pekerjaan terbesar industri kreatif Indonesia bukan hanya menguasai teknologi, melainkan memastikan bahwa ketika mesin semakin pandai menciptakan wajah Indonesia, manusia tetap menjadi penjaga jiwa ceritanya.

Surabaya (ANTARA) - Belakangan ini ada satu kebiasaan baru yang menarik perhatian ketika menonton serial drama pendek di media sosial. Ceritanya berbeda, tetapi setelah beberapa menit menonton muncul perasaan, bukankah cerita seperti ini pernah saya tonton?

Dalam satu cerita, misalnya, seorang pedagang datang ke sebuah desa untuk membeli semangka milik warga. Harga yang ditawarkan dianggap terlalu rendah. Warga tidak percaya, memprotes, bahkan memusuhinya.

Sang pedagang akhirnya pergi dan membeli hasil panen dari desa tetangga. Tidak lama kemudian harga semangka jatuh. Warga yang sebelumnya menolak justru kesulitan menjual hasil panen. Penyesalan pun datang. Cerita selesai.

Beberapa waktu kemudian muncul serial lain dengan alur yang hampir sama. Hanya saja semangka berubah menjadi jeruk. Di cerita berikutnya mungkin menjadi sawi, apel, beras, atau komoditas lainnya. Tokohnya berganti. Lokasinya berbeda. Pakaiannya berubah. Namun, formula konfliknya nyaris sama. Anehnya, kita tetap menonton.

Fenomena serupa terjadi pada cerita tentang seseorang yang terlahir kembali atau kembali ke masa lalu. Tokoh utama biasanya pernah miskin, dikhianati, kehilangan kekayaan, salah memilih pasangan, atau meninggal secara tragis.

Tiba-tiba ia mendapatkan kesempatan mengulang kehidupan dengan tetap membawa ingatan dari masa depan. Ia mengetahui siapa yang akan mengkhianati. Ia tahu bisnis apa yang akan berkembang. Ia mengetahui tanah yang kelak menjadi mahal. Kesalahan dalam kehidupan pertama diperbaiki pada kehidupan kedua.

Tidak masuk akal? Tentu saja. Tetapi barangkali justru di situlah daya tariknya. Hampir setiap orang pernah mengatakan: “Seandainya waktu itu saya mengambil keputusan yang berbeda.” Drama memberi penonton sesuatu yang tidak diberikan kehidupan nyata: kesempatan mengulang masa lalu.

Dalam kajian komunikasi, keterikatan semacam ini dapat dijelaskan melalui narrativetransportation yang dikembangkan oleh MelanieGreen dan TimotyBrock. Ketika seseorang benar-benar larut dalam sebuah cerita, perhatian, emosi dan imajinasinya seolah berpindah memasuki dunia narasi.

Penonton tidak sekadar melihat cerita dari luar, tetapi secara emosional dan imajinatif seakan ikut mengalami apa yang terjadi di dalamnya. Karena itu, cerita yang sudah dapat ditebak belum tentu kehilangan daya tariknya.

Kita mungkin sudah tahu tokoh utama akan menang. Yang membuat kita bertahan adalah keinginan melihat bagaimana kemenangan itu terjadi. Yang kemudian berubah secara drastis bukan hanya ceritanya, melainkan cara cerita tersebut diproduksi.

Ketika AI Masuk ke Ruang Produksi
Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah industri audiovisual. Dahulu, imajinasi selalu berhadapan dengan biaya produksi. Penulis boleh membayangkan kerajaan, peperangan, desa seratus tahun lalu, atau kota masa depan. Namun, produser harus menghitung kebutuhan lokasi, aktor, kostum, tata artistik, kamera, pencahayaan, transportasi, hingga efek visual.

AI generatif mulai mengubah keterbatasan tersebut. Karakter dapat diciptakan secara digital. Latar dapat dihasilkan dengan AI. Usia karakter dapat dimodifikasi. Suara dapat disintesis. Cuaca dapat diganti. Lokasi yang sebenarnya tidak pernah ada dapat divisualisasikan.

Indonesia pun sudah memasuki fase tersebut. Data AI Cinefest 2026 menerima 1.111 karya film pendek berbasis AI dari berbagai daerah di Indonesia. Jumlah itu melampaui target awal 1.000 karya. Dalam kompetisi tersebut, storytelling justru mendapatkan bobot penilaian terbesar, yakni 35%, sementara penggunaan kreatif AI berbobot 30%.

