Surabaya (ANTARA) - Ada benda-benda sederhana yang digantung di atas kepala, menunggu tangan-tangan yang hendak mengambilnya. Ada perlengkapan rumah tangga, makanan ringan, sabun, dan berbagai barang sehari-hari. Sesaat kemudian, suasana berubah riuh. Orang berebut, tertawa, lalu pulang membawa sesuatu.

Begitulah salah satu wajah Brayakan dalam peringatan Maulid Nabi di Surabaya. Tradisi yang tampak sederhana itu kembali hadir pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Convention Hall Surabaya, Rabu (2/9/2026), ketika sekitar 1.400 anggota dan keluarga besar Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga atau TP PKK berkumpul.

Sebanyak 2.233 barang dibagikan dalam kegiatan tersebut. Jumlah itu bukan sekadar angka untuk menunjukkan kemeriahan acara. Di balik benda-benda yang dibagikan terdapat pesan sosial yang lebih tua daripada panggung acara, yakni berbagi, memberi, dan merayakan kebahagiaan bersama.

Pemerintah Kota Surabaya mencatat tradisi Brayakan sebagai bagian dari peringatan Maulid yang sebelumnya juga digelar pada 2025 dengan sekitar 1.400 peserta. Pada pelaksanaan tersebut, barang yang dibagikan berupa peralatan rumah tangga dan kebutuhan sederhana yang menjadi bagian dari perayaan.

Di sinilah Brayakan menarik untuk dibaca lebih jauh. Ia bukan tradisi yang hidup dalam ruang hampa. Tradisi itu bergerak mengikuti zaman, berpindah dari halaman kampung dan lingkungan masjid ke ruang kegiatan yang dikelola secara lebih terorganisasi, tanpa sepenuhnya kehilangan unsur berbagi yang menjadi roh utamanya.

Sejumlah tradisi Maulid di Jawa Timur memang memperlihatkan pola serupa. Perayaan keagamaan tidak hanya berlangsung melalui pengajian dan pembacaan selawat, tetapi juga melalui pembagian makanan, hadiah, pawai, dan kegiatan bersama. Brayakan menjadi salah satu bentuk yang khas di Surabaya karena mempertemukan unsur ibadah, kegembiraan, dan pemberian secara langsung.

Perubahan bentuk itu sebenarnya bukan masalah. Kebudayaan justru dapat bertahan karena mampu menyesuaikan diri. Yang perlu dijaga adalah substansinya. Ketika bungkus tradisi berubah, nilai yang dikandungnya jangan ikut hilang.

Masalahnya muncul jika Brayakan hanya dipertahankan sebagai tontonan tahunan. Kemeriahan dapat dengan mudah menjadi tujuan, sementara makna berbagi justru menjadi latar belakang. Tradisi yang semula tumbuh dari partisipasi warga berisiko berubah menjadi kegiatan seremonial yang sepenuhnya bergantung kepada penyelenggara.

Karena itu, pelestarian Brayakan tidak cukup dengan menggelarnya setiap tahun. Tradisi perlu dijelaskan, didokumentasikan, dan diwariskan agar generasi berikutnya memahami bukan hanya bagaimana cara melakukannya, tetapi mengapa tradisi itu lahir dan nilai apa yang hendak dijaga.

 

Modal Kebersamaan

Brayakan memperlihatkan satu modal yang sering kali luput ketika pembangunan kota dibicarakan, yakni modal sosial. Kota tidak hanya dibangun dengan jalan, saluran air, gedung pelayanan, atau sistem digital. Kota juga dibangun oleh kemampuan warganya untuk saling percaya, saling membantu, dan bekerja bersama.

Dalam konteks Surabaya, gagasan itu memiliki relevansi kuat. Pemerintah kota pada 2026 kembali menempatkan Kampung Pancasila sebagai program penting dengan basis keterlibatan masyarakat.

Lomba Kampung Pancasila yang dijadwalkan berlangsung hingga Desember 2026 bahkan menggunakan empat pilar penilaian, yaitu lingkungan, kemasyarakatan, ekonomi, serta sosial budaya.

Brayakan dapat dibaca sebagai bentuk kecil dari ekosistem tersebut. Orang datang bukan untuk menyelesaikan urusan administrasi, bukan pula untuk mengejar keuntungan, melainkan untuk berkumpul dan berbagi. Di dalamnya terdapat interaksi yang mempertemukan orang dengan latar belakang berbeda dalam suasana yang relatif setara.

Peran perempuan juga menjadi bagian penting. Kegiatan Brayakan yang melibatkan kader PKK memberi gambaran bahwa pembangunan keluarga tidak berhenti pada urusan rumah tangga. Kader perempuan memiliki posisi yang dekat dengan warga dan dapat menjadi penghubung antara kebijakan pemerintah dengan kebutuhan masyarakat.

Relevansi peran itu semakin jelas ketika melihat arah kebijakan pembangunan keluarga Surabaya. Dokumen kebijakan pemerintah kota menempatkan penguatan ketahanan dan fungsi keluarga sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia, dengan strategi antara lain pengasuhan, pembentukan karakter anak, dukungan keluarga berbasis komunitas, serta penguatan ketahanan psikososial.

