Surabaya (ANTARA) - Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) bekerja sama dengan International Organization for Migration (IOM) menggelar kegiatan edukatif bertajuk “Pencegahan Cedera dan Pertolongan Pertama pada Refugees” untuk para pengungsi (refugees) dari berbagai negara, termasuk Pakistan, Afghanistan, dan Sudan.
“Dalam kondisi pengungsian, akses ke fasilitas kesehatan bisa sangat terbatas. Karena itu, pemahaman dasar tentang bagaimana menghentikan pendarahan, menangani luka bakar ringan, atau menilai kondisi korban sangat penting,” ujar dr. Paramita Sari, M.Sc, dari Fakultas Kedokteran UNUSA, melalui keterangan yang diterima di Surabaya, Selasa.
Menurut dr. Paramita, pelatihan ini menjadi pengalaman pertama bagi sebagian besar peserta dalam memahami dan mempraktikkan pertolongan pertama secara langsung.
Materi yang disampaikan disesuaikan dengan konteks kehidupan sehari-hari para pengungsi, termasuk pentingnya penggunaan alat pelindung diri, penanganan cedera ringan, serta pemanfaatan kotak P3K.
Dari hasil evaluasi pre-test dan post-test, pengetahuan peserta mengalami peningkatan sebesar 38,4 persen usai mengikuti pelatihan.
Tahir, salah satu pengungsi asal Afghanistan, mengaku mendapat banyak manfaat dari kegiatan tersebut.
“Saya sekarang tahu bagaimana cara menghentikan pendarahan dan kapan harus memanggil bantuan. Ini pertama kalinya saya belajar pertolongan pertama,” ujarnya melalui penerjemah.
Selain memberikan edukasi kepada para pengungsi, kegiatan ini juga menjadi ajang praktik langsung bagi mahasiswa UNUSA.
Para mahasiswa turut serta sebagai edukator pendamping dan dilatih untuk membangun komunikasi lintas budaya.