Angka tersebut menarik. Lebih dari seribu karya menunjukkan AI bukan lagi teknologi yang hanya dibicarakan di seminar. Teknologi tersebut sudah berada di tangan kreator Indonesia.
Hari ini mungkin video pendek. Besok serial. Beberapa tahun mendatang, bentuk produksi audiovisual kita bisa jauh berbeda dibandingkan sekarang.

Industri televisi juga mulai bereksperimen. Pada 2026, TRANS7 menghadirkan Legenda Bertuah, program yang mengangkat cerita rakyat Nusantara dengan penggunaan AI dalam proses produksinya. Kisah Timun Mas, Malin Kundang, Sangkuriang, RaraJonggrang, hingga Danau Toba memperoleh bentuk visual baru melalui teknologi generatif.

Menariknya, penggunaan AI tidak serta-merta membuat manusia hilang dari proses produksi. Dalam laporan ABC mengenai produksi program tersebut, satu episode masih membutuhkan sekitar satu bulan pengerjaan dan melibatkan sekitar sepuluh orang. Ada pekerjaan manusia dalam storyboard, pengembangan naskah, penyuntingan, kesepakatan visual, hingga pengoperasian prompt.

Fakta ini menunjukkan bahwa pertanyaan mengenai AI dan industri kreatif tidak sesederhana “mesin menggantikan manusia”. Yang sedang terjadi tampaknya lebih dekat pada perubahan pembagian kerja.

Perubahan berikutnya bahkan lebih menarik. AI kini semakin mampu menghasilkan cerita yang secara visual terasa dekat dengan Indonesia. Kita dapat menjumpai karakter mengenakan kebaya, pakaian tradisional Jawa, seragam sekolah khas Indonesia, serta latar berupa desa, sawah, pasar dan rumah tradisional.

Cerita global dapat dengan cepat mendapatkan wajah lokal. Tokohnya dibuat berwajah Indonesia. Pakaiannya menjadi kebaya. Rumahnya menyerupai joglo. Latar belakangnya persawahan. Dialognya menggunakan Bahasa Indonesia. Sekilas, jadilah cerita Indonesia.

Namun, apakah mengenakan kebaya sudah cukup untuk membuat sebuah cerita menjadi Jawa? Di sinilah persoalan menjadi lebih kompleks. Budaya bukan hanya sesuatu yang terlihat. Budaya hidup dalam bahasa, dialek, humor, tata krama, hubungan anak dengan orang tua, relasi antargenerasi, cara menghormati orang yang lebih tua, tradisi, ritual, hingga cara suatu masyarakat menyelesaikan konflik.

AI dapat membuat seorang perempuan mengenakan kebaya dalam hitungan detik. Namun, memahami kapan kebaya dikenakan, dalam konteks apa, oleh siap, dan makna sosial yang menyertainya adalah persoalan berbeda.

AI dapat menghasilkan rumah joglo yang sangat indah. Tetapi rumah bukan hanya bentuk bangunan. Di dalamnya terdapat sejarah, relasi sosial, nilai, dan cara hidup.

Tantangan ini menjadi penting bagi Indonesia yang mempunyai keragaman budaya sangat besar. UNESCO mencatat Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa lokal. Bahasa Indonesia sendiri, meskipun digunakan ratusan juta orang, masih menghadapi persoalan keterwakilan dalam dataset penelitian AI. Artinya, membuat sesuatu terlihat Indonesia relatif lebih mudah dibandingkan membuat mesin benar-benar memahami Indonesia.


Di sinilah peluang sekaligus risiko bagi industri kreatif nasional. Jangan sampai budaya Indonesia hanya menjadi semacam skin yang ditempelkan pada formula cerita global. Ceritanya sama. Konfliknya sama. Karakternya sama. Cara berpikir tokohnya sama. Hanya pakaiannya diganti kebaya, rumahnya menjadi joglo, tokohnya diberi nama Jawa, lalu kita menyebutnya sebagai cerita Indonesia. Secara visual mungkin Indonesia. Secara kultural belum tentu. 

Padahal di sisi yang lain, Indonesia mempunyai sumber cerita yang hampir tidak ada habisnya. Jawa, Madura, Minangkabau, Dayak, Bugis, Bali, Papua, dan berbagai komunitas lainnya mempunyai bahasa, humor, mitologi, nilai, konflik sosial, serta cara memandang kehidupan yang berbeda. 

