Warga Tunagrahita di Ponorogo Bisa Berkarya

id Warga Tunagrahita di Ponorogo Bisa Berkarya , idiot, kampung lele, antara jatim

Warga Tunagrahita di Ponorogo Bisa Berkarya

Ponorogo (Antara Jatim) - Rona bahagia terpancar pada wajah Toirin (51) dengan istrinya Pomiyah (50) warga Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, ketika panen ikan lele hasil budi daya yang ada di depan halaman rumah mereka.

Pasangan yang salah satu di antaranya menderita tunagrahita ini tidak lepas dari senyum yang selalu mengembang. Mereka tidak berhenti melihat kolam ukuran 1,2x1 meter itu mulai dibuka saluran airnya dan ikan lele hasil budi daya mereka mulai bingung berenang, Senin lalu.

Dengan cekatakan, tangan Toirin mulai memegang jaring kecil dan mengambil ikan di kolam. Dibantu istrinya, ia mengambil ikan-ikan itu dan mengangkatnya ke atas.

"'Abot-abot' (berat-berat)," ucap Toirin dengan wajah sumringah ketika mengangkat atas-atas lele itu.

Namun rupanya, itu tidak membuatnya patah semangat untuk terus melihat. Saking senangnya, ia rela mengambil wadah plastik dan mengambil ikan yang tercecer di tanah dan menempatkannya di bak plastik untuk ditimbang.

Perlu dua orang mengangkat satu bak penuh ikan lele hasil budi daya pasangan yang sudah usia lanjut ini. Dari kolam ukuran 1,2x1 meter itu, ditimbang mendapatkan 34 kilogram ikan. Ukurannya variatif ada yang kecil dan besar.

Panen juga dilakukan di kolam ikan yang ada di rumah Sunarno (35). Jenis ikan yang dipanen juga sama, lele. Namun, hasil panen di rumah Sunarno justru lebih besar daripada di rumah Toirin.

Ketika ditimbang, berat ikan itu mencapai 55 kilogram. Bahkan, pertumbuhan ikan nisbi hampir sama berat badannya.

Toirin adalah salah satu warga yang mendapatkan bantuan pembinaan dari Bank Indonesia Kediri. Mereka diberikan bantuan berupa budi daya ikan lele. Kolam beton yang ada di halaman mereka dibangun dengan ukuran tersebut.

Kecil memang. Kolam itu hanya menampung sekitar 1.000 ekor ikan lele yang disemai sejak kecil ukuran 5 centimeter. Benih diambilkan dari Kediri, yang merupakan hasil kerja sama dengan kelompok Koperasi Jayabaya Kabupaten Kediri.

Toirin adalah salah satu dari sekian warga yang ada di desa itu menderita tunagrahita. Keterbatasannya untuk bekerja membuat ia tidak dapat sepenuhnya bisa menjadi kepala keluarga.

Selama ini, istrinya Pomiyah yang lebih banyak bekerja. Menanam berbagai hasil bumi seperti jagung. Beruntung, keluarga ini masih mempunyai sebidang tanah hasil warisan orang tua zaman dahulu.

Secara ekonomi, keluarga ini sangat sederhana. Mereka tinggal di rumah dengan dinding tembok ditambah dengan anyaman bambu. Praktis tidak ada barang berharga terlihat di rumah itu. Hanya ada kursi, tempat tidur, itupun sudah usang.

Setiap hari, pasangan ini tinggal berdua. Sebenarnya, mereka punya anak. Namun, saat ini merantau ikut dengan salah seorang tetangga ke luar Pulau Jawa, tepatnya Kalimantan dan belum pulang. Biasanya, ia pulang satu tahun sekali saat Idul Fitri.

Tidak banyak yang diinginkan pasangan yang sudah berusia senja ini. Walaupun mereka hidup dalam kondisi memprihatinkan, mereka terlihat menerima. Beruntung, sejumlah bantuan masih diterima pasangan ini, seperti raskin. Mereka juga masih punya simpanan berupa jagung, yang merupakan hasil ladang mereka.

Untuk makan pun, rupanya tidak muluk-muluk. Mereka masih bisa memasak dan makan seadanya, baik itu jagung, ketela pohon yang diubah jadi tiwul, sampai beras hasil bantuan pemerintah, raskin.

