London (Antara) - Perhimpunan Pelajar Indonesia Belanda dan PPI Rotterdam menggelar diskusi bertajuk "Kepemimpinan Berintegritas" dengan mengundang Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini  yang biasa disapa "Bu Risma" sebagai narasumber bertempat di Erasmus University Rotterdam, akhir pekan.

Diskusi yang diberi nama Lingkar Inspirasi tentang kepemimpinan berintegritas dipilih karena tema ini dianggap sesuai dengan sosok Rismaharini yang mampu memberikan teladan bagi khalayak selama memimpin kota Surabaya. Kegiatan itu dihadiri para pelajar Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Belanda, Koordinator Bidang Kajian dan Gerakan PPI Belanda, M. Hanif Nadhif, melaporkan kepada Antara London, Selasa.

Lingkar inspirasi dibuka wakil kepala perwakilan KBRI untuk Kerajaan Belanda, H.A. Ibnu Wiwaha Wahyutomo yang menyambut kehadiran Wali Kota Risma dan berharap kehadirannya mampu memberi banyak pelajaran mengenai kepemimpinan bagi pelajar Indonesia.

Hal ini senada disampaikan Gerry Julian perwakilan PPI Belanda, dan Christian Hutabarat, ketua PPI Rotterdam.

Selama diskusi, Risma mengangkat fokus pembahasan pada peningkatan perekonomian di kota Surabaya melalui pengembangan masyarakat. Pada awal terpilih menjadi wali kota, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, sekitar 12 persen masyarakat Surabaya tergolong miskin dan kemudian turun hingga 1,2 persen dalam enam tahun kepemimpinannya.

Strategi Pemerintah Kota Surabaya untuk penurunan angka kemiskinan diakui tidak mudah dan dilakukan melalui berbagai macam aspek, di antaranya peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, pendirian kelompok usaha seperti Pahlawan Ekonomi, Youth Organization Development, start-up Surabaya, dan pelbagai strategi lainnya.

Upaya ini dianggap berkontribusi terhadap penurunan inflasi kota Surabaya dari tingkat 4,39 tahun 2012 menjadi 3,22 pada 2016. Indeks Pembangunan Manusia di kota Surabaya pun meningkat dari 77,2 menjadi 79,47 selama lima tahun, data dari BPS Provinsi Jawa Timur.

Risma menekankan dalam mengelola kota harus dilakukan secara keseluruhan dan dari berbagai macam aspek, terutama sumber daya manusia. Tidak bisa kalau terlalu dibuat prioritas. Semisal fokus ke infrastruktur tapi manusianya dilupakan. Untuk apa membangun kota apabila dinikmati bukan oleh warganya. Jangan jadi penonton di kota sendiri. "Kita harus menjadi tuan dan nyonya di kota kita," ujarnya.

Salah satu kelompok usaha di Surabaya yang dibahas oleh Rismaharini yakni Pahlawan Ekonomi. Ia menyebutkan Pahlawan Ekonomi telah memiliki anggota lebih dari 100 ribu orang dan beberapa di antaranya mampu mengekspor produknya. Menariknya, anggota kelompok usaha sebagian besar ibu rumah tangga dengan tingkat pendidikan formal terakhir kisaran SD atau SMP. Ada yang dulunya TKW mau memperpanjang izin kerja, tapi saya tolak. Saya rayu supaya nggak balik keluar negeri, tapi kerja di Surabaya saja, ujar Risma sembari menunjukkan foto anggota Pahlawan Ekonomi dalam presentasi.

Di samping kemajuan dari berbagai aspek, Wali Kota Risma mengakui masih terdapat bidang lain perlu dibenahi, salah satunya transportasi publik. Di luar itu, tingkat kepuasan masayarakat, pendidikan, kesehatan, pelayanan air, dan keamanan pejalan kaki di kota Surabaya dinilai cukup baik. Tingginya antusiasme peserta dalam berdiskusi dengan alumnus Erasmus University Rotterdam ini nampak dari banyaknya pertanyaan diajukan. Tak pelak, kepemimpinan Rismaharini sering dikaitkan dengan penutupan Prostitusi Gang Dolly.

Menanggapi pertanyaan yang diajukan peserta terkait hal ini, Risma menyampaikan keinginan kuat menutup lokalisasi karena ketakutan terhadap masa depan anak-anak. Ia bertekad memberi masa depan yang lebih baik bagi generasi penerus kota Surabaya.

Risma mengakhiri diskusi dengan berpesan kepada seluruh pelajar Indonesia yang berada di luar negeri, "Tolong kembali untuk bangun Indonesia. Indonesia membutuhkan teman-teman semua di manapun itu," ucapnya.(ZG/*)

Pewarta: Oleh Zeynita Gibbons

Editor : Tunggul Susilo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2017