Surabaya - Pertamina kini telah kembali memasok kebutuhan BBM bersubsidi bagi masyarakat Jatim secara normal, setelah "pengetatan" distribusi yang ditugaskan pemerintah kepada pertamina sebagai upaya pembatasan atau pengendalian konsumsi BBM bersubsidi oleh masyarakat, dicabut. "Secara resmi pengetatan dicabut Minggu (25/11) kemarin. Kini pasokan dari kami kepada SPBU (stasiun pengsian bahan bakar umum) kembali normal, sesuai kebutuhan berapapun kami pasok, sambil menunggu kebijakan selanjutnya dari pemerintah," kata General Manager PT Pertamina Unit Pemasaran V Jatim Afandi, kepada wartawan di Surabaya, Senin. Kuota BBM bersubsidi untuk jenis premium bagi Jatim selama tahun 2012 sebanyak 3,79 juta kiloliter (kl) dan solar 1,98 juta kl. Bila tidak dibatasi penggunaannya, diperhitungkan kuota untuk Jatim jenis premium akan habis pada 18 Desember, sedangkan solar pada 15 Desember 2012. Hingga akhir Oktober lalu, konsumsi BBM bersubsidi di Jatim untuk jenis premium (bensin) kuotanya 3,1 juta kl, namun realisasi 3,24 juta kl, sedangkan solar 1,65 juta kl realisasinya 1,722 juta kl. Ia menjelaskan, banyaknya kekosongan BBM bersubsidi di SPBU di berbagai daerah di Jatim akhir-akhir ini, sehingga menimbulkan antrean kendaraan bermotor di beberapa SPBU, merupakan sebagai akibat dari pembatasan pengiriman atau pasokan dari Pertamina yang ditugaskan oleh pemerintah untuk mengendalikan penggunaan BBM bersubsidi. "Tapi upaya ini tampaknya kurang sosialisasi, padahal bukan berarti BBM bersubsidi kosong, stok kami sangat memadai. Ini sebagai upaya mengalihkan masyarakat mampu agar mengkonsumsi BBM nonsubsidi yang sekarang ini di Jatim hanya dikonsumsi satu persen," ucapnya. Mengenai pengurangan pasokan ke SPBU akhir-akhir ini, ia menjelaskan bahwa upaya pertamina mengendalikan dengan mengurangi pasokan BBM bersubsidi sekitar 28 persen dari pasokan normal, agar kuota BBM bersubsidi di Jatim tercapai hingga akhir tahun. Pengendalian tersebut dengan harapan masyarakat yang mampu mengalihkan konsumsi BBM-nya ke nonsubsidi."Nyatanya masyarakat yang mampu tetap saja rela antre di SPBU untuk mendapatkan BBM bersubsidi. Ya masyarakat siapapun dia, berpikiran kalau ada yang murah kenapa beli yang mahal," ujar Afandi, sambil tersenyum. Padahal, di Jatim kini tercatat 883 SPBU, di mana 70 persennya sudah menjual dan mampu melayani BBM nonsubsidi. Namun, nyatanya para pengusaha SPBU mengeluh pengguna BBM nonsubsidi masih minim. Tentang daerah di Jatim yang kuotanya sudah berlebih untuk BBM bersubsidi, ia menuturkan terbesar jenis solar yaitu Kabupaten Bangkalan mencapai 119 persen, untuk premium Kabupaten Sampai tercatat 107 persen. Sedangkan Kota Surabaya untuk premium 103 persen dan solar hanya 99 persen dari kuota. Daerah terkecil konsumsi bbm subsidinya yaitu Kota Mojokerto hanya 80 persen dari kuota. "Ya bisa saja Kota Mojokerto-kan kecil, pemilik kendaraan motor setempat belim BBM-nya ke Kabupaten sekitar seperti Kabupaten Mojokerto dan Sidoarjo yang realisasinya sudah lebih dari 100 persen," tukas Afandi.(*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026