Kampung Idiot
Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, ini dikenal dengan sebutan "kampung idiot". Nama kampung ini disematkan saking tingginya warga yang menderita tunagrahita.

Kepala Desa Karangpatihan Daud Cahyono (51) mengatakan di desanya ini memang banyak warga yang menderia tunagrahita. Saat ini, terdapat 89 warga yang terdeteksi menderita tunagrahita.

"Dulu jumlahnya banyak sampai 170-an, tapi seiring usia mereka meninggal dan saat ini hanya tinggal 89 penduduk saja," ucapnya.

Pria yang dikaruniai empat orang anak ini menyebut sejarah di kampung itu. Awalnya, bencana besar melanda desa ini. Akibat serangan hama sekitar 1963-1967 dalam tempo yang sangat besar, membuat warga mengalami paceklik hebat.

Saking hebatnya, warga hidup seadanya. Tidak ada padi yang bisa dimakan, sehingga segala yang bisa dikonsumsi dimasak, seperti bonggol pepaya, pisang.

Kondisi yang serba sulit ternyata berpengaruh pada kesehatan mereka. Saat itu, belum ada bantuan yang bisa masuk. Akses jalan yang sulit juga membuat desa itu semakin terpinggirkan, sehingga lahirlah sejumlah generasi yang mengalami kekurangan gizi, bahkan sampai menderita tunagrahita.

Daud mengaku sempat malu ketika bertemu dengan sesama perangkat saat terdapat pertemuan di kabupaten. Tidak jarang telinganya panas, ketika mendengat bisik-bisik jika di kampungnya terdapat banyak warga idiot.

"Ini lo kepala desa yang di desanya banyak orang idiotnya," kata Daud menirukan ucapan sejumlah perangkat yang pernah ia dengar saat pertemuan.

Selain banyak warga yang menderita tunagrahita, di daerah itu juga masih banyak warga yang miskin. Jumlah warga yang ada di desa itu mencapai 45.694 jiwa dengan 1.722 kepala keluarga. Dari jumlah itu, 267 KK di antaranya termasuk warga miskin.

Akses jalan ke lokasi desa itu, kata Daud awalnya juga sulit. Bahkan, untuk pos kesehatan desa pun awalnya belum ada kantor sendiri. Pos pelayanan desa sudah ada sejak 1992, tapi masih menumpang di rumah salah seorang warga.

Namun, ia sadar dengan kondisi yang ada. Di tengah keterpukuran itu, akhirnya ia berusaha untuk membuat jalan dengan mengajukan berbagai bantuan kepada pemerintah.

Sejumlah perkembangan saat ini sudah nampak di desa yang terkenal dengan "kampung idiot" tersebut. Akses jalan saat ini sudah beraspal dan sejumlah bantuan dari luar sudah mulai masuk ke desa ini.

Program pemerintah pun seperti raskin juga sudah diberikan pada warga. Selain itu sejumlah program pemberdayaan dari instansi lain pun juga masuk, membuat warga semakin terbantu.

Kampung Lele
Kantor Bank Indonesia Kediri memberikan bantuan program pemberdayaan pada warga di kampung idiot tersebut. Mereka menilai perlu pemberdayaan pada warga miskin terutama yang menderita tunagrahita.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kediri Matsisno mengatakan Bank Indonesia sengaja fokus melakukan pemberdayaan pada warga di desa itu. Selama ini, desa itu terkenal dengan kampung idiot dan secara ekonomi masih banyak warga yang menderita kemiskinan.

"Prioritas untuk tumbuhkan semangat dan kegiatan usaha, untuk pendapatan mereka," ujarnya ketika ditanya latar belakang program pemberdayaan tersebut.

Ia mengatakan, selama ini warga di desa tersebut mayoritas hanya sebagai buruh tani. Mereka harus diberi kesempatan untuk meningkatkan potensi demi kehidupan yang lebih baik.

Bank Indonesia Kediri memberikan beragam program pemberdayaan mereka, di antaranya memberikan bantuan berupa ternak kambing, ayam, sampai ternak lele. Program-program itu diberikan untuk memberdayakan warga, sehingga mereka bisa meningkatkan taraf hidup menjadi lebih baik lagi. Secara nominal, terdapat sekitar Rp300 juta bantuan yang juga program CSR (tanggung jawab sosial perushaaan) Bank Indonesia Kediri dikucurkan di desa itu untuk program pemberdayaan.

