Ponorogo (ANTARA) - Yn (44 tahun) tak mampu menyembunyikan kepedihan hatinya ketika bercerita bagaimana awal mula menjadi santri di Pondok Pesantren Tahfidz Entrepreneur Hikmatul Qur'an yang lebih dikenal sebagai Ponpes Marginal di Kota Ponorogo, Jawa Timur.

"Saat itu, saya betul-betul tertekan karena saya diputuskan hubungan dengan dua anak saya oleh suami," katanya, tersenyum getir.

Beberapa kali perempuan asal Jombang, Jawa Timur, itu menolak untuk menjelaskan lebih rinci bagaimana ceritanya hingga sang suami melarang berkomunikasi dengan anaknya.

"Cukup begitu saja, ceritanya," katanya, sambil berusaha tersenyum.

Informasi di lingkungan pesantren itu menyebutkan bahwa Yn adalah korban kekerasan rumah tangga (KDRT). Dia datang ke pesantren tersebut dengan kondisi jiwa yang sudah putus harapan.

Yn adalah salah satu santri dewasa yang sejak awal 2025 menjadi bagian dari pondok pesantren yang didirikan dan diasuh oleh Mustaqim Aziz itu.

Awalnya, Yn hanya berniat tinggal di pondok pesantren itu selama tiga bulan. Tujuannya untuk menenangkan jiwa, sekaligus memperdalam ilmu dan amalan agama.

Keluarga besarnya di Jombang tidak langsung menyetujui niat dia untuk tinggal di pondok pesantren, apalagi usianya sudah tidak muda lagi. Keluarganya juga mengkhawatirkan kondisi kejiwaan Yn yang belum stabil akibat depresi.

Akhirnya, niat Yn untuk tinggal di pesantren terlaksana. Meskipun di awal-awal sempat bertanya-tanya dengan ajaran agama yang ditanamkan di pesantren tersebut, Yn kini bertambah mantap. Dia merasa menemukan apa yang selama ini dicarinya. 

"Keluarga saya kan tradisinya NU. Di pesantren ini ternyata juga mengajarkan praktik tasawuf. Akhirnya saya merasa cocok," kata perempuan yang mulai merasakan ketentraman batin ini.

Karena itu, dia mengaku tidak tahu sampai kapan akan terus menjadi bagian dari pesantren yang menaruh kepedulian terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi banyak orang itu. Semua santri yang tinggal di pesantren tersebut tidak dipungut biaya sesenpun, termasuk untuk biaya hidup sehari-hari.

Terkait komunikasi dengan anaknya yang kini tinggal di satu kota besar, Yn mengaku tidak mungkin menghapus rindu untuk berjumpa atau sekadar berkomunikasi lewat telepon seluler. Hanya saja, dia tidak ingin terus larut dalam kesedihan. Dia memilih berpasrah kepada Allah, seraya terus mendoakan dua buah hatinya itu dalam kondisi terbaik.

Berkali-kali, Yn menyampaikan terima kasih kepada Mustaqim Aziz yang telah menerimanya menjadi santri. "Pak Aziz adalah orang baik. Kami merasakan betul kebaikan beliau kepada kami, para santrinya," katanya.

Sementara itu, Sy (47 tahun), asal Sumatera, tinggal di pesantren tersebut untuk lebih menguatkan pertaubatannya setelah beberapa tahun mengonsumsi ganja.

Lelaki berperawakan tinggi dan kurus ini bercerita, awalnya dia datang ke Pulau Jawa untuk mengantar kemenakannya menjalani rehabilitasi sebagai pengguna narkoba. Tujuannya adalah satu panti rehabilitasi di Semarang, Jawa Tengah.

Tidak sesuai rencana, si ponakan menolak menempati panti rehabilitasi tersebut. Si kemenakan memilih mencari panti di Jakarta.

Sy berubah pikiran. Jika awalnya hanya ingin mengantar kemenakan, lalu pulang ke Sumatera, saat itu berubah. Dia juga ingin tetap tinggal di Jawa sambil memperdalam agama. Dia mendapat informasi pesantren asuhan Mustaqim Aziz itu melalui media sosial.

