Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) - Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan Provinsi Jawa Timur Saiful Islam menyebutkan realisasi pendapatan negara hingga akhir April 2026 mencapai Rp86,85 triliun dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp301,95 triliun.

Saiful menyatakan realisasi pendapatan negara sebesar Rp86,85 triliun tersebut merupakan 28,76 persen dari target sebesar Rp301,95 triliun, tumbuh 7,14 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

"Realisasi pendapatan negara sampai 30 April 2026 mencapai Rp86,85 triliun atau 28,76 persen," katanya dalam konferensi pers di Surabaya, Senin.

Pendapatan negara ini terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp83,72 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp3,12 triliun.

Untuk penerimaan perpajakan terdiri dari pajak sebesar Rp36,9 triliun atau 25,53 persen dari target Rp144,53 triliun serta kepabeanan dan cukai sebesar Rp46,83 triliun atau 30,97 persen dari target Rp151,17 triliun.

Penerimaan pajak sebesar Rp36,9 triliun tumbuh 10,60 persen ditopang oleh penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) sebesar Rp17,52 triliun yang tumbuh 21,99 persen (yoy) sehingga mencerminkan aktivitas ekonomi dan transaksi yang tumbuh.

Terdapat empat sektor utama yaitu sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, sektor transportasi dan pergudangan dan administrasi pemerintahan berkontribusi sebesar 85,3 persen terhadap penerimaan pajak bruto Rp42,24 triliun.

Sementara untuk penerimaan kepabeanan dan cukai yang mencapai Rp46,83 triliun naik 4,03 persen (yoy) meliputi realisasi Cukai Rp44,51 triliun, Bea Masuk Rp2,16 triliun dan Bea Keluar Rp158,2 miliar.

Realisasi Cukai yang tumbuh 3,81 persen (yoy) merupakan 30,75 persen dari target APBN dipengaruhi tumbuhnya produksi hasil tembakau dan nilai cukai pada Januari dan Februari 2026 secara berturut-turut.

Realisasi Bea Masuk yang sebesar Rp2,16 triliun merupakan 35,71 persen target APBN dan tumbuh 14,29 persen (yoy) didukung peningkatan nilai dan volume impor serta tingginya kurs pajak dolar AS dan rupiah.

Di sisi lain, Bea Keluar yang terealisasi Rp158,2 miliar atau 42,14 persen target APBN terkontraksi 36,37 persen (yoy) seiring turunnya harga CPO.

Pendapatan negara juga didukung oleh PNBP yang terealisasi sebesar Rp3,12 triliun tumbuh 16,34 persen (yoy) didorong oleh realisasi PNBP Lainnya dan PNBP Badan Layanan Umum (BLU).

PNBP Lainnya terealisasi Rp1,70 triliun atau 65,51 persen dari target dan tumbuh 24,98 persen (yoy) hingga mendominasi total PNBP yaitu menyumbang sebesar 55 persen karena sebagian besar satuan kerja BLU belum melakukan pengesahan.

Untuk PNBP BLU terealisasi Rp1,42 triliun atau 38,66 persen dari target mengalami pertumbuhan 7,45 persen (yoy) didominasi dari pelayanan pendidikan dan rumah sakit.

Untuk PNBP Jenis Lainnya didominasi dari penerimaan kembali belanja modal tahun anggaran yang lalu, bidang pertanahan, STNK, kepelabuhan dan BPKB.

Terakhir, dari pengelolaan aset, realisasi Lelang, PNBP pengelolaan barang milik negara (BMN) dan piutang negara terealisasi pokok lelang Kanwil DJKN Jatim mencapai Rp1,16 triliun atau 23,04 persen dari target Rp5,04 triliun.

Kemudian juga terealisasi PNBP Llelang sebesar Rp28,65 miliar atau 20,82 persen dari target Rp137,63 miliar, PNBP pengurusan piutang negara Rp64,49 juta atau 17,58 persen dari target Rp366,90 juta, serta PNBP aset Rp54,77 miliar atau 30,60 persen dari target Rp179,03 miliar.

 



Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026