Perum Jasa Tirta mengurangi jatah pasokan air untuk menggerakkan turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Niyama karena alasan menjaga stok atau sediaan air baku untuk irigasi maupun kebutuhan lain selama kemarau.

Hal itu sebagaimana diungkapkan Kepala Sub Divisi I-3 Jasa ASA Tulungagung, Hadi Witoyo, Jumat (23/8) menindaklanjuti dampak kemarau yang memicu turunnya suplai air waduk dari sumber-sumber air utama di Waduk Wonorejo.

"Ada jatah pasokan yang dikurangi. Dan keputusan mengenai hal ini sudah kami diskusikan dengan pihak PJB unit PLTA Niyama dengan memberlakukan operasional terjadwal," kata Hadi Witoyo menjelaskan.

Jika kondisi normal PLTA Niyama bisa beroperasi 24 jam nonstop, kini hanya dijalankan 8 jam per hari.

Pembatasan suplai air ke PLTA Niyama itu telah berlaku sejak Juni, dan diperkirakan berlanjut hingga kemarau berakhir pada November.

"Saat ini aliran dari Kali Song nol, sedangkan tiga sungai lain yakni Kali Putih, Bodeng dan Kali Wangi tinggal sekitar 1,5 - 2 meter kubik per detik," kata Hadi.
PlTA Niyama (Ist)


Kondisi itulah yang melatarbelakangi pihak Perum Jasa Tirta selaku pengelola Bendungan/Waduk Wonorejo untuk menerapkan pola pengendalian. Hal itu agar stok air waduk tetap terjaga pada level yang telah ditetapkan.

"Untuk kondisi kemarau seperti ini outflow kami fokuskan untuk irigasi serta memasok kebutuhan air untuk industri PG Mojopanggung yang saat ini sudah mulai giling, sedangkan PLTA tidak lagi menjadi prioritas," ujarnya.

PLTA berkapasitas 6,3 MW yang berada di bawah kendali PJB tersebut harus mengikuti pola yang diterapkan oleh pihak Jasa Tirta. Sebab apabila tetap beroperasi selama 24 jam penuh maka akan berdampak terhadap stok air di waduk.

"Dari sebelumnya 24 jam sekarang tinggal 8 jam sehari, itu biasanya dioperasikan pada saat beban puncak saja, mulai pukul 17.00 WIB," katanya.

Pada musim kemarau ini jumlah air yang digelontorkan untuk suplai PLTA, irigasi pertanian dan kebutuhan PG Mojopanggung hanya 3,64 meter kubik/detik, dari kondisi normal 10-11 meter kubik/detik.

Namun pihaknya memastikan dengan strategi pengelolaan yang terencana, saat ini stok air di Bendungan Wonorejo masih dalam kondisi aman dan masih mencukupi untuk kebutuhan air hingga November mendatang.

Volume air saat ini, elevasi ketinggian muka air waduk 176,49 mdpl dari pola yang kami terapkan 174,03 mdpl, artinya kami masih surplus sekitar 2 mdpl.

"Sedangkan apabila diukur dari titik terendah operasional waduk yakni 150 mdpl kami masih punya cadangan air sekitar 64 juta meter kubik," katanya. 
 

Pewarta: Destyan H. Sujarwoko

Editor : Didik Kusbiantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2019