"Jika tidak ada dorongan dari pemerintah kepada warga desa untuk mempertahankan rumah adat itu, maka lambat laun akan habis juga," katanya.
Selain rumah daun, perhatian pemerintah juga perlu untuk alat musik tradisional NTT, Sasando. "Kalau di Eropa ada Harpa, maka di Indonesia ada Sasando, tapi pemerintah sering hanya datang, melihat, dan pergi," ujar pekerja seni Sasando, Berto Paah.
Pembelajar Sasando sejak usia 10 tahun yang hanya tamatan SMA itu mengaku dirinya sudah tiga kali tampil di China, bahkan di Abu Dhabi mendapat gelar dari kerajaan.
Apresiasi lain juga datang dari Belanda, Roma, Abu Dhabi, Jepang, dan sebagainya. "Rencananya, Maret ini (2014), saya ke Jepang. Kalau Amerika memang belum, karena terkendala paspor," ulasnya.
Tidak hanya itu, pihak Malaysia sempat menawari dirinya untuk tinggal di negeri jiran itu dengan fasilitas yang lengkap mulai dari bengkel seni, pusat pelatihan, dan museum.
"Pihak Malaysia juga siap merancang program acara seperti festival, tapi saya tidak bisa meninggalkan ayah sendirian," kilah pemuda yang masih menghormati ayahandanya yang maestro Sasando itu.
Menurut putra pertama dari enam bersaudara yang semuanya pekerja seni Sasando itu, pemerintah sering hanya datang, melihat, dan pergi, padahal apresiasi masyarakat dunia tidak sesederhana itu.
"Jangan sampai kalah dari pihak Malaysia, karena itu jadikan Sasando sebagai musik tradisional dari Indonesia yang paling bisa diterima masyarakat dunia, apalagi Sasando itu unik, sebab alat musik lain dengan melodi kanan, tapi Sasando dengan melodi kiri," timpalnya.
Tentu, perhatian pemerintah harus serius dan bukan sekadar "menjual", melainkan membangun bengkel Sasando yang reprentatif dengan dilengkapi museum, pusat pelatihan, dan pusat cenderamata.
"Kalau perlu ada program untuk mempromosikan, seperti festival di dalam negeri, pengenalan ke berbagai lembaga pendidikan, eksibisi di berbagai belahan dunia, dan sebagainya," papar pekerja seni yang masih lajang itu. (*).
Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.