Kupang (Antara) - Sepuluh mahasiswa dari Newcastle University, Australia, senang mengikuti "Community Outreach Program" (COP) atau kuliah kerja nyata (KKN) di beberapa dusun di Desa Sillu, Kecamatan Fatulehu, Kabupaten Kupang, NTT, 14-28 Januari.
"Saya senang karena di sini bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan. Saya kagum, orang di sini happy dan selalu menyapa, meski hidupnya terbatas," kata mahasiswi Australia, Mellisa Marks, ditemui di PAUD/TK 'Harapan Bangsa' di Dusun II, Desa Sillu, Fatulehu, Kupang, Kamis.
Di sela-sela COP/KKN yang melibatkan 44 mahasiswa Universitas Katholik Widya Mandira (Unwira) Kupang dan 25 mahasiswa Universitas Kristen Petra Surabaya itu, ia menjelaskan orang desa semula malu melihat orang kulit putih, tapi setelah kenal justru dekat. "Orang sini selalu interaksi, meski tidak kenal," katanya.
Selain orangnya, ia juga mengaku senang suasana di desa yang sangat jauh berbeda dengan di negaranya. "Pagi, kami sarapan di rumah mama asuh, lalu berkumpul untuk berbagi tugas dan akhirnya berjalan ke lokasi tugas dengan suasana banyak pohon dan daun-daun," katanya.
Ditanya tugasnya, ia mengatakan dirinya bertugas mengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak PAUD, TK, SD, SMP, dan SMA, sedangkan rekannya laki-laki membangun gedung PAUD yang bangunan aslinya terbuat dari anyaman "gewang" (sejenis batang lontar).
"Kendalanya kalau mengajar di PAUD yang dindingnya dari lontar dan atap seng memang sulit, terutama kalau hujan, sebab suaranya menjadi berisik dan hujan masuk lewat pori-pori dinding dari lontar, tapi anak-anak langsung mendekati saya," katanya.
Senada dengan itu, mahasiswa Newcastle University yang bertugas di Dusun IV (Tuamnamu), Desa Sillu, Fatulehu, Kupang, yakni John Menswill, mengaku kagum dengan kehangatan mama asuh yang sangat baik, meski tidak bisa berbahasa Inggris.
"Keluarga mama asuh sangat hangat, meski kami hanya menyapa dengan bahasa sekadarnya, seperti selamat pagi. Orang-orang di sini juga sangat baik, saya kagum dengan gotong royong untuk membantu kami membangun baik air dan tempat penyulingan air," katanya.
Bahkan, mahasiswa Jurusan Ilmu Lingkungan itu juga mengaku terkesan dengan "Cultural Day" yang disaksikan puluhan warga desa setempat, apalagi mahasiswa Unwira menampilkan tarian "Rangguk Alu" dan makanan khas "Sei Babi" dengan ubi rebus, sedangkan mahasiswa UK Petra menyajikan musik patrol dan nasi pecel.
"Saya dan teman-teman yang hanya diberi waktu seminggu menjelang ke Indonesia akhirnya menyanyikan 'We Are Australian' dan roti "Dempa" dengan rasa manis dan asin. "Kalau asin diberi sambal dan dicelup ke dalam sup daging," katanya.
Sementara itu, koordinator "COP" dari UK Petra Surabaya, Frans Limbong, mengatakan warga desa memang banyak membantu. "Warga yang perempuan membantu memasak nasi untuk kami, sedangkan warga yang laki-laki langsung membantu pekerjaan kami sepulang mereka dari kebun," kata dosen Kewarganegaraan dan Pancasila UK Petra itu.
Ia mengatakan warga desa semula takut melayani orang asing, karena makanan keseharian mereka hanya seadanya. "Lalu, saya katakan, berikan saja apa yang dimakan orang sini, mungkin porsi ditambah saja, karena ada tambahan mahasiswa yang menginap," katanya, didampingi Kepala Humas UK Petra Surabaya, Jandy E Luik MA.Comms.
Dalam kesempatan itu, Kepala Desa Sillu, Yulius Manane, mengucapkan terima kasih atas bantuan para mahasiswa, baik dari Australia, Kupang, maupun Surabaya. "Ini tahun kedua, tahun lalu dibantu pembangunan MCK dan gapura, sedangkan tahun ini dibantu perbaikan lokasi pendidikan dan bak air," katanya. (*)
Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.