Madiun (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun menyiagakan sebanyak delapan tandon air untuk sarana distribusi jika sewaktu-waktu ada warganya yang kesulitan dan membutuhkan air bersih saat musim kemarau 2026 yang diprediksi BMKG lebih panjang.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Madiun Boby Saktia Putra Lubis di Madiun, Selasa mengatakan BPBD akan bekerja sama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setempat untuk memasok kebutuhan air ke tandon-tandon yang ditempatkan di desa terdampak.
"Jika ada desa yang mengalami kekurangan air, kami akan menempatkan tandon dan bekerja sama dengan PDAM untuk mengisi kebutuhan air bersih masyarakat," ujar Boby.
Menurutnya, tandon air tersebut nantinya akan ditempatkan di desa atau daerah yang rawan air bersih. Untuk itu, pihaknya akan mengirimkan surat edaran kepada seluruh kecamatan agar segera melaporkan jika terjadi dampak kekeringan di wilayahnya.
Pihak BPBD juga melakukan mitigasi bencana kekeringan sekaligus sosialisasi ke masyarakat desa yang berpotensi mengalami krisis air. BPBD juga telah menyiapkan peta kerawanan kekeringan sebagai dasar penentuan langkah mitigasi.
"Kami sudah menyampaikan kepada seluruh jajaran BPBD untuk meningkatkan kewaspadaan. Dalam waktu dekat akan dilakukan sosialisasi ke desa-desa yang berpotensi terdampak musim kemarau," katanya.
Adapun desa dengan tingkat kerawanan tertinggi akan menjadi prioritas dalam program sosialisasi dan edukasi pengelolaan air.
Sejumlah wilayah di Kabupaten Madiun yang dinilai rawan terjadi kekeringan hingga kesulitan air bersih di antaranya di Kecamatan Kare, Gemarang, Saradan, Dolopo, dan Madiun. Desa yang mendapat perhatian khusus di antaranya Desa Sirapan di Kecamatan Madiun dan Bodag di Kecamatan Kare.
"Kami mengimbau masyarakat di desa rawan kekeringan untuk lebih bijak dan hemat dalam menggunakan air, sehingga kebutuhan air rumah tangga tetap terpenuhi selama musim kemarau," katanya.
BPBD Kabupaten Madiun juga intensif berkoordinasi dengan Perum Perhutani KPH Madiun dan KPH Saradan guna mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan di wilayahnya. Pihaknya juga memiliki aplikasi untuk mendeteksi titik panas yang bisa diakses setiap saat. Sehingga, jika terjadi kebakaran hutan bisa segera ditangani.
Pewarta: Louis Rika StevaniEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026