Bojonegoro - Buku dengan judul "Jejak Petilasan Angling Darma" yang berisi tentang Kerajaan Malawapati di Bojonegoro dicetak awal 2012, setelah mendapatkan persetujuan Bupati Bojonegoro, Suyoto. Kepala Bidang Pengembangan dan Pelestarian Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disburpad) Bojonegoro, Saptatik, Rabu mengatakan, pencetakan buku Jejak Anglingdarma tersebut, menunggu hasil revisi yang kemudian diajukan kepada Bupati Bojonegoro untuk mendapatkan persetujuan. Setelah itu, lanjutnya, buku Jejak Petilasan Anglingdarma tersebut batu dicetak yang dijadwalkan, bisa dilaksankan pada awal 2012. "Bagi Bojonegoro, paling tidak adanya buku itu bisa menjadi dokumen," katanya menjelaskan. Ia menjelaskan, revisi buku tersebut, dilakukan penulisnya, Drs. Sukari dan Dra. Suyami, Mhum, dari Balai Pelestarian Nilai Sejarah dan Tradisi (BPNST) Yogyakarta. Ini setelah keduanya yang datang ke Bojonegoro, mendapatkan berbagai masukan dari berbagai kalangan di Bojonegoro. Antara lain, seniman, budayawan dan wartawan yang digelar dalam loka karya sehari yang lalu. "Revisi di antaranya, seperti ada salah ketik dalam tulisan itu, lokasi tempat yang berbeda juga yang lainnya," ungkapnya. Yang jelas, menurut dia, di dalam loka karya tersebut menghasilkan kesimpulan yang sama yakni legenda Anglingdarma harus bisa menjadi fakta sejarah, bukan hanya sebatas legenda di masyarakat. Sebab, katanya, dari tinjauan ilmiah dan mata batin, sepakat dibutuhkan penelitian arkeologi di Desa Wotangare, Kecamatan Kalitidu, untuk membuktikan keberadaan Kerajaan Malawapati dengan rajanya Prabu Anglingdarma. "Dari keterangan yang ada keberadaan Kerajaan Malawapati ada kaitannya dengan kerajaan yang ada di tanah Jawa," jelasnya. Namun, lanjutnya, peneliti dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Mojokerto, yang pernah datang dua kali ke lokasi tanah "mbag" yang disebut-sebut lokasi Kerajaan Malawapati, belum bisa menentukan lokasi persinya situs Mlawatan. "Karena belum ditentukan lokasi situs, ekskavasi masih sulit dilakukan," katanya menambahkan. Dalam keterangannya, Sukari dan Suyami mengaku, sebelum melakukan penulisan buku itu, pada 2009, melakukan survei langsung di lokasi Desa Wotangare, Kecamatan Kalitidu. Dalam survei itu, penulis juga melakukan wawancara dengan sejumlah tokoh di desa setempat, melakukan peninjauan lapangan sejumlah peninggalan purbakala yang berhasil dikumpulkan warga.

Pewarta:

Editor : Chandra Hamdani Noer


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2011