31 Mei 2026 riak gelombang di Kali Surabaya memantulkan cahaya matahari yang baru saja terbit di ufuk timur. Di balik ketenangannya, sungai memikul beban yang luar biasa berat: menghidupi lebih dari 3 juta jiwa, menggerakkan roda perniagaan, industri, dan mengalirkan napas kehidupan bagi warga sebuah kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia. Surabaya kini berdiri gagah merayakan hari jadinya yang ke-733 tahun. Di balik gemerlap pembangunan, aspal jalanan yang mulus, dan deretan gedung pencakar langit, ada satu pertanyaan fundamental yang jarang disadari oleh warganya saat memutar keran air di rumah: Sampai kapan air ini akan terus mengalir tangguh menjamin masa depan mereka?.
Surabaya adalah kota delta. Karakter geologis ini membawa berkah tersendiri; karena tanahnya cenderung asin dan payau, warganya sejak dahulu terbiasa tidak mengeksploitasi air tanah secara berlebihan. Berbeda dengan Jakarta atau Semarang yang terus mengalami penurunan permukaan tanah akibat ekstraksi air tanah masif, Surabaya relatif aman dari ancaman tersebut. Namun, dari keberuntungan itu, lahir sebuah ketergantungan yang luar biasa rapuh. Lebih dari 90% sistem kehidupan air minum di Surabaya bersandar hanya pada satu urat nadi utama: Kali Surabaya, yang merupakan hilir dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.
Jejak Langkah Lintas Abad: Dari Kereta Api Pasuruan hingga Megastruktur Modern
Romansa dan perjuangan Surabaya dalam menjemput air bersih, diawali dengan memutar jarum jam kembali ke tahun 1890. Bayangkan sebuah masa ketika teknologi pengolahan air belum ada, sementara air tanah kota ini berasa asin. Pemerintah Hindia Belanda saat itu harus memutar otak demi menyuplai kebutuhan air bersih kota pelabuhan yang mulai sibuk ini. Solusinya terdengar eksentrik untuk ukuran zaman sekarang: air bersih diambil langsung dari Mata Air Desa Purut di Pasuruan, lalu diangkut menggunakan gerbong-gerbong kereta api menuju Surabaya.
Melihat cara ini tidak efektif untuk jangka panjang, dua pengusaha Belanda, Mouner dan Bernie, mendapatkan hak konsesi untuk merintis sistem perpipaan modern. Mereka memasang pipa sepanjang puluhan kilometer dari mata air Umbulan untuk mengalirkan air melintasi Sidoarjo hingga masuk ke Surabaya. Sistem perpipaan yang dibangun pada 1890 ini tercatat sebagai salah satu infrastruktur air minum modern tertua di Indonesia.
Seiring waktu, dinamika populasi meledak. Status dinas air minum dialihkan menjadi bagian dari Gemeente (Kotapraja) Surabaya pada Juli 1906 untuk melayani 1.588 sambungan awal. Menyadari mata air di hulu tidak lagi cukup, pemerintah kolonial mulai melirik Kali Surabaya. Pada tahun 1922, berdirilah Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Ngagel I dengan kapasitas awal yang sangat mini, hanya 60 liter per detik (lt/dt).
Pasca-kemerdekaan 1950, aset-aset ini dinasionalisasi. Pengelolaan dialihkan ke Pemerintah RI di bawah Dinas Air Minum Kotapraja Surabaya. Modernisasi besar-besaran terjadi pada tahun 1959 dengan menggandeng perusahaan teknologi air asal Prancis, Degremont Fa, untuk melahirkan IPAM Ngagel II berkapasitas 1.000 lt/dt. Tonggak sejarah berikutnya dimulai pada 30 Maret 1976 melalui Perda No. 7 Tahun 1976, yang resmi melebur dinas ini menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kotamadya Daerah Tingkat II Surabaya, atau yang kini kita kenal sebagai PDAM Surya Sembada.
Demi memenuhi dahaga warga yang terus tumbuh, ekspansi tidak pernah berhenti. IPAM Ngagel III dibangun pada tahun 1982 dengan kapasitas awal 1.000 lt/dt, yang kemudian dioptimalkan secara bertahap hingga menyentuh 1.750 lt/dt pada tahun 2005. Langkah kaki pembangunan bergeser ke arah hulu kota dengan didirikannya kompleks raksasa IPAM Karangpilang. Karangpilang I dibangun tahun 1990 (kini berkapasitas maksimal 1.450 lt/dt), disusul Karangpilang II pada 1999 (kapasitas 2.750 lt/dt), dan Karangpilang III pada 2010 (kapasitas 2.500 lt/dt). Yang terbaru, sebagai kado bagi ketahanan air kota, sejak Nopember 2025 telah dioperasikan IPAM Karangpilang IV berkapasitas 1.000 lt/dt dengan teknologi proses yang jauh lebih efisien dan modern. Saat ini, dengan total kapasitas produksi ribuan liter per detik, PDAM Surya Sembada melayani lebih dari 650.000 sambungan pelanggan dengan cakupan layanan administrasi yang mendekati angka mutlak: 100%.
