Semarang (ANTARA) - Pakar kelautan Universitas Diponegoro Semarang Dr Delianis Pringgenies menilai teripang atau timun laut merupakan biota laut yang memiliki nilai ekonomis sekaligus manfaat untuk kesehatan sangat tinggi. "Harga teripang memang mahal, di Karimunjawa bisa mencapai Rp1 juta perkilogram dan di Singapura sampai Rp3 juta perkilogram, karena itu, teripang terus dieksploitasi sehingga populasinya kian menipis," katanya kepada ANTARA di Semarang, Sabtu. Dulu, masyarakat kawasan pantai hanya mengenal teripang untuk bahan pangan sebagaimana biota laut umumnya. "Namun, belakangan ini pemanfaatan teripang sudah meningkat," katanya. Dari aspek bahan pangan, ia menjelaskan teripang memang sering dikonsumsi karena rasanya tidak kalah lezat dengan makanan-makanan laut lainnya, seperti udang, cumi-cumi, kerang, dan kepiting. Akan tetapi, kata dia, dari aspek kriteria makanan sehat, teripang yang disebut juga dengan istilah "gamat" itu jauh lebih unggul dibandingkan dengan makanan laut lainnya, sebab memiliki kandungan kolesterol yang rendah. Menurut Ketua Tim Penjaminan Mutu Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip itu, penelitian tentang teripang terus dikembangkan untuk meneliti manfaatnya secara lebih dalam. "Saya juga mengembangkan penelitian tentang teripang, selain biota-biota laut lainnya. Ternyata, teripang mengandung protein tinggi, namun rendah kolesterol, glukosamin dan kolagennya juga tinggi," katanya. Tak hanya itu, kata dia, teripang juga mengandung zat-zat yang terdapat dalam susu, seperti Docosahexaenoic acid (DHA) dan Omega-3 sehingga sangat baik dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan tubuh. Teripang, ungkapnya, kini diyakini mampu mengatasi berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit sendi, lupus, diabetes, dan obat luka ringan, bahkan di Malaysia sudah banyak ditemukan berbagai merek sari teripang. (*)


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026