Malang - Ribuan nelayan di Kabupaten Malang hingga saat ini masih kekurangan pasokan bahan bakar minyak (BBM) terutama jenis solar untuk operasional kapal mereka. Bupati Malang Rendra Kresna, Selasa mengakui, pasokan BBM jenis solar ke lokasi nelayan di daerah itu masih sangat minim, yakni hanya 18 ribu ton per hari yang didistribusikan untuk 700 perahu dan kapal milik nelayan. "Kalau kita hitung, pasokan dari Pertamina itu hanya mampu memenuhi kebutuhan nelayan sekitar 10 persen saja, sehingga nelayan harus membeli di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang jaraknya sangat jauh," kata Rendra. Menurut politisi dari Partai Golkar tersebut, jarak terdekat yang bisa ditempuh nelayan di kawasan Malang selatan untuk mendapatkan BBM (solar) itu adalah SPBU Turen yang jaraknya sekitar 60-65 km dari Pantai Ampelgading maupun Sendangbiru di Sumbermanjing Wetan. Selain jarak tempuhnya cukup jauh, lanjutnya, jalannya juga berliku. "Kami sudah beberapa kali mengajukan kuota tambahan BBM bagi nelayan tersebut, namun sampai saat ini belum bisa dipenuhi oleh Pertamina," tegasnya. Rendra mengemukakan, kuota solar bagi nelayan dari Pertamina sebanyak 18 ribu ton tersebut seluruhnya didrop di Pantai Sendangbiru, sehingga nelayan yang berada di pesisir pantai lainnya harus mengambil ke Sendangbiru sekalian membeli kekurangannya di SPBU terdekat. Oleh karena itu, katanya, kebijakan dari pemerintah, nelayan boleh membeli BBM ke SPBU dengan menggunakan jerigen, dengan catatan ada surat keterangan dan rekomendasi dari perangkat desa atau kecamatan masing-masing. Sebelumnya pengurus Himpunan Nelayan seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Malang H. Atmo Ismail, mengatakan, kondisi tersebut sangat menyulitkan nelayan, karena jarak SPBU di wilayah Malang selatan cukup jauh. Lokasi nelayan di Kabupaten Malang tersebar di enam kecamatan yang saling berjauhan, yakni di Kecamatan Donomulyo, Tirtoyudo, Gedangan, Bantur, dan Ampelgading serta Sumbermanjing Wetan. (*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026