Malang (Antara Jatim) - Pakar ekonomi Universitas Brawijaya Malang Prof Dr Ahmad Erani Yustika menyatakan hingga menjelang berakhirnya tahun 2013, ada 11 warisan masalah yang harus dituntaskan sebagai modal untuk merekonstruksi ekonomi 2014. "Sebenarnya banyak sekali masalah yang membuat kita pesimis untuk merekonstruksi perekonomian bangsa Indonesia tahun depan, namun yang paling krusial ada 11 yang wajib menjadi fokus kita semua," katanya disela-sela refleksi akhir tahun bidang ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Senin. Ia mengakui dalam banyak hal, tahun ini Indonesia banyak mendapatkan pujian dan penghargaan dari banyak negara karena meraih keberhasilan di berbagai bidang, termasuk pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan. Akan tetapi, lanjutnya, kenapa di dalam negeri justru banyak mendapatkan cacian dari masyarakat. Ternyata, penyebabnya adalah hasil capaian ekonomi yang dinilai bagus secara internasional itu tidak diiringi dengan sistem ekonomi yang berkeadilan, artinya masih banyak ketimpangan. Menurut Erani, ke-11 warisan masalah yang harus dituntaskan itu di antaranya adalah kesejateran masyarakat yang semakin menurun, meski pendapatannya meningkat. Sebab, antara pendapatan dengan laju kenaikan harga kebutuhan pokok dan inflasi tidak sebanding. Selain itu, lanjutnya, sistem penyusunan ANggaran pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus dirombak secara besar-besaran, sebab selama ini kebutuhan anggaran masih terforsir untuk membiayai gaji pegawai. Sedangkan, anggaran untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat sangat minim. Ia mengemukakan ada beberapa hal yang juga menjadi pendorong masalah u ntuk menghadapi 2014, seperti ancaman terhadap kedaulatan pangan akibat sistem irigasi secara nasional yang tidak bagus. Sekitar 50 persen sistem irigasi di Tanah Air rusak parah, 30 persen tidak bisa digunakan sama sekali dan yang bisa digunakan hanya sekitar 20 persen saja. Disamping itu, kata Erani, hancurnya energi Indonesia juga menjadi salah satu warisan masalah di Tanah Air. "Bukan kita tidak memiliki Sumber Daya Manusia (SDM), tapi kebijakan pemerintah banyak sekali yang disusun atas dasar intervensi. Sektor industri, tegasnya, juga sangat rapuh, namun Indonesia berani memasang tarif impor yang sangat rendah, sementara sejumlah negara berkembang lainnya tarifnya cukup tinggi, termasuk perdagangan migas dan nonmigas yang saat ini masih defisit. "Saya juga menyayangkan kondisi investasi dalam negeri yang semakin terpinggirkan, bahkan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda adanya investor domestik, sebab desain Kementerian Keuangan dan BKPM untuk mendorong investor domestik nyaris nol, tapi dua lembaga itu sangat sibuk memberikan insentif bagi investasi asing (PMA) agar mereka mau berinvestasi di Indonesia," tegasnya. Menyinggung upaya untuk melakukan rekonstruksi ekonomi 2014, Erani mengatakan harus ada sistem yang bagus. "Kalau kita bicara rekonstruksi ekonomi, kita harus bicara sistem, sehingga kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan nanti bisa menjadi navigasi bagi arah perekonomian kit a," katanya, menandaskan.(*)


Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026