Jakarta - Kurs mata uang rupiah pada Rabu pagi bergerak tertekan cukup dalam ke posisi Rp9.790 per dolar AS didorong faktor teknik, kata pengamat pasar Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih di Jakarta.
Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta bergerak melemah sebesar 130 poin menjadi Rp9.790 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.660 per dolar AS.
"Secara teknikal, pergerakan rupiah rawan tekanan psikologis jika tidak ada penjagaan kuat dari Bank Indonesia," katanya.
Ia menambahkan, tekanan rupiah diperkirakan dapat terus bertambah, namun kemungkinan mata uang domestik bisa akan dibawa kembali ke level yang dinilai stabil.
Ia mengatakan, posisi cadangan devisa Indonesia pada 2012 sebesar 112,8 miliar dolar AS, naik 2,41 persen dibandingkan posisi 2011 yang tercatat 110,1 miliar dolar AS dapat menjadi sentimen positif bagi rupiah.
"Naiknya posisi cadangan devisa berpotensi membawa nilai tukar rupiah menguat," katanya.
Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra menambahkan, pelaku pasar tengah menyesuaikan posisi jelang pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis (10/1).
"Setiap sinyal pemangkasan suku bunga di masa depan dari para pembuat kebijakan ECB berpotensi menekan mata uang berisiko," katanya.
Selain itu, lanjut dia, mata uang berisiko termasuk rupiah juga akan terbebani oleh rumor yang menyebutkan jika peringkat utang Perancis akan diturunkan dalam waktu dekat. (*)
Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.