Kupang (Antara) - Sasando sebagai alat musik tradisional NTT dari Kampung Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kupang, dan rumah daun sebagai rumah adat masyarakat NTT yang antara lain di Desa Sillu, Kecamatan Fatulehu, Kupang, NTT, perlu perhatian pemerintah. "Rumah daun yang terbuat dari bebak atau pelepah kayu dari daun Gewang sejenis batang lontar masih banyak tersebar di sini, tapi sudah banyak yang tergantikan dengan rumah dari bata," kata warga Desa Sillu, Ahmad, kepada Antara di desa setempat, Kamis. Ahmad yang berasal dari Bima, NTB, tapi beristrikan warga desa setempat sejak 27 tahun silam itu mengaku rumah adat yang diberi atap rumbai dari alang-alang itu sudah tidak sebanyak pada 27 tahun lalu. "Karena itu, rumah daun itu perlu perhatian pemerintah, sebab bila jika tidak ada dorongan dari pemerintah kepada warga desa untuk mempertahankan rumah adat itu, maka lambat laun akan habis juga," katanya. Ia mengaku masih teringat tradisi pembangunan rumah daun yang dikerjakan warga secara gotong royong, karena pemilik rumah yang mayoritas miskin itu mendapatkan satu ikat bebak atau alang-alang dari tetangga sekitar yang beramai-ramai membawa dan mengerjakan hingga menjadi rumah. "Rumah daun juga menyatu dengan makam leluhur di sampingnya dan tak jarang juga ada dapur dan kandang ternak," kata warga desa yang sama, Yanti, di sela-sela 'Cultural Day' dalam rangkaian kuliah kerja nyata (KKN) yang melibatkan mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Universitas Kristen Petra Surabaya, dan Newcastle University, Australia. Bahkan, toleransi antaragama juga terjaga pada desa-desa yang mayoritas dihuni masyarakat Kristen itu. "Gereja yang ada di setiap dusun itu sering dijaga warga yang beragama Islam, sebaliknya masjid yang tidak banyak jumlahnya juga dijaga warga Kristiani," katanya. Namun, warga dusun setempat juga mengeluhkan penerangan "solar cell". "Awalnya, warga desa sini mau penerangan solar karena hanya membayar biaya pemasangan sebesar Rp270 ribu, tapi sekarang harus membayar bulanan Rp36 ribu, padahal matahari itu dari Tuhan," katanya. Selain rumah daun, perhatian pemerintah juga perlu untuk alat musik tradisional NTT, Sasando. "Kalau di Eropa ada Harpa, maka di Indonesia ada Sasando, tapi pemerintah sering hanya datang, melihat, dan pergi," kata pekerja seni Sasando, Berto Paah. Warga Kampung Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kupang itu mengaku perhatian pemerintah yang diperlukan adalah membangun bengkel Sasando yang reprentatif dengan dilengkapi museum dan pusat pelatihan. "Jangan sampai kalah dari pihak Malaysia yang sempat menawari kami untuk tinggal di negeri jiran itu dengan fasilitas yang lengkap mulai dari bengkel seni, pusat pelatihan, dan museum, lalu diprogramkan acara seperti festival," kata pemuda yang masih menghormati 'maestro' Sasando, Jeremias A Paah, yang juga ayahandanya itu. (*)


Editor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2026