Jakarta - Sejumlah 19 peneliti di Indonesia mendapat penghargaan dan hibah penelitian dari "Indonesia Toray Science Foundation" (ITSF) di Jakarta, Kamis. "Ke-19 orang ini adalah hasil seleksi dari 229 usulan penelitian, yakni dari 197 perguruan tinggi dan 32 berasal dari lembaga penelitian," kata Ketua ITSF Prof Dr Soefjan Tsauri saat memberi sambutannya pada Penghargaan dan Hibah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ITSF di Jakarta, Kamis. Selain 19 peraih hibah ITSF itu, sembilan guru bidang Fisika, Kimia dan Biologi, juga memperoleh penghargaan "ITSF Science Education Award" yang merupakan hasil seleksi dari 90 nominator. Tahun ini hibah penelitian yang diserahkan ITSF total mencapai Rp688.473.960 dan total hibah pendidikan sains Rp180 juta. "Selama 18 tahun terakhir sejak berdirinya, yayasan kami telah memberi total sekitar Rp14 miliar dalam bentuk hibah untuk mendanai penelitian ilmiah dasar bagi peneliti muda," kata Wakil Presiden Direktur Toray Industries, Jepang, Chiaki Tanaka. Dr Ingrid Surono memperoleh hibah riset melalui proposal penelitiannya berjudul "Probiotik untuk Kesehatan Manusia", di mana temuannya "Lactobacillus plantarum" dan "Enterococcus faecium" asal dadih mampu berkompetisi dengan bakteri patogen. "Keduanya bahkan mampu meningkatkan respon imun humoral sigA dan meningkatkan berat badan anak balita," kata dosen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran UI yang meneliti probiotik sejak 1993 itu. Probiotik adalah bakteri hidup yang bila dikonsumsi dalam jumlah memadai memberi manfaat kesehatan. Selain Ingrid yang memenangkan hibah sebesar Rp75 juta, 18 peneliti lain yang memenangkan hibah riset Rp32-Rp48 juta yakni Dr Iskhaq Iskandar dari Unsri dengan proposal riset tentang sirkulasi laut di Samudera Hindia. Tatas Brotosudarmo dari Universitas Ma Chung tentang antena penangkap cahaya, Deni Swantomo dari Batan tentang pupuk dengan radiasi, Dr Uyi Sulaeman dari Unsoed tentang material SrTiO3, Yalun Atifin dari STKIP Surya tentang Biofuel generasi kedua. Dr Noryawati dari Atmajaya tentang kayu damar untuk kemasan daging, One Asmarani dari Unair tentang rekayasa protein anti-TBC, Dr Niknik Murhayati dari BPPT tentang teknologi hijau dalam industri kertas, Dr Indra Wibowo dari ITB tentang hewan model Zebrafish. Andreas Kusuma dari Eijkman Institute tentang antigen malaria, Tinton Dwi Atmaja dari LIPI tentang CNC bubut mesin nano, Dr M Dani Supardan dari Unsyiah tentang produksi biodiesel, Dr Retno Murwanti dari UGM tentang Kurkumin untuk kanker. Dr Ratno Nuryadi dari BPPT tentang sensor gas, Dewi Setyaningsih dari Sanata Darma tentang Kurkumin ekstrak, Dr Diah Susanti dari ITS tentang kapasitor elektrokimia, Annisa Aprilia dari Unpad tentang sel surya hibrid, serta Bevi Lidya dari Politeknik Negeri Bandung tentang Siklodekstrin Glukanotransferase.(*)


Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA 2026