Untuk ternak lele, bantuan lebih merata diberikan. Saat ini, terdapat 40 kolam ikan untuk ternak lele yang diberikan pada warga miskin dan yang menderita tunagrahita.

Mereka diberikan pelajaran dan pembinaan tentang budi daya ikan lele mulai dari perawatan, pemberian pakan, sampai panen.

Saat ini sudah terdapat 40 unit kolam ukuran 1x1,2 meter bantuan dari Bank Indonesia Kediri. Rencananya, akan ada tambahan 17 kolam lagi bantuan dari BI Jakarta diberikan pada warga di desa itu.

Warga lain pun juga mulai tertarik untuk usaha ternak lele ini. Saat ini, terdapat 23 kolam swadaya yang dibuat masyarakat. Kolam swadaya itu dibuat dengan ukuran lebih besar sekitar 4x6 meter.

Matsisno menyebut, animo masyarakat ini cukup tinggi untuk belajar berusaha. Ia berharap dengan usaha baru ini bisa mengubah citra di desa ini dari semula kampung idiot menjadi kampung lele.

"Kami berharap ini bisa diteruskan tanpa bantuan dari BI dan tidak 'disusui' (diberi bantuan) terus. Kami juga ingin agar ini langgeng untuk selamanya," tutur Matsisno.

Untuk menumbuhkan citra sebagai kampung lele, perangkat desa dibantu dengan kelompok masyarakat membuat kolam penampungan dan penjualan. Harga jual nisbi bersaing ketika dijual dalam bentuk eceran.

Saat ini, harga jual ikan lele di tingkat pengepul hanya Rp11.700 perkilogram. Padahal, jika dijual eceran bisa mencapai harga Rp14 ribu sampai Rp17 ribu perkilogram.

Ketua Kelompok Masyarakat Karangpatihan Bangkit Eko Mulyadi mengatakan untuk perawatan ternak lele memang memerlukan perhatian yang serius dan telaten. Sebab, yang diberi bantuan adalah orang yang menderita tunagrahita yang secara sumber daya manusia kurang.

Agar program berjalan dengan baik, ia sengaja melibatkan sekitar 36 orang warga di desa itu menjadi pemandu. Mereka ada yang menghitung keperluan pakan, memberi arahan memberi pakan, sampai melihat satu persatu kondisi ikan di masing-masing rumah warga penerima bantuan.

"Kami berikan jatah (pakan) 10 hari sekali. Kami sudah kemas pakan sesuai berat lele, sehingga mereka mudah memasukkan," kata Eko.

Selain membentuk pokmas, tanah kas desa juga digunakan untuk untuk kepentingan umum. Terdapat tanah kas desa seluas 4.350 meter persegi yang dimanfaatkan untuk umum. Hasilnya, 40 persen digunakan untuk membantu warga miskin khususnya warga yang menderita tunagrahita, 20 persen untuk pemupukan modal usaha, 20 persen untuk pengelola atau pengurus dan sisanya 20 persen untuk sewa lahan.

Sementara itu, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kabupaten Ponorogo Didik Setiyawan mengatakan pemerintah tidak menutup mata adanya kampung idiot tersebut. Pemerintah berupaya memberikan bantuan dan terus melakukan program pendampingan.

Didik mengatakan, pemerintah saat ini sudah membangun akses jalan ke lokasi itu. Selain itu, sejumlah program juga masuk di antaranya PNPM, raskin, dan program-program pemerintah lainnya.

Ia mengakui memang untuk pos kesehatan masyarakat masih belum maksimal, karena masih menumpang di rumah salah seorang warga. Namun, ia memberikan apreasiasi tinggi terhadap program-program dari instansi luar yang masuk ke desa itu.

"Kami memberikan bantuan dan pelatih dan kami lakukan berkelanjutan," kata Didik.

Menyinggung belum adanya sekolah luar biasa, ia mengatakan jika berkeinginan diperbolehkan untuk mengajukan proposal pendirian sekolah luar biasa di desa itu.

"Kami harapkan mereka mengajukan proposal untuk pendirian sekolah jika diinginkan," tukas Didik.(*)
Pewarta :
Editor: Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar