Jakarta (ANTARA) - Di tengah harga bahan bakar yang terus merangkak naik dan kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil, efisiensi kini menjadi pertimbangan utama dalam memilih kendaraan keluarga.
Situasi itu yang coba dijawab BYD lewat kehadiran BYD M6 DM, model pertama BYD di Indonesia yang tidak sepenuhnya mengandalkan tenaga listrik murni. Mobil ini mengusung teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) melalui sistem Dual Mode (DM).
Berbeda dengan versi BYD M6 sebelumnya yang hadir sebagai mobil listrik penuh, varian terbaru ini memungkinkan pengguna mengisi daya baterai sekaligus mengandalkan bahan bakar bensin. Dengan kombinasi tersebut, mobil tetap dapat digunakan tanpa rasa cemas saat baterai menipis ataupun ketika sulit menemukan stasiun pengisian kendaraan listrik.
ANTARA menjajal langsung kemampuan efisiensi sekaligus impresi berkendara BYD M6 DM pada Rabu (13/5) melalui rute Jakarta–Bogor–BSD–Jakarta sejauh kurang lebih 150 kilometer, atau setara perjalanan Jakarta menuju Bandung. Hasilnya cukup mengejutkan.
Perjalanan dimulai dengan kapasitas baterai 98 persen dan tangki bensin penuh. Setelah seluruh perjalanan selesai, indikator baterai masih menunjukkan sisa 34 persen. Konsumsi bensinnya bahkan nyaris tak masuk akal untuk ukuran MPV tiga baris berbodi lapang.
Dari tangki penuh, pengisian ulang yang dibutuhkan hanya senilai Rp1.968 atau sekitar 0,16 liter Pertamax dengan harga Rp12.300 per liter. Gambarannya, kami masih mendapat uang kembali ketika membayar bensin dengan selembar Rp2 ribu.
Pengujian memang dilakukan dalam skenario ekstrem demi melihat potensi efisiensi maksimalnya. Selama perjalanan, AC dimatikan, sistem infotainment tidak digunakan untuk memutar musik, dan hanya ada satu kali pengisian daya ponsel selama sekitar satu jam melalui port USB type C di dalam mobil. Gaya berkendara juga dijaga halus dengan kecepatan stabil sambil memanfaatkan fitur regenerative braking untuk mengembalikan energi ke baterai.
Namun menariknya, catatan efisiensi itu tidak hanya muncul dalam pengujian khusus. Rekan pengemudi lain yang menggunakan mobil ini secara normal untuk kebutuhan harian, lengkap dengan AC dan sistem hiburan kabin yang tetap aktif, juga mencatat konsumsi energi yang mengesankan. Dalam rute serupa, daya baterai masih tersisa di atas 20 persen, bahkan ada yang masih menyentuh 30 persen, sementara biaya bensin rata-rata tetap di bawah Rp5 ribu.
Di titik inilah teknologi Dual Mode milik BYD menunjukkan karakter utamanya. Sistem ini mengusung prinsip electric-first driving, berbeda dengan kebanyakan mobil hybrid konvensional yang masih menjadikan mesin bensin sebagai sumber tenaga utama. Pada BYD M6 DM, motor listrik berperan sebagai penggerak utama roda, sementara mesin bensin bekerja pada titik paling efisien untuk membantu menghasilkan energi saat dibutuhkan.
Secara teknis, mobil ini dibekali mesin 1.500 cc dengan tenaga maksimum 72 kW dan torsi 125 Nm, yang dipadukan dengan motor Electric Hybrid System (EHS) 5.0 berputar hingga 15.000 rpm. Sistem DM 5.0 sendiri merupakan generasi terbaru teknologi hybrid BYD yang diperkenalkan secara global pada 2024.
BYD mengklaim konsumsi bahan bakar BYD M6 DM dapat mencapai 65 kilometer per liter dengan total jarak tempuh lebih dari 1.800 kilometer. Efisiensi termal mesinnya bahkan disebut menyentuh 46 persen, angka yang tergolong sangat tinggi di industri otomotif saat ini.
Teknologi tersebut bekerja melalui tiga mode utama.
Pertama, Pure EV Mode, yakni ketika roda sepenuhnya digerakkan oleh motor listrik sementara mesin bensin mati total. Mode ini ideal digunakan di kawasan perkotaan karena menghadirkan pengalaman berkendara yang senyap tanpa konsumsi bensin sama sekali.
Kedua, HEV Series Mode, saat mesin bensin aktif hanya sebagai generator untuk mengisi daya baterai ketika kapasitasnya mulai menipis. Menariknya, dalam mode ini mesin tidak langsung menggerakkan roda.
Terakhir ialah HEV Parallel Mode, ketika motor listrik dan mesin bensin bekerja bersamaan untuk menghasilkan performa maksimal, terutama saat menyalip kendaraan di jalan tol atau melibas tanjakan.
Sensasi berkendara
Meski mengusung sistem hybrid, sensasi berkendara BYD M6 DM justru terasa lebih dekat dengan mobil listrik murni. Karakter akselerasinya halus tanpa hentakan agresif yang kerap muncul pada mobil listrik dengan torsi instan berlimpah.
Saat pedal gas diinjak, tenaganya tetap responsif dan lincah, tetapi ada sedikit jeda yang tampaknya sengaja diatur demi menjaga kenyamanan penumpang agar tidak mengalami efek “gujlak-gajluk” yang mudah memicu mabuk perjalanan.
Perpindahan dari mode EV ke hybrid pun berlangsung sangat mulus. Kami nyaris tidak merasakan getaran, suara mesin, maupun perubahan karakter tenaga di dalam kabin.
Hal itu membuat BYD M6 DM terasa nyaman digunakan sebagai kendaraan harian maupun mobil keluarga jarak jauh. Kabinnya mampu menampung hingga tujuh penumpang dengan konfigurasi tiga baris.
Pada varian Superior 6 Seat, hadirnya konfigurasi captain seat di baris kedua semakin memperkuat nuansa premium, menghadirkan kenyamanan layaknya lounge berjalan.
Kenyamanan tersebut didukung tingkat kebisingan kabin yang sangat minim. Dalam kecepatan rendah hingga menengah, mobil beroperasi seperti EV murni yang senyap. Di tengah kemacetan Jakarta sekalipun, suasana kabin tetap terasa tenang dan rileks.
Meski fokus utama ada pada efisiensi, BYD tidak melupakan sisi teknologi. Fitur hiburan dan ADAS (Advanced Driver Assistance System) tersedia cukup lengkap untuk menunjang pengalaman berkendara modern. Fitur utamanya mencakup adaptive cruise control, pengereman otomatis (AEB), peringatan tabrakan, hingga penjaga lajur.
Kehadiran BYD M6 DM seolah menjadi jawaban bagi konsumen yang tertarik pada kendaraan elektrifikasi, tetapi belum sepenuhnya siap beralih ke mobil listrik murni. Melalui kombinasi baterai berkapasitas besar dan mesin bensin yang efisien, mobil ini menawarkan solusi praktis untuk mobilitas harian maupun perjalanan jarak jauh tanpa rasa khawatir.
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026