Ngawi (ANTARA) - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Ngawi, Jawa Timur melibatkan peran para perangkat desa untuk menangani kasus anak putus sekolah tingkat SD dan SMP di wilayah itu, yang jumlahnya mencapai ratusan orang.
"Kami dalam menangani kasus anak putus sekolah menggandeng para perangkat desa untuk melakukan pendekatan terhadap orang tua, keluarga, hingga anak pelaku putus sekolah agar mau kembali melanjutkan pendidikan," ujar Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dikbud Ngawi Zianal Fanani di Ngawi, Senin.
Sesuai data, jumlah anak putus sekolah jenjang SD dan SMP di wilayah Ngawi sampai saat ini 730 anak, terdiri atas 200 anak putus sekolah tingkat SD dan 530 anak tingkat SMP.
Menurut dia, penyebab ratusan anak tersebut tidak melanjutkan sekolah ada beberapa faktor, di antaranya karena faktor keluarga, ekonomi, hingga lingkungan sekitar.
"Untuk kasus putus sekolah tingkat SMP di Ngawi ini, rata-rata putusnya saat di kelas 8. Penyebabnya bisa karena keluarga ataupun lingkungan tempat bergaul," katanya.
Selain pendekatan dengan melibatkan pemerintah desa, Dikbud Ngawi juga melakukan koordinasi dengan Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan untuk memfasilitasi anak bersangkutan kembali ke sekolah melalui pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) atau Kejar Paket A dan B.
Pihaknya memastikan terus mendorong ratusan anak putus sekolah tersebut kembali mendapatkan hak pendidikannya hingga berhasil mendapatkan ijazah setara, sekaligus guna mengurangi angka putus sekolah di Kabupaten Ngawi.
Pewarta: Louis Rika StevaniEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026