Oleh I Ketut Sutika
Perpaduan lembah, gunung dan laut di sepanjang pesisir utara Pulau Bali itu sangat indah dipandang. Puluhan objek wisata panorama alam maupun adat dan tradisi masyarakatnya dapat dikemas dalam paket wisata yang unik dan menarik.
Pemilik potensi besar dalam bidang pariwisata itu adalah Kabupaten Buleleng, bekas ibukota Provinsi Sunda Kecil (Bali-Nusa), sebelum dipindahkan ke Denpasar pada tahun 1958.
Potensi itu ibarat lahan tidur yang bisa dikembangkan secara intensif guna menarik kunjungan wisatawan ke Bali Utara.
Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana yang mengendalikan daerah itu sejak akhir 2012 menyadari potensi pariwisata di daerahnya cukup besar.
Namun potensi itu belum mampu memberikan kesejahteraan secara maksimal bagi kehidupan masyarakat setempat. Bahkan manisnya gemerincingan dolar dari sektor pariwisata hanya sebagian besar dinikmati masyarakat di wilayah Bali Selatan yaitu Kabupaten Badung, Kota Denpasar dan Kabupaten Gianyar.
Buleleng yang pernah jaya ketika berstatus sebagai ibukota Propinsi Sunda Kecil, kini hampir tenggelam dan seolah-olah terlupakan dari peta pariwisata Pulau Dewata, karena tak kecipratan dolar yang dibelanjakan para pelancong.
Padahal, potensi pariwisata yang dimiliki daerah ujung utara Pulau Bali itu tidak kalah unik dan menarik dibanding daerah Bali Selatan, tutur Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Buleleng Ketut Warkadea,
Atraksi unik dan menarik dalam kemasan paket wisata antara lain Sapi gerumbungan, atraksi ikan lumba-lumba di lautan pantai Lovina serta kehidupan seni budaya dan adat yang lestari.
Sapi gerumbungan yakni sepasang sapi jantan dengan berat lebih dari 400 kg/ekor "dirakit" seperti halnya petani membajak di sawah, namun dilengkapi dengan berbagai hiasan dikendalikan oleh seseorang (sais) untuk diadu kecepatan dengan pasangan sapi lainnya di tanah lapang.
Atraksi sapi gerumbungan yang dalam beberapa tahun terakhir sepi kini kembali diintensifkan dalam memeriahkan peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-409 Kota Singaraja.
Kegiatan unik dan menarik itu digelar di lapangan Desa Kaliasem, Lovina, 85 km barat daya kota Denpasar, melibatkan 16 pasang sapi yang dibagi dalam tiga kelompok, terdiri atas kelompok Buleleng Barat, Buleleng Tengah dan Buleleng Timur.
Atraksi wisata yang mendapat perhatian besar dari masyarakat dan wisatawan mancanegara yang sedang berliburan itu diiringi dengan alunan suara "mengocang", yakni menumbuk padi dengan menggunakan lesung, serta pementasan kesenian joged bumbung atau yang lebih dikenal dengan tari pergaulan.
Sangat tertarik
Justin Watson, wisatawan asal Inggris yang baru pertama kali berliburan ke Lovina, Kabupaten Buleleng, Bali Utara mengaku sangat tertarik dengan atraksi wisata sapi gerumbungan yang disuguhkan.
Sejumlah wisatawan mancanegara memang tertarik menikmati atraksi itu, karena baru pertama kali disaksikannya di Bali, bahkan Justin Watson dan beberapa temannya mendapat kehormatan naik sapi gerumbungan.
Selain Justin Watson dan beberapa temannya juga mendapat kehormatan naik sapi gerumbungan adalah Asisten III Setkab Buleleng Gede Dharmaja dan unsur muspida lainnya.
Pemkab Buleleng tetap komitmen untuk melestarikan sapi gerumbungan yang secara rutin dilaksanakan setiap tahun, dalam memperingati HUT Kota Singaraja, HUT Proklamasi Kemerdekaan RI, maupun pada Festival Lovina.
Setelah melalui penilaian tim juri dikoordinir Nyoman Suwita, sapi gerumbungan dengan sais Gede Madu dari Kelompok Surya Bhuana, Desa Panji ditetapkan sebagai juara I, dan memperoleh Piala Bupati Buleleng dan uang tunai Rp7,5 juta.
Sedangkan juara II sais Wayan Sukrada dari Kelompok Putra Gembala, Desa Kaliasem dengan hadiah uang Rp5,5 juta dan juara III sais Gede Sumadi dari Kelompok Eka Gopala Kelurahan Banjar Tegal Singaraja mendapat hadiah uang tunai Rp3,5 juta.
Disbudpar Buleleng sebelumnya juga memberikan dana pembinaan kepada masing-masing kelompok sapi gerumbungan sebesar Rp1 juta.
Pariwisata Bali utara belum berkembang seperti halnya di Bali Selatan, akibat berbagai faktor antara lain transportasi, jarak yang relatif jauh yakni sekitar 80 km, yang ditempuh dalam waktu dua-tiga jam dengan kondisi jalan berliku-liku dari Kota Denpasar atau Kabupaten Badung.
Meskipun demikian, Pemkab Buleleng tidak tinggal diam dan menyerah pada nasib, lebih-lebih dalam pelaksanaan otonomi daerah, yang dituntut untuk mampu memanfaatkan potensi yang ada secara maksimal untuk pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Berbagai upaya dan terobosan dilakukan dengan harapan mampu menghilangkan kesenjangan, sekaligus menyeimbangkan pengembangan sektor pariwisata antara Bali Selatan dan Bali Utara.
Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana sejak dipercaya memimpin Kabupaten Buleleng bertekad meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melalui berbagai terobosan antara lain mengembangkan pelabuhan laut, warisan penjajahan Belanda menjadi pelabuhan kapal wisata yang dapat disinggapi kapal pesiar dari berbagai negara.
Kabupaten Buleleng, salah satu dari delapan Kabupaten dan satu kota di Bali memiliki fasilitas pariwisata yang cukup memadai, antara lain 98 hotel berbintang dan 138 restoran.
Daerah utara Bali itu mengembangkan empat kawasan wisata meliputi kawasan Kalibubuk, termasuk pantai Lovina dengan luas 3.524 hektare, Pancasari seluas 13.441 hektare, kawasan Air Sanih seluas 625 hektare dan kawasan Batuampar seluas 14.124 hektare.
Pembangunan pariwisata Buleleng menitikberatkan ciri khas daerah setempat, yang selama ini memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri dalam menarik kunjungan pelancong, terutama Sapi Gerumbungan. (*)
Editor : Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.