Surabaya (ANTARA) - Dengan badannya sudah mulai membungkuk, rambut memutih dan gerakan tangan terlihat lambat, nenek tua tetap setiap melayani pembelinya setiap pagi. Di pojok gang sempit itu dia menjual sego jagung tiap pagi. Sego jagung, dengan ikan kering, tempe goreng, sambal kelapa, dan kulupan sayur adalah menu utama jualannya. Peggemarnya pun sama. Sebagian besar adalah orang-orang yang secara usia tidak muda lagi.

Di tengah dominasi beras sebagai makanan utama saat ini, banyak orang mulai melupakan bahwa jagung pernah menjadi pangan pokok orang-orang tua kita dulu di berbagai daerah Nusantara.

Jauh sebelum budaya konsumsi beras berkembang secara merata, masyarakat di wilayah-wilayah kering seperti Madura, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara telah lama mengandalkan jagung sebagai sumber karbohidrat utama. Jagung diolah menjadi nasi jagung atau sego jagung, lalu dikonsumsi sehari-hari sebagaimana umumnya masyarakat memakan nasi putih saat ini.

Kebiasaan itu bukan sekadar tradisi kuliner, melainkan bentuk kecerdasan pangan masyarakat masa lalu dalam menyesuaikan diri dengan kondisi alam. Di daerah yang curah hujannya rendah dan sulit ditanami padi, jagung menjadi pilihan paling tepat karena lebih tahan terhadap kekeringan serta tidak membutuhkan banyak air.

Itulah sebabnya, keberadaan nasi jagung dahulu tidak identik dengan keterbelakangan, melainkan simbol kemampuan masyarakat untuk bertahan dan mandiri secara pangan.

Ironisnya, seiring perkembangan zaman, jagung justru sering dipandang sebagai makanan kelas bawah. Swasembada pangan era modern, membuat masyarakat semakin bergantung pada beras. Padahal, di tengah ancaman krisis iklim, alih fungsi lahan pertanian, dan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, ketergantungan terhadap satu komoditas pangan menjadi risiko besar bagi masa depan bangsa.

Dalam situasi inilah jagung kembali relevan untuk dibicarakan, bukan hanya sebagai makanan tradisional, tetapi sebagai potensi ekonomi sekaligus penopang swasembada pangan Indonesia di masa depan.

Indonesia sesungguhnya memiliki modal besar untuk menjadikan jagung sebagai komoditas strategis nasional. Secara geografis, banyak wilayah Indonesia cocok untuk budidaya jagung. Tanaman ini mampu tumbuh di lahan kering, memiliki masa tanam relatif singkat, dan lebih adaptif terhadap perubahan cuaca dibandingkan padi.

Ketika perubahan iklim mulai memengaruhi produktivitas sawah akibat kekeringan maupun banjir, jagung menawarkan alternatif yang lebih tangguh.

Keunggulan tersebut terbukti dari meningkatnya produksi jagung nasional dalam beberapa tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa produksi jagung Indonesia pada triwulan pertama 2025 mencapai sekitar 9,03 juta ton, meningkat hampir 48,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, produksi jagung pipilan kering nasional pada 2025 mencapai sekitar 16,11 juta ton atau naik sekitar 6,44 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan produksi itu menjadi sinyal penting bahwa jagung memiliki prospek besar untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Bahkan, berdasarkan Neraca Pangan Nasional, kebutuhan jagung Indonesia pada 2025 berada di angka sekitar 15,64 juta ton. Artinya, Indonesia mengalami surplus produksi sekitar 470 ribu ton. Surplus ini menunjukkan bahwa jagung tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga berpotensi menjadi komoditas ekspor yang menguntungkan.

Lebih jauh lagi, potensi ekonomi jagung tidak berhenti pada sektor pangan rumah tangga. Jagung memiliki rantai ekonomi yang sangat luas. Selain dikonsumsi langsung, jagung menjadi bahan baku utama industri pakan ternak, tepung, minyak jagung, makanan olahan, hingga bioetanol sebagai energi alternatif. Permintaan jagung global pun terus meningkat seiring bertambahnya kebutuhan pangan dan energi dunia.

Di Indonesia, sektor peternakan unggas sangat bergantung pada pasokan jagung sebagai bahan baku pakan. Ketika produksi jagung menurun, harga pakan naik dan berdampak langsung pada harga telur maupun daging ayam di pasar.

