Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai optimalisasi kebijakan strategis pemerintah mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi lagi tahun ini, yang diharapkan mencapai 6 persen.

Hal ini menyusul Badan Pusat Statistik (BPS) yang melaporkan kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 yang mencapai 5,61 persen (year-on-year/yoy).

“Kita lakukan untuk memaksimalkan momentum pertumbuhannya tidak berubah atau lebih baik ke depan. Kita jalankan kebijakan seoptimal mungkin supaya kita bisa tumbuh terus menuju ke arah 6 persen tahun ini,” kata Menkeu Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Selasa.

Bendahara Negara menilai, pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I tahun 2026 berjalan beriringan dengan pertumbuhan sejumlah sektor perekonomian secara umum.

Dari sisi permintaan (demand), aktivitas ekonomi dominan didorong oleh percepatan belanja pemerintah, serta peningkatan konsumsi rumah tangga, dan investasi yang turut ditopang akselerasi berbagai proyek Danantara.

Sementara, dari sisi suplai (supply), peningkatan aktivitas sektor manufaktur, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan akomodasi makanan-minuman (mamin) untuk memenuhi permintaan domestik dan luar negeri, serta mendukung pelaksanaan program prioritas pemerintah.

“Menurut saya, 5,61 persen kita maksimalkan. Ini angkanya sama bagusnya dengan manufaktur yang tumbuh 5,04 persen, lebih tinggi daripada triwulan-triwulan sebelumnya. (Sektor) Perdagangan yang berhubungan dengan ritel dan daya beli (juga naik),” ujar Purbaya.

“Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen, ini signifikan sekali, sebelumnya 4,9 (persen), sekarang 5,5 (persen), dan kontribusinya ke ekonomi adalah 54,36 (persen). Ini menunjukkan daya beli masyarakat membaik,” kata dia menambahkan.

Dari sektor perumahan, Menkeu mengatakan terdapat pertumbuhan sebesar 3,54 persen. Ia memastikan akan mengakselerasi peningkatan ini menyusul berbagai stimulus yang kini tengah dikaji bersama para pemangku kepentingan terkait seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Nanti kita pikirkan stimulus sektor perumahan agar tumbuh lebih cepat. Saya ketemu Bu Kiki (Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi), yang bilang SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan) yang di bawah Rp1 juta sudah dibersihkan, sehingga ada sekian puluh juta orang yang bisa pinjam lagi di sektor perumahan,” kata Purbaya.

 

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira

Editor : Astrid Faidlatul Habibah


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026