Pacitan - Lebih dari 21 hektare tanaman padi di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, dipastikan puso atau gagal panen akibat terendam banjir yang melanda sebagian lahan pertanian daerah tersebut. "Dari sebanyak 118,5 hektare yang terdampak, sekitar 21 hektare di antaranya puso," kata Kepala Seksi (Kasi) Alat Mesin Pertanian (Alsintan) dan Perlindungan Tanaman Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Pacitan Agus Rustamto, Senin. Banyaknya areal sawah yang terendam banjir disebabkan topografi lahan pertanian yang lebih rendah dibanding jalan raya ataupun permukiman. Akibatnya, ketika terjadi hujan deras air menggenangi lahan-lahan pertanian sebagaimana banyak terlihat di kawasan Kecamatan Pacitan. Data di dinas tanaman pangan dan peternakan bahkan menyebut luasan sawah yang terendam air hujan atau banjir terbanyak terjadi di sekitar pusat kota, yakni mencapai 72,5 persen dari total areal tanaman apdi yang dipastikan puso. Di Kelurahan Sidoharjo, Kcamatan Pacitan, misalnya, jumlah luasan sawah yang gagal panen mencapai 15-an hektare. Agus menengarai, kemungkinan total lahan puso masih dapat bertambah hingga mencapai 36 hektare, mengingat sampai sekarang masih ada sawah yang terendam banjir. Selain itu di wilayah kelurahan tersebut ada 22 hektare tanaman kacang tanah yang juga tergenang air. Di luar Kecamatan Pacitan masih ada sejumlah wilayah lain yang juga mengalami hal sama, yakni Kecamatan Arjosari seluas 17 hektare, Punung seluas 12 hektare, Donorojo seluas 11 hektare, dan Kecamatan Pringkuku seluas enam (6) hektare. Selain lainnya, masih ada sekitar 1,5 hektare lahan pertanian padi yang ikut rusak atau dipastikan gagal panen karena mengalami longsor, tepatnya di Kecamatan Bandar dan Nawangan. Agus menambahkan, ada beberapa hal yang membuat pihaknya memprediksi luasan lahan berpotensi puso, di antaranya usia tanaman dan lamanya terendam. Usia tanaman, misalnya, padi saat ini baru berusia 30-45 hari sehingga tinggi tanaman belum seberapa. Sedangkan lama rendaman air, jika lebih dari tiga hari bakal menyebabkan tanaman mati. "Padahal menurut prakiraan BMKG (Badan Metereologi Klimatologi Dan Geofisika) potensi hujan masih akan terjadi selama beberapa pekan ke depan dengan intensitas tinggi," katanya. (*)


Editor : Didik Kusbiantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2026