Dengan demikian, Brayakan seharusnya tidak berhenti sebagai acara PKK. Nilai yang dikandungnya dapat diterjemahkan menjadi praktik sosial yang lebih luas, seperti gerakan berbagi kebutuhan pokok, pendampingan keluarga rentan, penguatan kegiatan warga, atau pengumpulan bantuan yang dikelola secara transparan.

Hal itu penting karena persoalan sosial Surabaya belum selesai hanya karena indikator pembangunan membaik. BPS Kota Surabaya mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 mencapai 105,09 ribu jiwa atau 3,56 persen dari total penduduk.

Penurunan itu merupakan perkembangan positif, tetapi pada saat yang sama menunjukkan masih terdapat lebih dari seratus ribu warga yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Angka tersebut memberi konteks penting terhadap pesan berbagi dalam Brayakan. Sedekah dan gotong royong memang tidak menggantikan kebijakan pengentasan kemiskinan. Namun, keduanya dapat menjadi lapisan dukungan sosial yang membantu memastikan warga yang rentan tidak terlepas dari perhatian lingkungan.

Di titik ini, perayaan keagamaan memiliki ruang sosial yang lebih luas. Ia tidak harus menjadi program pemerintah, tetapi dapat menjadi energi masyarakat untuk memperkuat kepedulian. Pemerintah cukup memfasilitasi, memastikan tata kelola baik, dan membuka ruang agar inisiatif warga tumbuh.


Masa Depan Budaya

Tantangan Brayakan ke depan bukan sekadar bagaimana mempertahankannya, tetapi bagaimana membuat tradisi itu tetap bermakna bagi generasi baru. Anak-anak yang lahir dalam budaya digital tidak selalu memiliki kedekatan dengan tradisi kampung seperti generasi sebelumnya.

Karena itu, dokumentasi menjadi penting. Pemerintah, komunitas budaya, sekolah, perguruan tinggi, dan warga dapat bekerja sama mendokumentasikan sejarah, bentuk pelaksanaan, variasi Brayakan di berbagai kampung, serta nilai sosial yang menyertainya.

Brayakan juga dapat diperkenalkan sebagai bagian dari pendidikan kebudayaan lokal. Anak-anak tidak harus selalu diajak melihat tradisi sebagai sesuatu yang kuno. Mereka dapat dikenalkan bahwa kebudayaan adalah cara masyarakat menemukan bentuk untuk mengekspresikan nilai bersama.

Penggunaan teknologi justru dapat menjadi alat pelestarian. Cerita mengenai Brayakan dapat direkam dalam bentuk video pendek, arsip foto, peta tradisi kampung, atau bahan pembelajaran digital. Dengan begitu, teknologi yang sering dituduh menjauhkan generasi muda dari budaya lokal justru dapat dipakai untuk mendekatkannya kembali.

Namun ada satu prinsip yang perlu dijaga. Jangan sampai pelestarian budaya membuat tradisi kehilangan ruang bagi masyarakat yang melahirkannya. Brayakan sebaiknya tetap memiliki akar di kampung-kampung, bukan hanya menjadi acara resmi di gedung pemerintahan.

Pemerintah dapat berperan sebagai penghubung, bukan pemilik tunggal tradisi. Dukungan dapat diberikan melalui dokumentasi, ruang publik, pembinaan komunitas, dan promosi kebudayaan. Masyarakat tetap menjadi pelaku utama.

Di sinilah makna Brayakan menjadi lebih besar daripada barang yang diperebutkan. Peralatan rumah tangga dan makanan ringan memang dapat dibawa pulang, tetapi yang semestinya menetap adalah kebiasaan untuk berbagi.

Surabaya sedang tumbuh sebagai kota metropolitan dengan persoalan yang semakin kompleks. Di tengah digitalisasi pelayanan, mobilitas penduduk, tekanan ekonomi, dan perubahan gaya hidup, kota membutuhkan lebih dari sekadar sistem yang cepat. Kota membutuhkan warga yang masih bersedia membuka pintu, mengenali tetangga, dan membantu mereka yang membutuhkan.

Brayakan menawarkan gambaran sederhana tentang itu. Sebuah tradisi dapat menjadi kecil dari sisi bentuk, tetapi besar dari sisi nilai.

Menjaga Brayakan bukan berarti sekadar mempertahankan cara mengambil barang yang digantung di atas kepala. Hal yang perlu dijaga adalah ingatan bahwa kegembiraan tidak harus dinikmati sendirian, bahwa keberagamaan dapat melahirkan kepedulian sosial, dan bahwa pembangunan kota akan lebih kuat apabila memiliki warga yang terbiasa berbagi.

Mungkin itulah warisan paling penting dari Brayakan bagi Surabaya. Bukan benda yang dibawa pulang, melainkan budaya memberi yang tetap hidup setelah keramaian selesai.



Uploader : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA 2026