Ponorogo (ANTARA) - Suasana kegiatan "Literacy Camp" di Markas Sutejo Spektrum Center (SSC), Ponorogo, Jawa Timur, Jumat (25/9) menjadi penuh haru. Tangisan para murid, guru, dan mentor tidak bisa ditahan. 

Dr Sutejo, MHum, mentor dalam kegiatan itu membawa suasana lebih haru, dengan menyampaikan untaian kata hipnosis agar para peserta  memaafkan semua kekurangan orang tua.

Sutejo, dengan metode hipnosis, menyampaikan dirinya sebagai orang tua yang banyak berbuat salah dan membuat luka batin pada anak-anak dari SMKN Sawoo, Ponorogo, tersebut.

Sutejo dan saya sebagai mentor kemudian berkeliling memutari para murid satu persatu. Mereka dipeluk dengan diringi permintaan maaf sebagai orang tua pengganti.

Para murid diajak memaafkan orang tua dan menerima mereka apa adanya. Pada sesi itu, anak-anak tidak mampu membendung air matanya. Sesenggukan. 

Peristiwa dalam pelatihan menulis di rumah yang semua dindingnya dipenuhi puluhan ribu buku tersebut berjalan spontan dari Sutejo, penggerak literasi yang juga mahir sebagai hipnoterapis.

Sesi di luar skenario pelatihan itu berawal dari beberapa ekspresi tulisan para murid yang menceritakan penderitaan batinnya, terkait dengan keadaan orang tua.

Ketika itu, seluruh murid diminta membaca hasil tugas untuk mendeskripsikan pengalaman hidup yang paling menyenangkan atau paling menyedihkan.

Khalisa, murid pertama, mulai terlihat mimik mukanya sedih. Ia membaca hasil tulisannya sambil merunduk. Kemudian dia mengubah posisi duduk, dari awalnya menghadap ke arah teman-temannya, memutar menghadap dinding dan merunduk.

Kemudian, Fameliya bercerita mengenai orang tuanya. Dia juga tidak mampu menahan tangis, bahkan, hingga sesenggukan.

Naila, menceritakan pengalaman yang lebih pedih, meskipun ekspresinya tidak sesedih Khalisa dan Fameliya.

Naila menceritakan perceraian orang tuanya yang membawa rasa sedih atas perpisahan orang terkasihnya itu.

Setelah itu, beralih ke murid laki-laki. Hanief membuka tulisannya dengan identifikasi diri yang lahir di lingkungan "diam adalah emas".

Hanief membuka sesuatu mengenai pola asuh dan keberadaan orang tua yang tidak hadir penuh pada jiwa anak.

Hanif dan murid lain tidak gengsi ketika harus menangis di depan banyak orang yang secara sosial berpotensi dinilai kurang baik.

Tokoh psikoanalisis Carl Gustav Jung mengemukakan anima animus, yakni di dalam setiap laki-laki ada potensi feminim. Sebaliknya, dalam setiap perempuan ada potensi maskulin.

Hanief adalah representasi dari anak-anak yang terabaikan oleh orang tuanya. Dia tidak sendirian. Begitu banyak anak-anak masa kini yang terjebak dalam rasa tidak digubris oleh orang tuanya.

Ketika menceritakan pengalaman itu. Khalisa, Fameliya. Naila, dan Hanif, sesungguhnya telah menjelma menjadi guru kehidupan yang mengingatkan para orang tua di manapun untuk selalu hadir menemani jiwa anak, bukan sekadar fisik.

Hanif dan Fameliya mengingatkan para orang tua agar memberi ruang batin bagi anak-anaknya untuk didengarkan. Ditemani ketika anak merasa rapuh. Diberikan sandaran ketika jiwanya merasa tidak kuat.

Sementara Naila mengingatkan para orang tua untuk kuat mempertahankan tali pernikahan, seberat apapun masalah yang dihadapi. Pilihan bercerai, mungkin menyelesaikan masalah (sementara ) bagi orang tua, namun meninggalkan luka mendalam bagi batin anak yang tidak jarang sulit disembuhkan.

Di sisi lain, Naila juga menjadi guru bagi generasi seusianya untuk mensyukuri keadaan orang tuanya yang masih utuh.

Sutejo terlihat kagum dengan keberanian dan keterbukaan anak-anak SMK dari daerah pedesaan yang begitu antusias mengikuti pelatihan. Mereka juga antusias menjalankanctugss dari mentor untuk memulai menulis.

Karena itu, ia tertarik untuk menjadikan beberapa murid itu sebagai anak asuh untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Sutejo juga terkesan dengan semangat Kepala SMKN Sawoo Elvi Nur Mufidah, MPd yang juga bersemangat mendukung kegiatan literasi bagi para murid, dengan guru pembimbingnya Edo Muftiandar.

Elvi Nur Mufidah sendiri , ketika membuka kegiatan literasi tersebut menyampaikan sekolah yang peduli pada peningkatan kualitas literasi, bukan sekolah yang sekadar mencari nama.

"Kami ingin SMKN Sawoo ini menjadi sekolah yang memberi arti," kata kepala sekolah dari jurusan teknik mesin, namun sudah menerbitkan 7 buku tersebut.

Selain untuk para murid, Elvi juga bersemangat mengikutkan para guru untuk kegiatan serupa di masa mendatang. Karena para guru sudah memiliki penguasaan keilmuan sesuai mata pelajaran yang diampu dan pengalaman membersamai murid dapat menjadi bahan untuk ditulis, kemudian diterbitkan menjadi buku.

Bagi Edo Muftiandar, kegiatan literasi ini merupakan sarana bagi keinginan para muridnya yang ingin belajar menulis.

Kegiatan yang menghadirkan mentor, Dr Sutejo, MHum (dosen,  penulis dan penggerak literasi) serta Masuki M. Astro (redaktur karangan khas LKBN ANTARA) itu berlangsung dua hari, Jumat (25/9) hingga Sabtu (26/9).

 



Pewarta: Masuki M. Astro
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026