Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyatakan akan mengusut kasus dugaan fabrikasi riset yang dilakukan oleh Warga Negara Indonesia (WNI) dalam konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Denmark.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa, menyatakan telah membentuk tim investigasi khusus yang dipimpin oleh Inspektur Jenderal Kemdiktisaintek.
"Kami juga sudah berkoordinasi dengan kampus UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), kampus tempat lulus S1-nya dari yang terduga melakukan pelanggaran ini," kata Mendiktisaintek.
Berdasarkan penelusuran awal afiliasi, pihaknya menemukan fakta bahwa hampir seluruh oknum yang terlibat tidak berstatus sebagai dosen atau pendidik formal di perguruan tinggi manapun di Indonesia.
Mendiktisaintek menjelaskan ketiadaan status kepegawaian tersebut membuat pihaknya tidak bisa secara langsung menjatuhkan sanksi administratif dan etik seperti pemberhentian dosen.
"Artinya adalah ketika itu bukan dosen, kewenangan kami sebagai kementerian itu tidak masuk ke dalam ranah itu. Karena yang kami bisa lakukan adalah setelah kami investigasi, kami dapati (kalau pelanggaran dilakukan oleh dosen), kami melakukan sidang komisi etik dan disiplin," ujar Mendiktisaintek.
Meskipun demikian Mendiktisaintek Brian menyebut UNY telah bertindak proaktif memanggil empat orang terduga pelaku untuk dimintai keterangan terkait motifnya, sementara kementerian terus mengumpulkan bukti kuat untuk menyeret kasus ini ke ranah pidana.
"Karena kami meyakini kalau tidak ada tindakan hukum, kami khawatir tidak memberikan efek jera. Jadi kami melihat salah satunya yang kami temukan adalah penggunaan afiliasi tanpa izin dari kampus tertentu di Indonesia. Nah, dengan begitu artinya kan mereka menggunakan/mencatut nama perguruan tinggi tanpa izin dan juga berarti melakukan penipuan," kata Mendiktisaintek Brian.
Mendiktisaintek menggarisbawahi langkah tegas tersebut diambil karena selain substansi penelitian yang diajukan para pelaku sangat buruk dan tidak bisa dipertanggungjawabkan, tindakan ini membawa dampak kerusakan yang masif terhadap kredibilitas akademisi nasional.
"Ini yang kami akan terus berkoordinasi karena memang banyak masukan kepada kami, meskipun ini di luar perguruan tinggi tetapi secara etika dan juga secara pandangan dunia internasional ini akan sangat bisa membuat citra yang negatif untuk peneliti-peneliti di Indonesia," tutur Brian Yuliarto.
Diketahui, dugaan manipulasi data ilmiah dan identitas tersebut disinyalir sengaja dilakukan oleh para terduga pelaku demi memperoleh bantuan pendanaan perjalanan, sehingga mereka dapat menghadiri konferensi di luar negeri secara gratis.
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026