Alarm dari Masa Depan: Membaca Angka Laporan JICA DAS Brantas
Namun, angka cakupan layanan 100% dan usia ke-733 tahun ini tidak boleh membuat kita terlena. Alam sedang mengirimkan sinyal perubahan yang tidak bisa diabaikan. Jika kita membuka berkas ilmiah Laporan Akhir Proyek Penilaian dan Integrasi Dampak Perubahan Iklim pada Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air di Posisi DAS Brantas yang disusun oleh JICA (Japan International Cooperation Agency) bekerja sama dengan Nippon Koei dan Universitas Tokyo, kita akan menemukan sebuah proyeksi yang mendebarkan untuk tahun 2050.
Laporan JICA memproyeksikan bahwa akibat perubahan iklim, suhu rata-rata di wilayah hilir (Porong dan Surabaya) akan mengalami kenaikan hingga mencapai 2 derajat celcius. Meski secara akumulasi curah hujan tahunan diprediksi sedikit naik sekitar 100 mm (menjadi 2.200 mm di tahun normal), distribusinya menjadi sangat timpang: sebanyak 78% curah hujan akan tercurah ekstrem di musim hujan.
Terhadap suplai air minum Surabaya, ancaman terbesar justru muncul saat musim kemarau panjang. Simulasi hidrologis JICA menggunakan model matematika canggih menunjukkan bahwa kurva durasi aliran (Flow Duration Curves/FDCs) di titik krusial seperti Bendungan Sutami (penyangga utama aliran hulu) dan Bendung Lengkong Baru (New Lengkong Dam) menunjukkan tren penurunan drastis pada kondisi aliran rendah (low flow). Sederhananya: di musim kemarau tahun 2050, pasokan air alami yang mengalir di Kali Surabaya terancam menyusut tajam dibanding kondisi saat ini.
Pada saat yang sama, JICA mencatat laju pertumbuhan populasi di kawasan metropolitan Surabaya tumbuh paling agresif di Jawa Timur. Permintaan air bersih domestik untuk kota ini diproyeksikan melonjak tajam, di mana standar kebutuhan air per kapita warga Surabaya berada di angka tertinggi, yaitu 200 liter per orang per hari. Saat ini saja, tingkat konsumsi riil warga kota telah mencapai kisaran 195-200 liter per hari, jauh melampaui rata-rata nasional sebesar 150 liter.
Mari kita bayangkan skenario ini: suplai air baku di sungai menurun akibat kemarau ekstrem perubahan iklim, sementara grafik permintaan warga di hilir meroket. Tekanan berlipat ini diperparah oleh penurunan kualitas air baku. Ketika debit Kali Surabaya menyusut, konsentrasi bahan pencemar organic (bakteri coli), amonia, dan nitrit dari limbah industri dan domestik di sepanjang aliran hulu akan meningkat drastis. Airnya mungkin masih mengalir, tetapi ongkos produksinya akan menjadi sangat mahal karena proses pemurniannya yang kian rumit.
Menatap Esok Hari: Membangun Sistem yang Sirkular dan Beragam
Surabaya tidak boleh terjebak dalam "Satu Titik Kegagalan" (Single Point of Failure). Menggantungkan nasib sebuah kota megapolitan pada satu aliran sungai tanpa strategi cadangan adalah perjudian besar bagi masa depan anak cucu kita.
Langkah proteksi sebetulnya telah dimulai. Kehadiran pasokan dari proyek strategis nasional SPAM Umbulan ikut menambah keandalan, namun laporan JICA menegaskan bahwa potensi air tanah di kawasan Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik sudah berada dalam zona kritis dan mengalami ancaman intrusi air asin, sehingga tidak bisa dieksploitasi lebih jauh. Solusinya harus datang dari pengelolaan permukaan yang cerdas dan visioner.
Pertama, pembenahan internal berupa penurunan tingkat kebocoran air atau Non Revenue Water (NRW) yang saat ini masih bertengger di kisaran 31-35% harus ditekan secara masif mendekati target ideal 25%. Setiap tetes air yang diselamatkan dari pipa bocor adalah perpanjangan napas bagi debit Sungai dan jaminan pasokan untuk mengimbangi pertumbuhan penduduk kota..
Kedua, diversifikasi sumber air baku. Surabaya harus mulai berani berinvestasi pada teknologi sirkularitas air (water circularity), seperti pemanenan air hujan skala kota (urban stormwater harvesting), revitalisasi waduk dan situ-situ kota sebagai penampung air surplus di musim hujan, hingga penerapan teknologi daur ulang air limbah domestik (SPALD), sistem pengolahan air limbah domestik) menjadi sumber air baku. Bahkan penjajagan pemanfaatan teknologi membrane untuk mengubah air laut menjadi sumber air tawar sebagai cadangan disaat krisis.
Dirgahayu ke-733 tahun bukan sekadar momen romantis untuk mengenang kejayaan masa lalu. Usia ini adalah sebuah pengingat abadi. Ketahanan air sebuah kota tidak ditentukan oleh seberapa besar sungai yang mengalirinya di hari ini, melainkan seberapa cerdas, adaptif, dan bijaksananya warga Kota Surabaya dalam merencanakan setiap tetes air bersih untuk masa depan. Demi memastikan ratusan tahun dari sekarang, anak-cucu Arek-Arek Suroboyo masih dapat menikmati segarnya air kehidupan yang mengalir tanpa rasa cemas.
*) Penulis adalah Direktur Eksekutif Pusat Studi dan Analisis Kebijakan Air Indonesia (PUSAKA AIR INDONESIA)
Editor : Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026