Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) - Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur mengalami erupsi disertai awan panas pada Senin sore.

"Telah terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 14.38 WIB, namun tinggi kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.

Menurutnya erupsi itu terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi sekitar 3 menit 53 detik.

"Letusan Gunung Semeru disertai awan panas dengan jarak luncur tidak di ketahui karena visual Semeru tertutup kabut," katanya.

Berdasarkan data petugas, gunung tertinggi di Pulau Jawa itu erupsi sebanyak dua kali yakni pada pukul 07.40 WIB dengan visual letusan tidak teramati, namun terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 115 detik.

Erupsi kedua terjadi pada pukul 14.38 WIB yang disertai awan panas, sehingga masyarakat diimbau untuk berhati-hati mematuhi arahan petugas BPBD setempat.

Ia menjelaskan saat ini Gunung Semeru berada pada Status Level III (Siaga) dengan rekomendasi yakni tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).

"Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak," katanya.

Masyarakat juga diimbau tidak beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).

Kemudian mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru.

"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," ujarnya.

 



Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026