Surabaya (Antara Jatim) - Komisi C Bidang Pembangunan DPRD Surabaya mengusulkan kepada pemkot mengenai gagasannya terkait pengelolaan rumah susun di Surabaya yang selama ini disewa warga nantinya akan menjadi hak milik. Ketua Komisi C DPRD Surabaya Sachiroel Alim, mengatakan sebagai kota metropolis kebutuhan lahan di Surabaya sudah tidak dapat dihindarkan, sehingga jika pemkot tidak ikut intervensi masyarakat miskin yang akan menjadi korbanya. "Jika berkaca pada kebijakan di beberapa daerah lain yang ada di Indonesia, sudah banyak kabupaten atau kota yang berani menyediakan rumah susun milik (Rusunami) atau strata tittle kepada masyarakatnya," katanya. Menurut dia masyarakat miskin akan terpinggirkan jika pemerintah kota tidak memiliki perhatian soal masalah rusun ini. Menurut Alim ada beberapa argumentasi yang melatar belakangi usulannya itu, pertama selama ini biaya yang dikeluarkan pemerintah kota untuk memelihara rumah susun di Surabaya, tidak sebanding dengan pemasukan yang didapat dari uang sewa dari warga. Ia mengatakan ketika pemkot memberlakukan tarif yang lumayan mahal juga mendapat protes atau komplain dari para penghuni rusun karena merasa keberatan. "Memang benar, penyediaan rumah susun merupakan tanggung jawab pemkot sebagai salah satu bentuk pelayanan kepada warga. Tetapi, ketika pemasukan dan pengeluaran tidak sebanding, tentu kita harus mencarikan solusinya," ujarnya. Alasan lainya, Alim menilai dengan Rusunami kawasan perkotaan akan tertata dengan baik. Sehingga sangat wajar jika komisinya kemudian menyarankan ada peremajaan kawasan kumuh di Surabaya, melalui program Rusunami. Alim mencontohkan salah satu kawasan kumuh di Surabaya, adalah di Jalan Kedondong. Ia menilai dengan status lahanya yang merupakan milik pemkot, sejatinya akan memudahkan dalam merealisasikan program rumah susun milik ini. Sebab, lanjut dia, mengacu pada beberapa Negara maju yang lebih dulu menerapkan program serupa, cara tersebut terbukti mampu merubah perwajahan kota baik di Singapura maupaun Korea Selatan (korsel) menjadi lebih baik. "Sekarang kalau kalian ke Singapura, akan banyak melihat banyak perbedaan antara kota Surabaya dengan di sana. Selain tamannya yang tertata dengan baik, ruang gerak untuk warga serta resapan air juga berjalan baik," kata Alim. Oleh karena itu, ia mengharapkan agar Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bappeko) Surabaya memiliki pikiran yang sama soal program ini dengan harapan pada 2014 Detail Enginering Design (DED) sudah disiapkan oleh pemkot. (*)


Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026