"Saya betah tinggal di sini karena bisa fokus ibadah. Tidak tergoda lagi untuk menggunakan ganja. Apalagi, Pak Aziz menerima kami apa adanya," katanya.

Sementara Ay (14 tahun) adalah santri yang sampai detik ini tidak tahu siapa bapak dan ibunya. Remaja yang sedang menempuh pendidikan setingkat SMP ini lahir di satu kabupaten di Jawa Tengah. Sejak bayi, dia dititipkan kepada neneknya. Bapak ibunya entah kemana.

Karena si nenek sudah sepuh dan tidak memiliki penghasilan tetap, Ay kemudian dititipkan ke teman si nenek di Surabaya. Pengasuh baru ini juga bukan orang berkecukupan. Setelah lulus sekolah dasar, si nenek asuh kemudian mencarikan lembaga pendidikan yang tidak berbiaya untuk Ay.

Singkat cerita, Ay masuk ke pesantren asuhan Mustaqim Aziz. Selain belajar agama, ia juga bersekolah di lembaga pendidikan formal di sekitar pesantren.

Mustaqim Aziz bercerita bahwa Ay ini memiliki semangat hidup untuk maju. Terkait perilaku orang tuanya, Ay memiliki "dendam positif", yakni ingin menunjukkan kepada bapak-ibunya bahwa dia bisa sukses.

"Ay ini ingin menunjukkan pada bapak ibunya, meskipun tidak tahu kabarnya berada dimana, bahwa mereka akan menyesal telah menelantarkan anaknya," kata Aziz.

Sementara Wahid, asal Jember, menemukan informasi mengenai pesantren ini lewat medsos. Pemuda yang lahir dari keluarga kurang mampu ini memang berkeinginan menimba ilmu di pesantren.

"Alhamdulillah, saya bisa menemukan pesantren yang tidak mengeluarkan biaya. Saya juga mendapatkan guru (Aziz) yang membimbing langsung, bahkan sudah seperti orang tua sendiri," kata santri yang kini juga kuliah jurusan pendidikan ini.

Wahid juga banyak belajar dari praktik bisnis daring yang dijalankan oleh pesantren tersebut. Kelak, ketika dia menjadi guru, bisnis daring akan dijalaninya untuk menjadi penopang hidup.

"Kalau nanti saya menjadi guru, mengajar adalah profesi, bukan pekerjaan," katanya.

Mustaqim Aziz menceritakan ada peristiwa yang sempat membuat heboh, yakni ketika pesantren itu menerima perempuan yang bekerja sebagai LC di kota besar dan hamil di luar nikah. Saat itu sudah ada sepasang suami istri yang tidak memiliki anak siap mengadopsi anak dari perempuan LC tersebut.

Ketika hendak melahirkan lewat operasi, ada keluarga si perempuan yang mengetahui. Keluarga si perempuan melabrak pesantren dan meminta si perempuan mengakui siapa pria yang menghamili. Singkat cerita, perempuan itu dinikahkan dengan lelaki yang menghamili. Kemudian, anaknya tidak jadi diadopsi orang lain.


Santri move on

Karena beragamnya usia para santri, Aziz membagi mereka dalam kelompok usia. Untuk santri yang sudah berusia dewasa, bahkan sepuh diberi nama santri move on.

Secara umum mereka mendapatkan pengetahuan agama Islam relatif sama. Selain pelajaran kitab fiqih, mengaji dan hafalan Alquran, hadits, mereka juga mendapatkan pengajian tasawuf. Dengan tasawuf, diharapkan mereka menjadi orang yang lebih peka dan tidak kaku dalam menjalankan nilai-nilai luhur agama.

Untuk pelajaran menghafal Alquran hanya diwajibkan pada santri yang muda-muda, sedangkan yang santri move on lebih diarahkan kepada kebutuhan untuk membaca Alquran dengan benar.

 

 



Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026