Pemkab Madiun melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Madiun menggelar Bursa Inovasi Desa ‘Cluster’ 2 di Desa Ngampel, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Kamis (29/8).

Bupati Madiun, Ahmad Dawami menjelaskan Bursa Inovasi Desa digelar untuk saling bertukar pikiran antardesa tentang inovasi desa.

“Dasar dilaksanakannya kegiatan ini agar inovasi yang baik bisa menular ke desa yang lain. Tentunya yang menguntungkan, yang ramah lingkungan,” jelas Bupati Ahmad Dawami di sela-sela meninjau stan Bursa Inovasi Desa di halaman Kantor Desa Ngampel, Kamis.

Menurut dia, kegiatan bursa inovasi desa tersebut sebenarnya merupakan tahap pembelajaran. 

“Kegiatan ini sebenarnya merupakan tahap pembelajaran, untuk saling tukar pikiran, tukar pengalaman untuk modal kembali ke desa. Di setiap desa itu yang bisa dilihat dan dipotensikan apa saja,” katanya.

Bupati Ahmad Dawami menambahkan, potensi-potensi desa di Kabupaten Madiun sebenarnya sudah terlihat, namun perlu dimasifkan lagi.

Kalau desa sudah menunjukkan potensinya, dan sudah memiliki semangat untuk mengembangkan potensi itu, maka Pemkab akan mendukungnya.

“Kami (Pemkab Madiun) tidak akan tinggal diam, pasti akan kami dukung. Misalnya sebuah desa punya inovasi apa, kalau memang berdampak pada peningkatan pendapatan, kemaslahatan masyarakat, Pemkab pasti akan mendukung sekali,” tegasnya.

Bursa Inovasi Desa ‘Cluster’ 2 diikuti desa-desa di tujuh Kecamatan di Kabupaten Madiun wilayah utara . Meliputi Kecamatan Sawahan, Balerejo, Pilangkenceng, Saradan, Mejayan, Wonoasri dan Gemarang.

Kegiatan Bursa Inovasi Desa di Kabupaten Madiun sengaja dibuat dalam dua ‘cluster’. ‘Cluster’ 1 desa-desa yang berada di wilayah Kabupaten Madiun selatan, sedangkan ‘cluster’ 2 di wilayah utara.

Menurut Bupadi Ahmad Dawami pembagian dalam dua ‘cluster’ dimaksudkan agar pelaksanaannya lebih, efetkif.
“Secara geografis, inovasi itu kan ada kemiripan di masing-masing wilayah, yaitu wilayah utara dan selatan. Misalnya wilayah pegunungan yang ada di wilayah selatan mungkin tidak sama dengan wilayah pegunungan utara,” tuturnya.

Pada saat meninjau stan Bursa Inovasi Desa, ia memberikan pengarahan kepada Tim Pelaksana Inovasi Desa (TPID) tentang solusi pengurangan penggunaan plastik.

Dia misalnya mengajak TPID untuk memasyarakatkan kembali penggunaan bahan alami ramah lingkungan, seperti mendong dan enceng gondok yang bisa dibuat menjadi anyam-anyaman.

Sementara itu Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Madiun, Joko Lelono menyebutkan kegiatan Bursa Inovasi Desa dimaksudkan untuk mendorong pemanfaatan dana desa agar lebih efektif, efisien dan tepat sasaran.

“Banyak ide kreatif yang muncul yang dari desa. Ide kreatif antardesa ini bisa dibuat replika antardesa. Sehingga perencanaan pembanguan desa itu tidak hanya monoton. Maka penggunaan dana desa bisa lebih efetktif dan tepat sasaran,” jelasnya.

Dia mengatakan, dana desa saat ini sudah memasuki tahun kelima, dan setiap tahun jumlahnya terus dinaikkan, termasuk di Kabupaten Madiun.

Sesuai data hasil evaluasi, kata dia, penggunaan dana desa pada 2018 sebesar 82 persen didominasi untuk kegiatan fisik. 

“Ini perlu menjadi perhatian kita bersama. Karena kegaitan fisiknya pun bukan yang bisa mendorong penggerakan ekonomi desa, misalnya untuk pembangunan gapura besar-besaran,” sebutnya.

Maka mulai 2019 dan ke depan dia minta agar porsi untuk pemberdayaan masyarakat lebih ditingkatkan.

“Saya mohon perencanaan ke depan, dana desa yang dari pusat jangan hanya untuk kegiatan fisik, karena masyarakat butuh sejahtera,” tandasnya.

Dia berharap Bursa Inovasi Desa bisa menjadi ajang tukar informasi antardesa. Sehingga bisa saling memberikan masukan untuk membuat perencanaan pada tahun yang akan datang. (*)

Video Oleh Siswowidodo
 

Pewarta: Siswowidodo

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2019