Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menyampaikan, status investment grade Indonesia tetap aman di tengah meningkatnya tekanan global.

Tekanan yang dimaksud antara lain berasal dari kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah yang turut memicu ketidakpastian di pasar keuangan global.

“Dibandingkan negara-negara sekelas, Indonesia tumbuh lebih kuat dengan tetap menjaga stabilitas makroekonomi, ditopang oleh inflasi yang rendah, posisi fiskal yang kuat, serta bantalan eksternal yang solid," kata Juda Agung dalam acara Fitch Ratings Annual Indonesia Conference di Jakarta, Kamis.

Sebagaimana diketahui, per Maret 2026, Fitch Ratings menetapkan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook negatif. Peringkat ini mengalami penurunan dari outlook sebelumnya yang stabil.

Juda mengklaim kondisi saat ini menempatkan Indonesia pada posisi makroekonomi yang relatif lebih baik dan lebih seimbang di antara negara-negara dengan peringkat BBB.

Klaim tersebut didasarkan pada kondisi fundamental ekonomi domestik yang dinilai masih solid.

Wamenkeu memaparkan, sejauh ini pemerintah berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen (year on year/yoy) sepanjang 2025 dengan defisit fiskal tetap di bawah 3 persen.

Selain itu, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) juga terjaga di kisaran 40 persen, jauh di bawah batas aman yang ditetapkan 60 persen.

Sementara, inflasi Indonesia per Maret 2026 tercatat berada dalam kisaran sasaran 1,5-3,5 persen (2,5±1 persen), dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 3,48 persen (yoy) dan inflasi inti 2,52 persen (yoy).

Juda memandang fundamental ekonomi yang kuat tersebut mampu menjaga kepercayaan investor global meski tekanan geopolitik terus menggerus persepsi pasar.

Dari sisi eksternal, ia menilai perekonomian Indonesia saat ini tetap solid dan dikelola dengan baik, serta cadangan (anggaran) yang memadai memberikan bantalan kuat terhadap ketidakpastian keuangan global.

Lebih lanjut, pemerintah menyadari adanya sejumlah catatan dari lembaga pemeringkat dan berkomitmen untuk terus meresponsnya secara aktif. Dalam hal ini, lanjut Juda, pemerintah akan terus menjaga konsistensi kebijakan di tengah berbagai tantangan global.

“Fitch Ratings baru-baru ini menyoroti sejumlah kekhawatiran yang valid. Saya dapat memastikan kami menangani kekhawatiran tersebut secara langsung. Peringkat Fitch kami tetap berada pada level investment grade yang merupakan hasil dari disiplin selama bertahun-tahun dalam berbagai aspek,” ujarnya.

“Kami berkomitmen penuh menjaga kejelasan dan konsistensi kebijakan. Kami memahami berbagai tantangan, mulai dari kenaikan harga energi, pengetatan keuangan global, hingga perubahan sentimen. Kami paham itu, dan kami terus bekerja aktif membangun ekonomi yang lebih tangguh, transparan, dan adaptif,” tambahnya.



Pewarta: Bayu Saputra
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026