Jika sleep apnea tidak diobati selama 10 hingga 15 tahun, sekitar 75 persen kasus berpotensi berujung pada stroke

Surabaya (ANTARA) - Nasional Hospital Surabaya meluncurkan layanan terpadu penanganan gangguan tidur National Dream & Sleep Center, guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya tidur sehat bagi kesehatan tubuh menyeluruh.

Direktur Nasional Hospital Hendera Henderi dalam keterangan diterima di Surabaya, Kamis menegaskan layanan ini dirancang untuk memberikan diagnosis akurat dengan melibatkan berbagai disiplin, termasuk dokter jantung.

“Ini untuk memastikan penyebab utama gangguan tidur pasien dapat teridentifikasi dengan akurat, sehingga terapi yang diberikan benar-benar tepat sasaran,” katanya.

Peluncuran pusat layanan ini menjadi langkah awal menghadirkan kualitas hidup lebih baik melalui tidur sehat, seiring temuan medis terkait dampak serius gangguan tidur yang tidak ditangani.

Ia menekankan bahwa durasi tidur bukan satu-satunya indikator kualitas, namun kualitas tidur dinilai mampu memberikan pemulihan optimal bagi tubuh.

Dokter spesialis paru, Ignatius Hanny Handoko Tanuwijaya, menjelaskan organ vital seperti otak dan jantung sangat bergantung pada suplai oksigen optimal selama tidur.

“Jika sleep apnea tidak diobati selama 10 hingga 15 tahun, sekitar 75 persen kasus berpotensi berujung pada stroke. Sementara dari sisi jantung, risikonya juga meningkat signifikan, termasuk penyakit jantung koroner,” ujarnya.

Penurunan kadar oksigen, menurutnya, dapat mengganggu aliran darah ke organ vital dan meningkatkan risiko komplikasi.

Sementara gangguan tidur juga berkaitan dengan masalah metabolisme, termasuk peningkatan nafsu makan yang berujung obesitas, serta penurunan kualitas hidup dan produktivitas.

Dokter spesialis saraf, Neimy Novitasari, menyebut layanan mencakup pemeriksaan tidur semalam (sleep study) hingga terapi lanjutan seperti penggunaan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), yaitu alat bantu pernapasan untuk menjaga saluran napas tetap terbuka saat tidur.

Menurutnya, pendekatan dilakukan secara personal, termasuk bagi pekerja shift malam yang membutuhkan strategi khusus untuk mengembalikan ritme tidur sehat.

“Kurang tidur dalam satu malam tidak bisa langsung diganti. Tubuh membutuhkan waktu hingga dua hingga tiga hari untuk memulihkan kondisi tersebut. Karena itu, edukasi menjadi bagian penting dalam penanganan gangguan tidur,” ujarnya.

Ia menambahkan, perangkat pemantau tidur pada jam tangan pintar dapat membantu mendeteksi pola tidur sebagai langkah awal diagnosis.



Pewarta: Willi Irawan
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026