Pengamat politik sekaligus peneliti Surabaya Survey Center (SSC) Surokim Abdusalam menilai masuknya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dalam jajaran DPP PDI Perjuangan kian membuat Pilkada Surabaya 2020 semakin dinamis.

"Bu Megawati memang selalu mengagetkan, zigzag dan sulit diterka. Dinamika di daerah dan pusat bisa berbeda-beda polanya," kata Surokim kepada ANTARA di Surabaya, Minggu.

Keputusan Wali Kota Risma masuk dalam kepengurusan DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan periode 2019-2024 dengan jabatan Ketua Bidang Kebudayaan, diketahui pada saat sidang paripurna Kongres V PDIP di Sanur, Bali, Sabtu (10/8).

Menurutnya, dengan masuknya Risma dalam kepengurusan DPP PDI Perjuangan, maka faksi Risma dengan intensitas bertemu Megawati akan kian menguatkan posisi calon yang ingin di-sounding-kan kian seru dan dinamis.

"Masing-masing faksi akan menguatkan posisinya. Selain faksi Risma yang menguat di DPP, maka saya pikir faksi Bambang DH (mantan Ketua Bappilu DPP PDI Perjuangan dan mantan Wali Kota Surabaya) akan bertumpu pada kekuatan DPC dan kekuatan ranting di Surabaya," ujarnya.

Sementara faksi Wishnu Sakti Buana (mantan Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya dan Wakil Wali Kota Surabaya), lanjut dia, juga tidak kalah gesit karena masih ada orang dekatnya seperti Djarot Syaiful Hidayat yang masuk kepengurusan DPP PDI Perjuangan dan Puti Guntur yang merupakan kekuatan gen Soekarno.

"Jadi kian dinamis Pilkada Surabaya dan masih sulit ditebak arahnya. Hanya menurut saya faksi Risma leading sedikit saja di atas dua faksi yang lain dan bisa jadi akan terus berubah melihat politik zigzag Megawati," katanya.

Meski demikian, kata dia, faksi Bambang DH tidak otomatis lemah karena masih punya kekuatan di DPC PDI Perjuangan Surabaya. Jika Bambang DH sukses menguatkan basisnya di kepengurusan baru di anak cabang dan ranting, maka faksi Bambang DH tetap layak dihitung disamping dua faksi yang lain.

"Artinya semua kekuatan faksi PDI Perjuangan di Surabaya punya plus minus tinggal bagaimana momentumnya akan berpihak kepada siapa di bulan-bulan Maret dan April tahun depan. Momentum akhir menjelang pendaftaran calon akan menentukan," katanya.

Menurut dia, dengan Risma masuk DPP bagaimanapun membuktikan adanya kedekatan khusus dengan Megawati. Bisikan Risma tentu akan kian diperhatikan Megawati.

Selain itu, kata dia, naiknya Risma juga akan membuka peluang beliau masuk dalam pusaran kontes politik nasional, sekaligus menunjukkan betapa pengaruh Risma ke Megawati cukup kuat dan khusus.

Menurut dia, bagaimanapun banyak kepala daerah kader PDI Perjuangan yang juga berhasil, namun faktanya hanya Risma yang dipasang di pengurus DPP. Itu pertanda bahwa kedua pemimpin perempuan ini punya relasi khusus yang melintas batas struktur dan hubungan formal organisasi.

"Jauh melampaui semuanya itu saya pikir karena relasi khusus yang kuat," ujar Dekan Fakultas Ilmu sosial dan ilmu budaya Universitas Trunojoyo Madura.

Jika melihat politik zigzag Megawati, tidak masuknya Bambang DH di DPP PDI Perjuangan, bisa saja Megawati punya rencana lain dengan memberikan posisi baru bagi Bambang DH untuk masuk kabinet Jokowi.

"Memang hampir 90 persen kehendak PDI Perjuangan ya kehendak bu Mega. Faktor situasional dan di diri bu Mega akan menentukan untuk momentum nanti. Bahkan faktor-faktor kecil bisa menjadi pengaruh besar pada bu Mega dan bisa mengubah semua peta yang ada," katanya. (*)

Pewarta: Abdul Hakim

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2019