Jakarta - Mata uang rupiah terhadap dolar AS pada Selasa pagi yang ditransaksi antarbank di Jakarta melemah 140 poin menjadi Rp9.170, seiring dengan turunnya cadangan devisa, dibanding sebelumnya di posisi Rp9.030 per dolar AS.
"Posisi cadangan devisa untuk Maret tercatat 110,49 miliar dolar AS, turun dari posisi Februari sebesar 112,2 miliar dolar AS. Turunnya devisa ini membuat tekanan pada nilai tukar rupiah," ujar pengamat pasar uang Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih di Jakarta, Selasa.
Ia mengatakan, Selama Maret rupiah sempat menembus level Rp9.200 per dolar AS. Selain karena ada aliran keluar portofolio asing khususnya dari pasar obligasi sebesar Rp2 triliun, juga devisa keluar untuk pembayaran utang pemerintah yang biasanya dilakukan pada setiap triwulanan.
Di samping itu juga meningkatnya permintaan dolar AS oleh PT Pertamina dan PT PLN untuk membeli minyak mentah yang harganya saat ini cenderung naik.
"Tekanan terhadap devisa kemungkinan masih akan berlanjut tetapi tidak besar, dengan memperhatikan sentimen investor global yang masih akan 'take profit' di pasar surat utang negara (SUN) dan perkembangan harga minyak mentah dunia yang masih cukup tinggi," katanya.
Ia menambahkan, sentimen investor global juga cenderung negatif disebabkan beberapa faktor, dimulai dengan pernyataan the Fed yang mensinyalkan tidak akan ada stimulus tambahan, berlanjut dengan Spanyol yang gagal mencapai batas permintaan minimum dari yang ditargetkan sebesar 3,5 miliar euro. (*)
Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.