dua tahun terakhir. Kenapa namanya Kota Iskandar? biasanya di Malaysia gunakan kata Bandar untuk menyebut Kota, tanya Benny Butarbutar, VP corporate Communication Citilink."Mungkin karena Indonesia menggunakan kata Bandar itu negatif artinya, seperti bandar judi, bandar narkoba, sehingga Malaysia kini ikut-ikutan Indonesia gunakan nama Kota," celetuk saya, sambil terbahak. Bila masih ada waktu cukup, bisa menikmati beberapa pulau-pulau kecil dengan "bibir laut" atau pantai yang umumnya berpasir putih berada di timur (Laut China Selatan), seperti pulau Sibu Besar, Sibu Hujung, Pulau Dayang, Pulau Air, Pulau Tinggi, Pulau dayang, Pulau Pemanggil, Pulau Rama. Sementara yang berada di barat (Selat Malaka) ialah Pulau Pisang, Taman Nasional Pulau Kukup. Entah enak apa nggak ya...? menikmati pelancongan di Johor yang "sunyi" ini, pasalnya negara bagian ini hanya berpenduduk sekitar 4 juta jiwa (1,7 juta jiwa di antaranya tinggal di Johor Bahru), sehingga sepanjang perjalanan tidak menemui keramaian atau kemacetan lalu lintas yang berarti bisa...lenggang-lenggang kangkung.(*)


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026