Sidoarjo - Belasan orang mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Sidoarjo demo menolak rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang akan dilakukan oleh pemerintah pada 1 April mendatang.
Salah seorang koordinator aksi, M Rosyid, Selasa, mengatakan, aksi ini dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap rencana pemerintah yang akan menaikkan harga BBM dari Rp4.500 menjadi enam ribu rupiah pada 1 April mendatang.
"Kenaikan harga BBM ini sangat memberatkan masyarakat miskin, karena dengan naikknya harga BBM tersebut otomatis akan berimbas pada kenaikan harga kebutuhan pokok yang lain," katanya.
Ia mengemukakan, tidak seharusnya pemerintah membebani rakyat miskin dengan kenaikan harga BBM tersebut mengingat saat ini masih banyak infrastruktur yang belum dikerjakan dengan maksimal oleh pemerintah.
Dalam aksinya, para demonstran membagi-bagikan selebaran kepada pengguna jalan yang melintas di depan lokasi aksi MH Thamrin dan juga di jalan sekitar alun-alun Kabupaten Sidoarjo.
""Kami minta harga BBM tetap seperti sekarang ini dan tidak ada kenaikan. Sebaiknya, uang para koruptor itulah yang layak digunakan untuk memberi subsidi BBM, bukannya uang rakyat," katanya.
Menurutnya, tindakan pemerintah dengan tetap menaikkan harga BBM adalah tindakan yang salah karena masih banyak yang bisa dikerjakan oleh pemerintah selain menaikkan harga BBM.
"Kami juga akan melakukan aksi yang lebih banyak dan lebih besar lagi jika pemerintah tetap menaikkan harga BBM karena keputusan tersebut sangat merugikan masyarakat miskin," katanya.
Dalam melakukan aksinya, para demonstran ini mendapatkan pengawalan ketat dari aparat Kepolisian Resor Sidoarjo supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu, pada saat demo, para mahasiswa ini juga menggunakan sebagian badan jalan di sekitar alun-alun Sidoarjo dan membuat macet bagi arus lalu lintas yang melintas di kawasan tersebut.(*)
Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.