Surabaya - Pengprov Taekwondo Indonesia Jawa Timur harus merelakan atletnya tergusur dari program pemusatan latihan daerah proyeksi PON 2012, setelah gagal merebut medali emas pada Kejurnas sekaligus Pra-PON di Riau, 15-18 Desember 2011.
Manajer Tim Taekwondo Jatim Stevanus Sumartono ketika dihubungi wartawan di Surabaya, Senin, mengemukakan bahwa waktu persiapan yang minim menjadi salah satu penyebab kegagalan atletnya meraih medali emas.
"Selain itu, peta kekuatan atlet dari daerah sudah merata. Tapi, seluruh atlet sudah memberikan penampilan terbaik selama kejurnas," katanya.
Pada kejurnas tersebut, Jatim hanya mampu membawa pulang satu medali perak melalui Catur Yuni yang berlaga di kelas -73 kg putri dan Agung Yulianto merebut perunggu di kelas +87 kg putra.
Kendati gagal merebut emas, Catur Yuni dan Agung Yulianto, serta enam atlet Jatim lainnya berhak lolos kualifikasi dan mengantongi tiket PON 2012.
Namun, sesuai regulasi KONI Jatim, taekwondo sudah pasti tergusur dari program Puslatda proyeksi PON 2012, karena tidak mampu merebut medali emas sebagai persyaratan utama.
Hal sama juga dialami beberapa cabang olahraga yang lebih dulu gagal di kejurnas, seperti biliar, tinju, voli pantai dan bridge.
"Regulasi Puslatda tidak bisa diganggu gugat, tetapi sampai saat ini kami belum menerima laporan resmi soal hasil kejurnas taekwondo," kata Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi KONI Jatim Irmantara Subagio.
Stevanus menambahkan, konflik internal organisasi berkepanjangan sangat berdampak terhadap persiapan atlet, termasuk terjadinya pergantian pelatih puslatda hanya dua bulan menjelang kejurnas.
Pengprov TI Jatim mengontrak pelatih baru asal Jawa Barat, Pino Indra Setiawan, untuk menggantikan posisi M Kirom yang mengundurkan diri karena ketidakcocokan dengan pengurus baru.
"Kami tidak mencari alasan atas kegagalan ini, tapi memang situasi yang kami hadapi sepanjang tahun ini memang seperti itu," tambahnya. (*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.