Surabaya - Pakar tata kota dari Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya Timoticin Kwanda menilai "eco-museum" ala Surabaya merupakan contoh dari konsep yang baik untuk melestarikan kampung.
"Eco-museum merupakan kampung yang dikembangkan sesuai dengan potensi warga," katanya di sela-sela dialog pelestarian kampung pada Temu Pusaka Indonesia 2012 di Surabaya, Minggu.
Dalam konsep eco-museum, kampung akan memiliki sebuah paket kegiatan yang dapat berdampak secara sosial, budaya, dan ekonomi, sehingga mendorong tumbuhnya industri kreatif.
"Surabaya bisa jadi contoh yang baik untuk kampung yang berkembang dengan konsep eco-museum, seperti kampung reog, kampung lontong, hingga kampung mangrove," katanya.
Tiga hal yang dikuatkan dalam konsep itu, yakni adanya pusaka yang khas dan berada di kampung, ada partisipasi masyarakat dalam pengelolaannya, dan ada koleksi 'tangible' atau 'intangible' yang dapat dikembangkan.
Hal itu diakui pakar tata kota dari ITS Surabaya, Prof Johan Silas. Ia mengatakan kampung itu memiliki dimensi waktu (sejarah) yang lebih panjang daripada kotanya.
"Elemen budaya, sejarah, dan kekhasan kampung harus diposisikan sebagai modal dari masa lalu untuk menuju masa kini dan masa depan," katanya dalam dialog pelestarian pada Temu Pusaka Indonesia 2012 (TPI-2012) itu.
Senada dengan itu, pakar tata kota dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Laretna T. Adishakti menyatakan masyarakat adalah bagian penting dan utama dalam proses ini.
"Perlu ada penguatan kapasitas masyarakat setempat untuk menyeimbangkan pelestarian pusaka dengan dinamika pembangunan yang pesat," katanya dalam dialog pada pertemuan yang digelar Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) itu.
Dalam dialog yang diikuti 150 peserta itu juga hadir para pegiat dari sejumlah organisasi atau komunitas pelestari pusaka dari Surabaya, Gresik, Ternate, Kotagede, Yogyakarta, dan Bandung yang juga berbagi pengalaman.
Komunitas pelestari pusaka kampung dari Gresik memaparkan inisiatif mereka untuk mewujudkan Gresik sebagai kota wisata budaya, setelah selama ini dikenal sebagai kota wisata religi.
Selain itu, ada pula kelompok anak muda dari Kampung Manukan di Surabaya yang aktif mengelola program antinarkoba memanfaatkan kesenian sebagai media kampanye antinarkoba.
Penampilan musik dan "performance art" yang ditunjukkan sekelompok anak muda di Kampung Manukan itu awalnya ditujukan sebagai strategi pemberantasan "penyakit masyarakat", namun akhirnya berkembang sebagai kegiatan pelestarian pusaka rakyat.
Pengalaman yang berbeda muncul dari Kotagede dan Forum Winongo Asri Yogyakarta. Kedua komunitas/organisasi di tempat ini telah mampu menjalankan beragam program pelestarian pusaka rakyat di kampung-kampung, baik dengan sumber daya mandiri maupun dengan dukungan dari banyak pihak.
Kotagede pun mampu bangkit menjadi salah satu kawasan pusaka lestari walaupun sempat hancur akibat gempa bumi pada tahun 2006. Kawasan bantaran Sungai Winongo yang semula kotor saat ini berubah bersih dan semakin kaya dengan ruang terbuka publik bagi warga kampung.
Temu Pusaka Indonesia 2012 yang berlangsung di Surabaya, Mojokerto, dan Gresik pada 18-21 Oktober 2012 itu mendiskusikan kampung dan pusaka rakyat menuju Tahun Pusaka Indonesia 2013 untuk membangun jaringan pelestarian pusaka di Indonesia, sekaligus membangun kapasitas yang baik di masyarakat untuk mendorong kerja-kerja pelestarian yang lebih optimal. (*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026