Di sinilah AI seharusnya memberikan nilai tambah. Teknologi tersebut jangan hanya digunakan untuk membuat cerita asing terlihat Indonesia. AI justru dapat menjadi alat untuk membuat cerita Indonesia semakin terlihat oleh dunia.

Drama Tanpa Aktor?
Kemudian muncul pertanyaan yang lebih sensitif: bagaimana nasib aktor?. AI dapat menciptakan wajah sesuai keinginan pembuat cerita. Usianya dapat diatur. Rambutnya dapat diganti. Pakaiannya dapat berubah dalam hitungan detik. Karakter digital tidak kelelahan mengulang adegan. Ia tidak terlambat datang ke lokasi. Bahkan, secara teknis, ia tidak membutuhkan lokasi syuting.

Jika nilai aktor hanya diletakkan pada penampilan fisik, AI menjadi pesaing yang berat. Namun, justru di sinilah nilai seorang aktor perlu didefinisikan kembali. Aktor membawa interpretasi karakter, improvisasi, pengalaman hidup, gestur, chemistryantarpemain, dan kemampuan menghadirkan emosi yang dipercaya penonton.

AI dapat menghasilkan gambar seseorang yang menangis. Tetapi aktor mempunyai tugas lebih sulit: membuat penonton memahami dan ikut merasakan mengapa seseorang menangis. Sutradara menghadapi perubahan serupa.

AI dapat membantu membuat storyboard, latar, karakter, bahkan sebagian proses penyuntingan. Tetapi ketika mesin semakin mudah menghasilkan gambar, seseorang justru semakin dibutuhkan untuk menentukan mengapa gambar tersebut perlu dibuat.

Perintah “buat desa Jawa tahun 1980-an” mungkin dapat menghasilkan visual dalam waktu singkat. Namun, sutradara harus bertanya: Jawa yang mana? Bagaimana masyarakatnya berbicara? Bagaimana seorang anak berbicara kepada orang tua? Apa yang dianggap sopan pada masa tersebut? Bagaimana relasi laki-laki dan perempuan? Bagaimana masyarakat memahami keluarga dan status sosial? AI menghasilkan kemungkinan. Manusia memberikan konteks.

Pada akhirnya, kita kembali kepada cerita semangka tadi. Hari ini semangka. Besok jeruk. Lusa mungkin sawi. Desa dapat berubah menjadi kerajaan. Tahun 2026 dapat berubah menjadi 1926. Wajah dapat diganti. Lokasi dapat diciptakan. Pemainnya bahkan mungkin tidak pernah benar-benar berdiri di depan kamera.

AI membuat hampir semuanya semakin mudah diganti. Namun, justru ketika segala sesuatu semakin mudah diganti, sesuatu yang tidak mudah diganti menjadi semakin berharga: makna.
Manusia mempunyai pengalaman, ingatan, kegagalan, cinta, humor, trauma, penyesalan, dan harapan. Manusia juga mempunyai budaya. Itulah bahan baku cerita yang sesungguhnya. 

Masa depan industri drama Indonesia tidak seharusnya berhenti pada perdebatan apakah AI akan menggantikan aktor atau sutradara. Pertanyaan yang lebih strategis adalah: cerita Indonesia seperti apa yang ingin kita bawa memasuki era AI?

AI dapat membuat perempuan berkebaya berdiri di depan rumah joglo dengan visual yang hampir sempurna. AI dapat membuat aktor virtual menangis. AI bahkan dapat menciptakan desa yang tidak pernah ada. Namun, membuat penonton berkata: “Ini seperti kehidupan yang saya kenal,” membutuhkan lebih dari sekadar teknologi. Ia membutuhkan pemahaman terhadap manusia. Drama tanpa aktor mungkin dapat dibuat. Namun, cerita tanpa kemanusiaan akan kehilangan alasan untuk ditonton.

Di tengah kecanggihan AI, pekerjaan terbesar industri kreatif Indonesia bukan hanya menguasai teknologi, melainkan memastikan bahwa ketika mesin semakin pandai menciptakan wajah Indonesia, manusia tetap menjadi penjaga jiwa ceritanya.

------

*) Penulis adalah Kepala Laboratorium Film, Fotografi dan Iklan Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UPN “Veteran” Jawa Timur, Kandidat Doktor Ilmu Sosial Universitas Airlangga



Editor : A Malik Ibrahim
COPYRIGHT © ANTARA 2026