Tulungagung (Antara Jatim) - Permintaan aneka alat pertanian tradisional di sentra industri besi-baja olahan di Desa Kiping, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, terus mengalami peningkatan, khususnya untuk daerah Jawa Barat dan luar Jawa.
    
"Kebutuhan luar Jawa sangat tinggi, terutama Sumatera," kata pelaku usaha industri kerajinan aneka alat pertanian di Desa Kiping, Kecamatan Gondang Sri Astuti di Tulungagung, Rabu.
    
Ia enggan menyebut omzet spesifik karena alasan "rahasia dapur" usaha yang dilakoninya bersama keluarga.
    
Namun Sri yang telah menggeluti industri kerajinan berbasis pandai besi di rumahnya di RT 01/RW 04 Dusun Krajan, Desa Kiping, sejak 1987 itu mengatakan sekali pengiriman ke luar Jawa menggunakan truk, dengan kisaran omzet antara Rp60 juta hingga Rp90 juta.
    
Selain memasok di jaringan pemasaran sendiri, Sri Astuti dan suaminya Sumarno yang sekaligus menjadi nama merek dagang, juga melayani permintaan pengepul atau perdagangan besar.
    
"Pasar luar Jawa sudah kami bina sejak awal, warisan dari jaringan pemasaran Bapak Muhaimin yang dulu menjadi pengepul utama industri kerajinan aneka jenis pisau dan alat pertanian warga Kiping," katanya.
    
Selain pasar regional Jatim, Sri Astuti dengan UD Sumarno miliknya yang merupakan satu dari tujuh industri kerajinan tradisional alat pertanian terbesar di Desa Kiping, juga memasok permintaan dari wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua.
    
Dari sekian kawasan provinsi itu, kata dia, Jawa Barat dan Sumatera masih menjadi pasar terbesar. "Mungkin karena lahan pertanian di dua daerah itu paling luas," katanya.
    
Di Jawa Barat, misalnya, Sri Astuti meladeni enam pedagang besar yang setia berlangganan produk alat pertanian dengan merek dagang "Sumarno".
    
Ada sedikitnya 15 jenis alat pertanian yang diproduksi, antara lain pisau berbagai ukuran, parang atau "bedok", sabit, sabit bergerigi, cangkul, kapak dan lainnya.
    
Pisau dan alat pertanian tersebut dijual dengan harga bervariasi, mulai Rp1.250 untuk pisau dapur kecil hingga Rp75 ribu untuk jenis cangkul.
    
Sri Astuti atau UD Sumarno tak hanya memproduksi sendiri seluruh permintaan pasar yang menjadi pelanggan setianya, namun juga mengepul hasil kerajinan para pandai besi di Desa Kiping lain sesuai jenis barang yang dibutuhkan sesuai permintaan.
    
"Kalau permintaan sebenarnya terus berfluktuasi. Biasanya pada bulan-bulan seperti ini yang bersamaan dengan periode pergantian tahun pelajaran bagi peserta didik, permintaan barang turun. Tapi nanti akan naik lagi menjelang akhir pertengahan tahun atau saat musim tanam dan panen," ujarnya.
    
Desa Kiping merupakan sentra kerajinan aneka alat dapur dan pertanian untuk jenis barang terbuat dari logam baja.
    
Di kampung yang lokasinya berada di pinggiran Kabupaten Tulungagung dan berbatasan dengan Kabupaten Trenggalek ini, hampir setiap rumah memiliki usaha pandai besi atau berjualan aneka besi baja bekas berbagai ukuran.(*)

Pewarta: Destyan H. Sujarwoko

Editor : Masuki M. Astro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2017