Sebaliknya, ketika produksi jagung stabil dan melimpah, efek ekonominya dapat dirasakan oleh banyak sektor sekaligus. Inilah yang membuat jagung memiliki nilai strategis, bukan hanya bagi petani, tetapi juga bagi stabilitas ekonomi nasional.

Sayangnya, potensi besar tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal. Hingga kini, sebagian masyarakat masih menganggap konsumsi jagung sebagai simbol kemiskinan atau keterpaksaan. Padahal, dari sisi kesehatan, jagung memiliki kandungan gizi yang tidak kalah penting dibandingkan beras. Jagung kaya akan serat, vitamin, mineral, dan memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibanding nasi putih. Karena itu, konsumsi jagung justru semakin relevan di era modern ketika masyarakat mulai sadar pentingnya pola makan sehat.

Perubahan cara pandang masyarakat terhadap jagung menjadi tantangan tersendiri. Selama bertahun-tahun, pembangunan pangan Indonesia terlalu berorientasi pada beras. Hampir seluruh kebijakan pangan nasional berpusat pada upaya meningkatkan produksi padi.

Akibatnya, diversifikasi (keanekaragaman pangan) berjalan lambat. Padahal, ketahanan pangan sejatinya tidak bergantung pada satu jenis makanan saja.

Jika Indonesia ingin mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan, maka keanekaragaman pangan harus menjadi prioritas. Jagung dapat menjadi salah satu solusi utama. Mengembangkan jagung sebagai pangan alternatif tidak berarti menggantikan beras sepenuhnya, tetapi menciptakan keseimbangan konsumsi agar masyarakat tidak terlalu bergantung pada satu komoditas.

Pengembangan jagung juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani di daerah-daerah kering yang selama ini sulit mengandalkan padi. Dengan dukungan teknologi pertanian modern, benih unggul, akses pasar, dan hilirisasi industri, jagung dapat menjadi sumber pendapatan baru dan stabil bagi masyarakat desa.

Produk turunannya pun sangat beragam, mulai dari tepung jagung, makanan ringan, susu jagung, hingga bahan baku industri energi.

Di beberapa negara maju, jagung bahkan telah menjadi komoditas industri bernilai tinggi. Amerika Serikat, misalnya, memanfaatkan jagung tidak hanya untuk pangan, tetapi juga sebagai bahan baku biofuel dan industri kimia. Hal ini membuktikan bahwa jagung memiliki peluang ekonomi yang sangat luas apabila dikelola secara inovatif.

Indonesia sebenarnya memiliki peluang serupa. Dengan kekayaan lahan pertanian dan iklim tropis, Indonesia dapat mengembangkan ekosistem industri jagung dari hulu hingga hilir. Pemerintah, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan masyarakat perlu bekerja sama membangun kembali budaya pangan lokal yang lebih beragam dan berkelanjutan.

Lebih dari sekadar komoditas pertanian, jagung sesungguhnya menyimpan nilai sejarah dan identitas bangsa. Jagung mengingatkan bahwa nenek moyang Indonesia pernah hidup mandiri dengan memanfaatkan potensi alam di sekitarnya. Mereka tidak bergantung pada satu jenis pangan, melainkan mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan.

Di tengah ancaman krisis pangan global dan perubahan iklim, pelajaran dari masa lalu itu menjadi semakin penting. Dunia sedang menghadapi tantangan serius berupa berkurangnya lahan pertanian, kenaikan suhu bumi, serta meningkatnya kebutuhan pangan akibat pertumbuhan penduduk. Dalam situasi seperti ini, ketahanan pangan tidak cukup dibangun hanya dengan mempertahankan produksi beras.

Jagung menawarkan harapan baru. Tanaman ini tahan terhadap kondisi ekstrem, memiliki nilai ekonomi tinggi, serta mampu mendukung diversifikasi pangan nasional. Dengan pengelolaan yang tepat, jagung dapat menjadi salah satu fondasi utama menuju swasembada pangan Indonesia di masa depan.

Nenek moyang Indonesia telah membuktikan bahwa jagung mampu menjadi sumber pangan utama masyarakat. Kini, di tengah ancaman krisis pangan dan perubahan iklim, jagung kembali menunjukkan potensinya sebagai solusi masa depan.

Dengan produksi yang terus meningkat dan kemampuan adaptasinya terhadap lahan kering, jagung bukan sekadar makanan tradisional, melainkan simbol kemandirian pangan Indonesia.

Sayangnya, perut kita tidak biasa lagi menerimanya…

 

*) Penulis adalah Pegiat Sosial sekaligus Dosen Universitas Muhammadiyah sampit

 



Editor : Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026