Tulungagung (Antara Jatim) - Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mengakui
banyak limbah industri yang masuk dan mencemari Sungai Ngrowo atau
Parit Agung, sehingga menimbulkan bau tak sedap di sekitarnya.


"Kendati berbau tapi (pencemaran) tidak berbahaya, sebab seluruh
hewan di sungai masih hidup dan tidak ada satupun yang mati," kilah
Kepala BLH Tulungagung Sukadji di Tulungagung, Selasa.


Ia menyebut, limbah yang masuk aliran Sungai Ngrowo tersebut
mayoritas berasal dari sentra industri kerupuk rambak (kulit) yang ada
di sekitar Kelurahan Sembung, Kecamatan Tulungagung.


Menurut dia, tidak maksimalnya fungsi instalasi pengolahan air
limbah (IPAL) komunal yang dibangun BLH beberapa tahun lalu menyebabkan
buangan limbah sisa produksi dari sentra-sentra industri kerupuk rambak
langsung masuk ke aliran sungai.


"IPAL komunal yang dibangun beberapa tahun lalu sudah tidak memadai
sehingga perlu dibangun lagi yang lebih besar untuk mewadahi limbah
yang ada," katanya.


Sukadji menambahkan, tidak memenuhi syarat IPAL komunal membuat
limbah yang dibuang ke sungai belum sepenuhnya menjadi air.


Akibatnya, Sungai Ngrowo yang dibangun sebagai aliran sungai
pembuangan air banjir di tengah Kota Tulungagung itu acapkali berbau,
terutama saat kemarau dimana debit air menyusut drastis.


"Industrinya semakin banyak dan terus berkembang, sementara sistem
IPAL komunalnya cuma satu. Jadi ya tentu tidak seimbang," ujar Sukadji.


Untuk mengatasi pencemaran tersebut, lanjut dia, Pemerintah
Kabupaten Tulungagung berencana membangun sistem IPAL komunal baru pada
pertengahan 2016.


"Sudah ada alokasi anggaran yang bersumber dari APBN (anggaran
pendapatan dan belanja nasional) 2016 untuk membuat sistem IPAL komunal
yang lebih besar. Tahun ini dibangun dan tahun ini juga harus sudah
selesai," kata Sukadji.


Ia berharap, dengan keberadaan IPAL komunal yang lebih besar itu
bisa menampung limbah dari seluruh industri kerupuk rambak olahan dari
bahan kulit sapi/kerbau tersebut.


"Semua pelaksanaan dari pusat sehingga kami hanya memfasilitasi saja," ujarnya. (*)

Pewarta: Destyan H. Sujarwoko

Editor : Endang Sukarelawati


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2016