Malang - Puluhan nelayan di Pantai Sendang Biru, Kabupaten Malang, selama lima belas hari terakhir menghentikan aktivitas mencari ikan di laut akibat cuaca yang tidak kondusif dengan adanya gelombang tinggi di wilayah Laut Selatan. Ketua Paguyuban Nelayan Licin Jaya, Triono, Kamis mengatakan, pihaknya bersama 57 anggotanya sudah lima belas hari menghentikan aktivitas melaut, karena apabila dipaksakan akan membahayakan nelayan bersangkutan. "Kira-kira sudah 15 hari kami tidak melaut, karena kami sadari akan membahayakan diri sendiri, sebab gelombang tinggi yang terjadi di tengah laut selatan tidak bisa ditebak," katanya. Triono menjelaskan, selama menghentikan aktivitasnya melaut, sejumlah nelayan mengalihkan aktivitasnya dengan bertani dan melakukan sosialisasi terkait bahaya gelombang tinggi apabila dipaksakan melaut. "Kami berkumpul dengan rekan-rekan nelayan lain untuk mensosialisasikan terkait bahaya melaut apabila dipaksakan, sebab kejadian nelayan hilang sering terjadi pada saat gelombang tinggi," katanya. Sementara itu, pihaknya bersama paguyuban nelayan lain di wilayah Sendang Biru berencana melaporkan kondisi terakhir para nelayan yang tidak melaut akibat cuaca kepada Pemkab Malang, untuk mendapatkan bantuan. "Kita akan laporkan kondisi terakhir terkait hal ini kepada Pemkab Malang, dan ini biasa terjadi setiap tahun, apabila nelayan tidak melaut maka pemkab akan memberikan bantuan," katanya. Sebelumnya, Kepala Seksi Observasi, Informasi dan Analisa BMKG Karangploso, Rahmatulloh Adjie SP meminta agar nelayan di wilayah Sendang Biru untuk mewaspadi adanya gelombang tinggi, karena bisa mengakibatkan badai dan membahayakan bagi nelayan. Adji mengatakan, kecepatan angin yang rata-rata mencapai 5 hingga 35 km/jam atau bahkan lebih, bisa mengakibatkan gelombang setinggi 2 meter dan terjadi badai di wilayah Laut Selatan. "Untuk itu, kami minta nelayan untuk tetap waspada terjadinya gelombang tinggi tersebut, karena sangat membahayakan," katanya.(*)


Editor : FAROCHA
COPYRIGHT © ANTARA 2026